Untuk Bisa Memegang Jabatan Strategis, Kader PDIP Harus Ikut Pendidikan Kader Pratama

KADERISASI – Ketua DPD PDI Perjuangan Giri Ramanda N Kiemas saat diwawancara wartawan usai pembukaan pendidikan kader pratama sebagai langkah kaderisasi partai, Sabtu (3/11/2018), di Aula Asrama Haji Palembang. (FOTO: SS1/ANTON R FADLI)

Palembang, SumselSatu.com

Bagi kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan tidak mudah untuk bisa dipercaya memegang jabatan strategis. Mereka harus melalui beberapa jenjang pendidikan dimulai dari pendidikan kader pratama.

Untuk memberi bekal ilmu itulah, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Sumatera Selatan (Sumsel) menyelenggarakan pendidikan kader pratama yang dibuka oleh Ketua DPD PDI Perjuangan Sumsel Giri Ramanda N Kiemas, Sabtu (3/11/2018), di Aula Asrama Haji Palembang.

Pendidikan kader pratama dengan tema ‘Berideologi Syarat Mutlak Kader PDI Perjuangan’ ini diikuti 214 kader PDI Perjuangan dari seluruh kabupaten/kota di Sumsel dan akan berlangsung hingga Senin (5/11/2018).

Saat membuka kegiatan, Giri Ramanda menjelaskan, menjadi anggota PDI Perjuangan berbeda dengan menjadi kader PDI Perjuangan. Untuk menjadi anggota partai cukup membuat kartu anggota (KTA). Tahap selanjutnya, anggota harus mengikuti kaderisasi partai. Tahap kaderisasi ini diadakan sejak kongres tahun 2005.

“Karena untuk bisa menjadi kader PDI Perjuangan wajib mengikuti pendidikan kader pratama. Tujuannya agar kita paham tentang apa yang diperjuangkan. Kita punya kader partai. Kalian otot partai, untuk kerja, untuk mewujudkan cita-cita Bung Karno mewujudkan Indonesia Sejahtera,” kata Giri.

Menurut Giri, saat ini, anggota PDI Perjuangan Sumsel lebih dari 90 ribu orang. Sementara yang telah menjadi kader PDI Perjuangan Sumsel sekitar 1.400 orang.

Pada pendidikan kader pratama, peserta belajar mengenai ideologi PDI Perjuangan yakni Pancasila. Giri mengatakan, sejak kongres 2005, makin jelas jati diri PDI Perjuangan adalah Pancasila. Selain itu, peserta juga diberi materi tentang organisasi PDI Perjuangan.

“Di sinilah kita belajar organisasi. Ini tahap awal kader partai, duduk di sini menjadi kader partai. Untuk duduk di jabatan strategis harus melalui kaderisasi. Ikuti pendidikan ini dengan baik,  jadikan pendidikan ini untuk mencari ilmu,” kata Giri.

Giri menegaskan, kader PDI Perjuangan wajib mengikuti pendidikan ini. Bahkan, seluruh calon legislatif (caleg) dari PDI Perjuangan wajib ikut pendidikan kader pratama.

“Caleg harus mengerti ideologi PDIP, inilah fungsi kaderisasi PDI Perjuangan. Setelah pendidikan ini selesai, ada 1.400 kader PDI Perjuangan yang sudah menyelesaikan pendidikan kader pratama. Yang lulus di pendidikan ini, akan diikutkan ke pendidikan kader madya. Untuk yang mengikuti pendidikan hari ini caleg dari kabupaten dan kota di Sumsel,” katanya.

Menurut Giri,  Sumsel saat ini dikuasai PDI Perjuangan. Tinggal bagaimana seluruh anggota dan kader di lapangan bergerak.

“Kita harus bekerja  keras, kita bisa meraih 30 persen suara seperti yang diharapkan DPP PDI Perjuangan.  Semua daerah di Sumsel prioritas kita meraih suara. Kita bisa meraih target suara 30 persen, di sini kita atur strateginya,” kata Giri.

Giri menegaskan, pada pemilu 2019, target PDI Perjuangan adalah menang di pemilihan legislatif (pileg) dan menang di pemilihan presiden  (pilpres).

“Pak Jokowi adalah kader PDI Perjuangan. Bahkan Pak Jokowi sejak 2005 sudah jadi kader utama PDI Perjuangan. Jadi beliau kader kita, bukan orang lain. Kita harus berjuang penuh untuk Jokowi. Jangan lupa ketika kampanye di lapangan, kampanyekan Pak Jokowi dan Ma’ruf Amin,” paparnya.

Giri juga mengungkpkan,  untuk Sumsel, kader PDI Perjuangan dan koalisi siap memenangkan Jokowi. “Paling tidak kita memperoleh suara 50 persen + 1 untuk Pak Jokowi dan Ma’ruf Amin. Salah satu strateginya adalah sinergi dengan caleg-caleg, mereka menjadi jurkam Jokowi,” pungkasnya. #nti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here