Kemiskinan Palembang Turun ke 8,35 Persen, Masuk Tiga Terendah di Sumsel Versi Data Resmi BPS Maret 2026

KEMISKINAN---Infografis Profil Kemiskinan Kota Palembang Maret 2026. (FOTO: BPS Kota Palembang).

Palembang, SumselSatu.com

Angka kemiskinan Kota Palembang terus menurun. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang merilis data kemiskinan terbaru per Maret 2026, dan Palembang berhasil menempati posisi ketiga sebagai kota dengan persentase kemiskinan terendah di Provinsi Sumatera Selatan.

Data tersebut dikutip dari publikasi BPS yang diolah GoodStats. Rata-rata persentase penduduk miskin di Sumatera Selatan sendiri masih berada di angka 10,15 persen pada September 2025, sedangkan secara nasional angka kemiskinan Indonesia tercatat 8,25 persen.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Palembang Kemas Haikal saat dikonfirmasi terkait rilis Profil Kemiskinan Kota Palembang Maret 2026, menyebut adanya penurunan angka kemiskinan di kota tertua di Indonesia ini.

“Berdasarkan data resmi BPS Kota Palembang per Maret 2026, persentase penduduk miskin Kota Palembang turun signifikan menjadi 8,35 persen. Ini turun 0,69 poin dibandingkan Maret 2025 yang masih di angka 9,04 persen. Dengan capaian ini, Palembang menempati posisi ketiga terendah se-Sumsel,” ujar Kemas Haikal, Sabtu (17/10/2026).

Dari data itu, posisi pertama masih ditempati Kota Pagar Alam dengan 7,12 persen (turun dari 7,70 persen di 2025), disusul Kabupaten Banyuasin 8,28 persen (turun dari 8,48 persen di 2025), dan ketiga Kota Palembang dengan 8,35 persen.

“Ini bukti bahwa program penanggulangan kemiskinan yang dijalankan Pemerintah Kota Palembang bersama seluruh stakeholder berjalan efektif dan tepat sasaran,” tegas Haikal.

Lebih lanjut, Haikal menjelaskan bahwa data BPS tidak hanya menunjukkan berkurangnya jumlah penduduk miskin, tetapi juga perbaikan kualitas hidup penduduk miskin itu sendiri. Hal ini terlihat dari dua indikator utama.

Indikator pertama adalah Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) sebesar 1,22. Haikal menjelaskan, angka ini menurun 0,18 poin dari Maret 2025 menjadi 1,22 pada Maret 2026.

“Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk miskin semakin dekat ke Garis Kemiskinan. Artinya, mereka semakin sejahtera,” katanya.

Indikator kedua adalah Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) sebesar 0,27.

“Angka ini menurun 0,05 poin dari Maret 2025 menjadi 0,27 pada Maret 2026. Ini menunjukkan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin itu sendiri semakin mengecil dan semakin merata,” jelas Haikal.

Berikut perbandingan persentase kemiskinan kabupaten/kota di Sumsel berdasarkan data BPS yang dikutip Diskominfo. Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) turun dari 10,08 persen pada 2025 menjadi 9,48 persen pada 2026. Ogan Komering Ilir (OKI) dari 11,84 persen menjadi 11,48 persen, Muara Enim dari 9,45 persen menjadi 8,98 persen, dan Lahat dari 11,63 persen menjadi 11,04 persen.

Musi Rawas turun dari 12,68 persen menjadi 12,59 persen, sementara Musi Banyuasin dari 9,97 persen menjadi 9,07 persen. Banyuasin tercatat turun dari 8,48 persen menjadi 8,28 persen, OKU Selatan dari 9,17 persen menjadi 8,89 persen, dan OKU Timur dari 8,86 persen menjadi 8,55 persen.

Adapun Ogan Ilir turun dari 11,69 persen menjadi 11,01 persen, Empat Lawang dari 10,48 persen menjadi 10,29 persen, dan PALI dari 9,26 persen menjadi 8,86 persen. Musi Rawas Utara (Muratara) mencatat penurunan paling tajam, dari 15,25 persen menjadi 11,70 persen.

Untuk kota, Palembang turun dari 9,04 persen menjadi 8,35 persen, Prabumulih dari 9,75 persen menjadi 9,37 persen, dan Pagar Alam dari 7,70 persen menjadi 7,12 persen. #ari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here