Palembang, SumselSatu.com
Sejak beroperasi, bisa dikatakan light rail transit (LRT) belum bisa berjalan dengan kecepatan maksimal alias tak bisa ngebut. Hal tersebut disebabkan moda transportasi anyar ini selalu diserbu penumpang sehingga kapasitas angkut ideal terlampaui.
Manajemen PT INKA, Alit Darmawan, saat menerima kunjungan netizen, media, dan pihak stakeholder terkait di stasiun LRT Palembang, Minggu (19/8/2018), menjelaskan, untuk mencapai performa LRT 100 persen, harus dipatuhi ketentuan-ketentuan sesuai aturan, terutama terkait jumlah penumpang.

Diketahui, jumlah penumpang dalam satu gerbong LRT idealnya sekitar 300 penumpang. Kelebihan penumpang hingga 400 orang masih bisa ditolerir. “Tapi kita tidak bisa mengizinkan kereta dinaiki lebih dari 500 penumpang,” tegas Alit Darmawan.
Terkait kapasitas angkut, Alit sendiri mengaku, kondisi di lapangan pihaknya susah untuk mendeteksi berapa penumpang yang sudah masuk ke LRT. Sarana transportasi ini pun terbuka untuk umum, mulai dari kalangan masyarakat menengah ke bawah hingga kalangan atas.
Direktur Politeknik Unsri (Polsri) Dr Ing Ahmad Taqwa, MT yang juga hadir pada pertemuan ini, mengatakan, dirinya mengapresiasi PT INKA yang telah memproduksi LRT.
“Kita mengapresiasi pihak INKA karena semua produk anak negeri dipakai di LRT, bahwa Bangladesh, Zimbabwe, dan Australia menggunakan produk PT INKA,” kata Ahmad Taqwa.
Sekilas dia pun menceritakan kisah hadirnya LRT di Palembang yang begitu cepat. Berawal pada tahun 2014, ketika Palembang mendapat kepercayaan untuk menjadi penyelenggara Asian Games 2018, mendampingi Ibukota Jakarta. Sarana transportasi kota metropolitan pun dibangun pemerintah pusat untuk mendukung Asian Games di Palembang.
“Pengerjaan waktunya 2016. Pembangunan yang dilakukan Waskita Karya, yang harus dikebut walaupun masyarakat Palembang harus menerima kondisi macet ria atas pembangunan ini. Ini luar biasa, dan ini prestasi anak bangsa,” ujar dia.
Jika saat beroperasi ternyata LRT sempat mengalami mogok, Ahmad Taqwa menuturkan, pada awal Agustus, masyarakat diajak ujicoba LRT, sampai menjelang Asian Games digelar. Selama masa ujicoba memang merupakan tahap mencari titik-titik salah.
“Jika saat ujicoba kesalahannya tidak muncul, itu bahaya, artinya (titik kesalahan) tidak terdeteksi. Dengan adanya ujicoba itu semua faktor terjelek harus diuji, termasuk beban maksimum, kemarin mogok dan masyarakat kurang sosialisasi,” bebernya.
Taqwa tak menampik, mogoknya LRT beberapa hari sebelum Asian Games berlangsung, menjadi bahasan negatif. Hal ini terjadi karena sosialisasi internal memang sudah berjalan, namun tidak demikian halnya ke masyarakat dan kalangan pers. Termasuk bahwa ada jalur evakuasi yang sudah disiapkan dan aman untuk kasus darurat LRT. “Saya berharap masyarakat mendapat sosialisasi yang baik ,” kata Taqwa.
Terkait kapasitas LRT, Direktur Prasarana Perkeretaapian, Zamrides menegaskan, penumpang LRT harus dibatasi demi menjaga kondisi ideal agar jangan sampai LRT ada gangguan karena kelebihan penumpang .
“Kita berharap semua orang menjaga fasilitas LRT Palembang, terutama kebersihannya, keamanannya. Kalau ada yang macet beritahukan yang piket agar bisa diperbaiki teman-teman kontraktor,” katanya.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) LRT Palembang, Suranto menambahkan, mulai 19 Agustus sampai 2 September 2018, untuk angkutan Asian Games, pihaknya menyediakan satu gerbong, dari tiga gerbong yang ada, untuk peserta Asian Games. #nti