Polemik Lafaz Nabi Muhammad di Atas Teratai BAM, DPRD Palembang: Sangat Sensitif dan Tidak Tepat

Penempatan lafaz Nabi Muhammad SAW di atas simbol teratai tersebut tidak sinkron dengan nilai historis kawasan Palembang Darussalam yang kental dengan nuansa Islam.

Bundaran Air Mancur Palembang. (FOTO: SS 1/IST).

Palembang, SumselSatu.com

Revitalisasi Bundaran Air Mancur (BAM) Palembang kembali memicu kontroversi. Lembaga Kajian Pembangunan Sumatera Selatan (LKPSS) memberikan sorotan tajam terkait penempatan lafaz Nabi Muhammad SAW di atas ornamen bunga teratai yang dinilai bermasalah secara historis, estetika, hingga sensitivitas keagamaan.

Persoalan ini mencuat dalam audiensi LKPSS bersama Ketua DPRD Kota Palembang, Ali Subri, dan Ketua Komisi II, Ilyas Hasbullah, pada Selasa (3/2/2026).

Ketua LKPSS Dr Ir H Rahidin H Anang, MS, menyatakan bahwa audiensi ini merupakan langkah untuk menyampaikan kegelisahan masyarakat yang selama ini belum direspons secara jelas oleh pihak berwenang.

“Sejak awal revitalisasi BAM ini dilakukan, kritik dan saran sudah banyak bermunculan. Namun, hingga kini tidak ada kejelasan tindak lanjutnya,” ujar Rahidin.

Ia menyoroti secara khusus sakralitas simbol keagamaan yang ditempatkan di ruang publik.

“Yang mengejutkan, pihak DPRD Palembang ternyata tidak mengetahui adanya lafaz Nabi Muhammad di atas bunga teratai tersebut. Kami mempertanyakan siapa desainer dan siapa yang memberi kewenangan atas desain tersebut,” tegasnya.

Potensi “Kecelakaan Sejarah”

Anggota LKPSS sekaligus pakar arsitektur dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Prof Zuber menilai proyek ini berisiko menimbulkan “kecelakaan sejarah” di titik nol Kota Palembang. Menurut kajiannya, terjadi pergeseran makna simbolik yang signifikan.

“Bunga yang awalnya adalah Cempaka Telok identitas khas Palembang, berubah menjadi bunga teratai yang secara visual identik dengan simbol kejayaan Sriwijaya dan agama Buddha,” jelas Zuber.

Ia menekankan bahwa penempatan lafaz Nabi Muhammad SAW di atas simbol teratai tersebut tidak sinkron dengan nilai historis kawasan Palembang Darussalam yang kental dengan nuansa Islam. Selain itu, konsep air mancur menari dengan lampu warna-warni dinilai kurang etis karena letaknya yang berdampingan dengan Masjid Agung Palembang yang membutuhkan suasana khusyuk.

Respons DPRD Kota Palembang

Menanggapi laporan tersebut, Ketua DPRD Kota Palembang Ali Subri mengaku terkejut karena pihaknya tidak dilibatkan dalam proses perencanaan teknis.

“Kami berterima kasih atas masukan ini. Jujur saja, saya baru tahu ada ornamen teratai dan tulisan Nabi Muhammad di sana. Karena proyek ini menggunakan dana bantuan gubernur, pelaksanaannya sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan,” ungkap Ali.

Senada dengan Ali, Ketua Komisi II DPRD Palembang Ilyas Hasbullah menilai penempatan simbol suci di ruang publik seperti air mancur tidaklah tepat.

“Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sangat mulia. Tidak pantas lafaz beliau ditempatkan di atas air mancur yang terbuka untuk umum. Tempat yang layak adalah di masjid atau musala,” tegas Ilyas.

Ia menyarankan agar ornamen BAM lebih menonjolkan kearifan lokal seperti motif Songket, Jumputan, atau ikon kuliner seperti Pempek, daripada menggunakan simbol agama yang sensitif.

“DPRD akan segera menindaklanjuti masukan ini dan meminta instansi terkait seperti Dinas Pariwisata, PUPR, dan Perkim untuk duduk bersama membahas ulang desain ini agar tidak memicu kegaduhan sosial yang lebih luas,” katanya. #nti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here