Palembang, SumselSatu.com
Statistik mentereng ternyata bukan jaminan kemenangan. Hal itulah yang kini dirasakan Sumsel United usai menelan hasil minor di dua laga terakhir.
Menjelang duel krusial melawan pemuncak klasemen Garudayaksa FC pada pekan ke-20, Minggu (22/2/2026) di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Laskar Juaro kini berharap naungan keberuntungan atau Dewi Fortuna.
Kekalahan 1-3 dari PSMS Medan pada pekan lalu menyisakan luka sekaligus keheranan. Di atas kertas, tim asuhan Nilmaizar unggul segalanya. Bermain spartan, Diego Dall’Oca dkk menguasai 70 persen penguasaan bola dan melepaskan 15 tembakan dengan 6 shot on target.
Akurasi operan mereka pun mencapai 88 persen (396 operan sukses). Bahkan, Laskar Juaro mendapatkan keuntungan dari skema bola mati melalui 12 tendangan bebas dan 5 tendangan sudut. Namun, agresivitas Juninho Cabral dkk seolah membentur tembok; hanya satu gol yang tercipta lewat aksi Diego Dall’Oca di menit ke-78.
Sebaliknya, PSMS Medan yang hanya menguasai 30 persen bola justru tampil sangat klinis. Dari 5 tembakan tepat sasaran, tiga di antaranya bersarang ke gawang Sumsel United. Efektivitas ini menjadi pembeda utama dalam laga tersebut.
Penyakit Mandul yang Berulang
Kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Pada pekan ke-18 saat menjamu Garudayaksa FC, Sumsel United juga mendominasi 62 persen penguasaan bola dan menciptakan 14 peluang, namun laga berakhir kacamata (0-0).
Pelatih Sumsel United Nilmaizar mengakui posisi timnya kini cukup sulit untuk mengejar selisih poin dari Garudayaksa FC dan Adhyaksa FC di papan atas.
“Kondisi kita saat ini cukup sulit, tapi kita tidak boleh menyerah. Kita akan terus berjuang hingga laga terakhir. Fokus utama kami adalah membenahi lini serang. Kita banyak menciptakan peluang, tapi minim gol. Ini tidak boleh terjadi lagi,” tegas Nilmaizar dengan nada serius.
Misi Mustahil Lawan Pemuncak Klasemen?
Menghadapi Garudayaksa FC akhir pekan nanti, taktik dan strategi saja dinilai tidak cukup. Nilmaizar harus memutar otak agar dominasi permainan anak asuhnya bisa dikonversi menjadi poin penuh.
Tanpa penyelesaian akhir yang tajam dan sedikit keberuntungan, penguasaan bola setinggi apa pun akan terasa sia-sia dalam misi mengamankan tiket menuju Super League musim depan. #fly











