
Palembang, SumselSatu.com
Kerapatan Adat Nagari Padang yang diketuai Datuk Sima Rajo mengunjungi kantor Dinas Kebudayaan Kota Palembang di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, Senin (10/12/2018).
Kedatangan ini dalam rangka silaturahmi dan pertukaran informasi mengenai persamaan serta perbedaan adat di masing-masing daerah.
Datuk Sima Rajo mengaku merasa senang dapat berkunjung ke Kota Palembang, di mana mereka bisa mengenal lebih dekat adat serta budaya di Kota Pempek ini. “Antara adat Padang dan Palembang tidak jauh beda karena sama satu suku Melayu,” ujarnya.
Dia menuturkan, suku Padang, Sumatera Barat, adalah suku yang mengutamakan adat istiadat. Misal dalam hal kepemimpinan, sebuah desa atau tempat, biasanya dipimpin oleh seorang Datuk.
Sementara dalam hal pernikahan, adat di Padang biasanya acara pernikahan diiringi musik daerah yang khas berupa saluang, yaitu alat musik berbentuk seruling.
Selain itu, ada satu daerah di Sumatera Barat yang menerapkan adat sedikit berbeda dalam hal pernikahan.
“Ada salah satu daerah di Pariaman, dalam adat lamaran, mempelai wanita yang memberikan mahar terhadap pria. Kemudian dalam adat istiadat silsilah pembagian harta warisan, anak wanita lebih dikedepankan daripada anak pria,” kata Datuk Sima Rajo.
Pemangku Adat Palembang, Raden Ali Hanafiah yang turut menerima rombongan dari Padang ini, berkata, secara keseluruhan dirinya sangat senang dikunjungi Datuk Sima Rajo karena dia pun bisa lebih mengenal budaya Padang.
Menurut Ali, sebuah kebudayaan atau budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, pakaian, bangunan, bahkan karya seni.
“Budaya ini seperti bahasa yang merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia, sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis,” ucapnya.
Dia berharap, silaturahmi ini bisa terjalin dengan erat, mengingat suku serta budaya Palembang tidak jauh berbeda dengan Padang lantaran sama-sama dari suku Melayu.
“Segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri,” tandasnya.
Kedatangan rombongan dari Kota Padang Panjang ini disambut dengan alunan musik tanjidor dan pemasangan tanjak oleh pemangku adat Palembang.
Selain itu, pihak Dinas Kebudayaan Palembang memberikan sajian khas Palembang berupa beragam kue, seperti dadar jiwo, srikaya, dan ragit. Dimana, dalam menyajikan ini mempunyai filosofi tersendiri yang mengagungkan tamu berkunjung. #nti