Chairul di Mata Staf DPRD : Orang Baik, Meski Sering Diterpa Isu Negatif!

Marlina Suzana foto bersama Chairul S Matdiah. (FOTO: SS 1/IST).

Palembang, SumselSatu.com

Marlina Suzana tidak akan melupakan awal perkenalannya dengan sosok H Chairul S Matdiah, SH, MHKes, pada pertengahan Juli 2017.

Rasa khawatir dan takut sempat berkecamuk dalam pikirannya, karena banyak informasi negatif tentang sosok Chairul S Matdiah. Tapi, semua terbantahkan saat ia bersama suami Ralhan Al Ilham diundang secara pribadi di kediaman Chairul S Matdiah.

“Pada pertengahan Juli 2017 saya ditugaskan Sekretaris DPRD Sumsel Ramadhan S Basyeban, SH, MM, untuk menjadi salahsatu staf pak Chairul S Matdiah. Saat itu beliau adalah salahsatu pimpinan DPRD Sumsel,” ujar perempuan yang biasa disapa Lina saat dibincangi, Jumat (19/7/2024).

Lina bersama keluarga Chairul S Matdiah.

Lina tidak menampik sempat takut dan khawatir saat itu, karena banyak informasi yang menyebutkan jika Chairul S Matdiah adalah sosok yang bengis atau orang yang mudah marah.

“Banyak orang yang menyebut beliau bengis, dan tidak ada orang yang betah kerja dengan pak Chairul,” ujar Lina.

Namun, rasa takut itu dia tepis dan bertekad untuk mencoba bekerja dengan Chairul S Matdiah. Gayung pun bersambut, dia dan suaminya dipanggil secara pribadi untuk diperkenalkan dengan istri dan pihak keluarga Chairul S Matdiah.

“Saat pertemuan itu saya dikenalkan dengan istri, anak-anak dan adik pak Chairul yang biasa dipanggil Eluk, dan pada saat itu beliau dalam kondisi sakit parah.
Alhamdulillah tanggapan dari keluarga beliau sangat baik, terutama dari istri beliau Ibu Anisah Mardin,” katanya.

“Saya sangat mengucapkan terima kasih karena beliau melibatkan suami dan anak-anak saya dan menganggap kami bagian dari keluarga beliau,” sambung Lina.

Karena kedekatan tersebut, kata Lina, mulai muncul desas desus negatif tentang dirinya dan keberadaannya sebagai Staf Chairul S Matdiah.

“Ada yang memberi kode saya hal yang tidak benar, mareka tidak tahu bahwa staf beliau bukan hanya saya sendiri, ada ajudan, ada tenaga ahli, sopir dan staf administrasi,” katanya.

“Isu negatifnya, kok betah di sana? sedangkan selama ini tidak ada yang betah,” kenang Lina.

Seiring berjalannya waktu, penyakit infeksi ginjal yang dialami semakin parah dan setiap minggu harus cuci darah di Rumah Sakit Pondok Indah Kapuk Jakarta.

Alhamdulillah saat itu kami tetap kompak walaupun pak Chairul sering kritis, namun dapat kami atasi. Pada saat itu kondisi emosi beliau agak labil, terkadang beliau sangat marah, mungkin marah dengan saya namun beliau melampiaskan kemarahan dengan orang lain,” katanya.

“Selain itu, beliau sangat pelupa. Terkadang beliau melupakan barang berharga di ruangan atau di tempat tertentu, saya tidak tahu apakah beliau saat itu menguji kejujuran saya atau memang beliau lupa. Wallahualam Bissawab (Hanya Allah SWT yang maha mengetahui segalanya-red),” sambung Lina.

Lina menambahkan, ikut mendampingi saat mengurus administrasi persiapan dan pemerikasan cangkok ginjal di Mounth Elizabeth Hospital Singapura. Semua biaya mulai dari pembuatan paspor dan lain-lain dibiayai oleh pihak keluarga besar Chairul S Matdiah.

Pada saat itu, kata Lina, belum mendapat persetujuan pendonor oleh Pemerintah Singapura. Kondisi ini sempat membuat mereka putus asa. Akan tetapi, ada seorang kenalan yang menyarankan untuk menjalani operasi cangkok ginjal di Kamboja.

“Saat menjalani operasi cangkok ginjal di Kamboja saya tidak ikut mendampingi, akan tetapi kami ikut serta mengurus pascacangkok ginjal dan kemudian dirawat di Mount Elizabet Hospital,” katanya.

Kondisi yang dialami saat itu membuat orang-orang terdekat sedih karena kondisi kesehatan yang tidak mendukung dan sempat mengalami kritis yang luar biasa.

Alhamdulilah beliau bisa melewati masa kritis itu. Semangat beliau untuk hidup lebih lama memang luar biasa dan membuahkan hasil yang luar biasa. Syukur Alhamdulillah beliau dalam keadaan sehat sampai dengan sekarang,” katanya.

Meski dalam keadaan sakit, berjuang antara hidup dan mati, Chairul masih menyempatkan diri menghadiri undangan tanpa terkecuali, karena hal itu adalah suatu hiburan karena bisa bertemu dengan teman sejawat.

“Beliau sangat menghargai kejujuran dan keiklasan kita. Apabila kita ada masalah atau disudutkan oleh orang lain, beliau terdepan pasang badan untuk membela kita, itu tidak diragukan lagi,” katanya.

“Kebiasaan pak Chairul yang lain
selalu mengajak kami makan siang di luar walapun beliau tidak makan, melihat kami makan dengan lahap beliau senang dan selalu ditraktir. Sampai saat ini hubungan silaturahmi tetap terjaga dan semoga ke depan selalu terjalin. Aamiin Ya Rabbal Alamin,” Lina mengakhiri perbincangan. #fly

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here