
Palembang, SumselSatu.com
Biaya pemasangan pipa dari rumah atau kantor Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Sei Selayur masih terbilang cukup mahal.
“Biaya pemasangan untuk rumah atau perkantoran cukup mahal, Rp25 Juta per SR (sambungan rumah-red),” ujar Walikota Palembang Harnojoyo usai meninjau IPAL Sei Selayur, Kamis (10/8/2023).
Untuk saat ini baru ujicoba, dan untuk beroperasi harus terpasang 100 SR dan itu menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota (Pemko) Palembang dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel).
“Karena biayanya mahal, kita anggarkan tahun ini Rp15 miliar dan tahun depan Rp50 miliar, begitu juga Pemprov Sumsel,” katanya.
Seperti diketahui, IPAL Sei Selayur akan melayani beberapa kawasan tertentu di antaranya Jalan Merdeka, Rusun 26 Ilir, PIM, Pasar 16 Ilir, Dempo, Kuto, Pusri hingga Kalidoni.
Harnojoyo mengatakan, diharapkan masyarakat bisa berpartisipasi karena dengan dipasang IPAL lingkungan akan bebas dari limbah terutama kawasan pinggiran sungai.
Hanya tiga kota yang melakukan pembangunan IPAL ini, Palembang, Makassar dan Pekanbaru. Di mana dua kota ini dalam pembangunannya menggunakan pinjaman dana.
“Palembang Alhamdulillah dapat hibah dari Australia dan Kementerian PUPR, total Rp1,6 triliun,” katanya.
Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, pembangunan IPAL bukan hanya secara konstruksi di atas lahan seluas 5,8 hektar saja, tapi hubungan baik antarnegara, Indonesia dan Australia.
“Ini jadi tanggungjawab kita semua untuk mengajak masyarakat hidup bersih,” katanya.
Sudah Diujicoba
Pembangunan IPAL Sei Selayur dilakukan uji coba atau comisioning, Kamis (10/8/2023), setelah proses pembangunan sejak 2017.
Untuk ujicoba IPAL ini, baru dipasang 15 SR, dari seharusnya 100 SR yang jadi tanggung jawab awal Pemko Palembang agar bangunan senilai Rp1,6 triliun ini benar-benar operasional.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono secara langsung melihat progres IPAL Sei Selayur Palembang. Kunjungan yang disertai Duta Besar Australia itu selain mengamati perkembangan pembangunan tersebut, Palembang merupakan salah satu kota yang mendapatkan batuan hibah dari Australia serta berkolaborasi dengan dana Pemerintah Pusat, Pemprov Sumsel dan Pemko Palembang.
Basuki mengatakan, ada sekitar 100 ribu kapasitas sambungan rumah yang bisa dilayani dari IPAL. Indonesia hanya ada sedikit kota yang memiliki IPAL. Di antaranya Makasar, Pekanbaru, Palembang dan Jakarta. Tujuannya menciptakan kota yang sehat dan bersih. Ia juga menghitung dana tersebut dari dana hibah Australia sebanyak Rp600 miliar dan Rp640 miliar lebih dari APBN.
“Australia membangun ini (IPAL), APBN membuat pipa distribusi dan transmisi, arterinya tersiernya. Nanti gubernur dan walikota itu sambungan rumahnya. Jadi ini kolaborasi yang baik sekali,” katanya.
Setelah beroperasi penuh nantinya, IPAL Palembang dapat melayani lebih dari 100,000 orang dengan maksimal 22,000 sambungan (rumah tangga, niaga, kantor).
Namun untuk tahap awal, IPAL Palembang yang dibangun di atas lahan seluas 5,8 hektar itu akan menyediakan 8000 sambungan dan memberikan manfaat bagi 40,000 orang.
“Jadi yang dari WC, dari rumah tangga maupun dari kantor maupun dari komersial restoran itu akan dibawa ke sini secara piping. Totalnya ada 100,000 kapasitas sambungan rumah yang bisa dilayani dari IPAL Ini,” ujarnya.
Basuki berharap proyek IPAL Palembang akan semakin memperkuat ekonomi strategis antara Indonesia dan Australia. Selain itu, tujuan utamanya tak lain untuk menyediakan sanitasi dan air bersih bagi masyarakat.
Duta Besar Australia Penny Willams mengatakan, pembangunan IPAL merupakan contoh konkrit kerja sama yang baik antara kedua negara dalam bidang kesehatan dan lingkungan.
“Ini adalah contoh konkrit dalam program kemitraan pembangunan antara Australia dan Indonesia yang akan membantu dalam bidang kesehatan dan juga lingkungan,” katanya. #ari