Larangan Ekspor CPO Merugikan Petani

Larangan ekspor CPO dinilai merugikan petani dan tidak berimbas pada harga minyak goreng. (Foto: CNN Indonesia).

Palembang, SumselSatu.com

Larangan ekspor Crude Palm Oil (CPO) diminta tidak diterapkan terlalu lama karena dapat berpengaruh terhadap perekonomian daerah penghasil kelapa sawit tersebut.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Ahmad Rizali mengatakan, dampak larangan ekspor CPO tersebut terutama dirasakan petani yang menjual tandan buah segar (TBS). Kata dia, petani merasakan harga TBS turun, artinya ekonomi masyarakat yang mengolah kelapa sawit menurun.

Kepala Disdag Provinsi Sumsel Ahmad Rizali. (Foto: SS 1/Ari).

“Pemberlakuan larangan ekspor CPO pun hingga memasuki pekan kedua itu belum mampu menurunkan harga minyak goreng di pasaran,” kata Rizali, Rabu (11/5/2022).

Harga minyak goreng masih tinggi karena larangan ekspor CPO tidak otomatis berpengaruh terhadap harga minyak goreng. Saat ini harga minyak goreng di pasaran masih tinggi. Yakni, berkisar Rp23,000 per liter – Rp24,000 per liter.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, CPO masuk dalam lima besar komoditas yang memberikan andil terhadap ekspor nonmigas provinsi tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel Zulkipli mengatakan, ekspor CPO sepanjang triwulan I/2022 mencapai US$40,94 juta. CPO berkontribusi sebesar 2,94 persen atau menduduki peringkat keempat dalam nilai ekspor nonmigas Sumsel. Nilai ekspor CPO tersebut tercatat turun 34,59 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, senilai US$62,6 juta. #fly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here