
Palembang, SumselSatu.com
Sumatera Selatan masih tercatat sebagai salah satu provinsi dengan prevalensi penyalahgunaan Narkoba yang cukup tinggi secara nasional.
“Kami berharap angka tersebut saat ini sudah mengalami penurunan,” ujar Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumsel Brigjen Pol Hisar Siallagan, merujuk pada hasil survei enam tahun lalu.
Hisar menyampaikan, pemusnahan barang bukti tersebut merupakan bagian dari upaya bersama memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba di Sumsel, guna memperkuat perlindungan masyarakat, khususnya generasi muda, dari bahaya Narkotika.
Menghadapi tingginya angka prevalensi tersebut, BNNP Sumsel terus menggencarkan langkah pemberantasan. Sepanjang 2026, pihaknya berhasil mengungkap dan menyita sekitar 65 kilogram sabu beserta sejumlah barang bukti narkotika lainnya. Capaian ini melampaui hasil 2025, di mana BNNP Sumsel menyita sekitar 29 kilogram sabu dan 20 ribu butir ekstasi.
Meski demikian, Hisar menegaskan, keberhasilan pengungkapan kasus Narkoba tidak semata diukur dari banyaknya barang bukti yang disita, melainkan dari kemampuan membongkar jaringan peredaran gelap secara menyeluruh.
BNNP Sumsel, kata dia, bekerja berdasarkan data intelijen, informasi masyarakat, serta analisis jaringan untuk memastikan para pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum.
Ia menyebut, tingginya prevalensi penyalahgunaan Narkoba di Sumsel menjadi alasan mengapa pemberantasan bandar dan jaringan utama peredaran membutuhkan proses panjang. Sebab, para pelaku terus mengembangkan pola dan kemampuan baru untuk menghindari penindakan.
“BNNP bersama aparat penegak hukum terus melakukan pendalaman dan penelusuran terhadap jaringan serta aliran dana Narkoba di wilayah Sumsel,” ujar Hisar saat menyampaikan keterangan terkait pemusnahan barang bukti Narkotika di Palembang, Kamis (17/9/2026).
Menurut Hisar, penyitaan puluhan kilogram Narkotika memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar nilai ekonominya. Barang bukti yang berhasil diamankan berarti mencegah Narkoba beredar dan dikonsumsi masyarakat, khususnya generasi muda, yang berpotensi merusak kesehatan, produktivitas, serta kualitas sumber daya manusia Sumsel ke depan.
Di akhir keterangannya, ia mengajak seluruh pihak untuk tidak berhenti memerangi peredaran Narkoba di Sumsel. Kritik dan komentar masyarakat, termasuk terkait pengungkapan jaringan Narkoba, disebutnya sebagai motivasi untuk terus meningkatkan kinerja pemberantasan.
“Kita tidak akan berhenti. Para bandar dan jaringan Narkoba, cepat atau lambat, akan terus kami kejar dan proses sesuai hukum,” tegasnya. #fly









