
Palembang, SumselSatu.com
Di sudut Jalan Laksamana Yos Sudarso, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang, sebuah gerobak sederhana bernama Roti Bakar Merdeka berdiri. Tidak ada papan nama yang gemerlap atau strategi pemasaran yang muluk-muluk. Di sana, yang ada hanyalah aroma harum roti panggang yang hangat dan sosok Muhammad Alfian, pria yang sejak tahun 2021 setia berdiri di balik kemudi usahanya.
Bagi Alfian, gerobak itu adalah ruang hidupnya. Namun bagi tiga mahasiswi Program Studi Manajemen Universitas IBA Palembang, gerobak sederhana tersebut menjelma menjadi ruang kelas terbaik yang pernah mereka temui.
Pada akhir Mei lalu, Raden Ayu Frizilia, Ria Antika, dan Siti Mariam melangkah keluar dari zona nyaman bangku kuliah. Di bawah bimbingan dosen mereka, Ria Astri Yani, SE, MSi, ketiganya datang ke lapak Roti Bakar Merdeka dalam rangka tugas Mata Kuliah Kewirausahaan. Namun, apa yang mereka temukan di sana jauh melampaui lembar-lembar teori di dalam buku teks. Mereka menemukan sebuah kisah tentang ketulusan, kemandirian, dan konsistensi.
Sejak pertama kali berdiri, Roti Bakar Merdeka murni digerakkan oleh tenaga dan keringat Alfian sendiri. Tanpa seorang pun karyawan, ia melakoni seluruh peran secara bergantian. Menjadi pencatat keuangan di pagi hari, pemburu bahan baku di pasar, peracik rasa di sore hari, hingga menyapa langsung setiap pembeli yang datang hingga malam menjelang.
”Awalnya saya hanya ingin mempunyai usaha sendiri sekaligus menambah penghasilan,” tutur Alfian dengan senyum yang tulus saat dibincangi di lokasi usahanya.
“Sampai sekarang semua pekerjaan masih saya lakukan sendiri. Walaupun sederhana, saya berusaha menjaga kualitas supaya pelanggan tetap datang,” tambahnya.
Prinsip Alfian sederhana namun mendalam. Ia tidak sekadar menjual makanan, ia sedang merawat kepercayaan. Dedikasi satu pasang tangan (bekerja sendirian) ini terbukti membuahkan hasil.
Meski tanpa strategi promosi modern dan hanya mengandalkan kebaikan hati pelanggan yang bercerita dari mulut ke mulut (word of mouth), gerobak ini mampu meraup omzet rata-rata Rp200.000 per hari atau sekitar Rp6 juta setiap bulannya. Sebuah bukti nyata bahwa ketika rasa dijaga dengan ketulusan, rezeki akan menemukan jalannya sendiri.
Cara tersebut dinilai cukup efektif karena sebagian besar pelanggan baru mengetahui usaha tersebut dari keluarga, teman, atau kerabat yang pernah membeli sebelumnya.
“Saya belum terlalu aktif menggunakan media sosial. Selama ini pelanggan baru lebih banyak datang karena mendapat rekomendasi dari pelanggan lama. Alhamdulillah, cara itu masih cukup membantu usaha saya,” katanya.
Namun, realitas di lapangan tidak selalu mulus. Selama observasi berlangsung, para mahasiswa melihat langsung bagaimana keterbatasan tenaga kerja menjadi dinding pembatas bagi usaha Alfian. Ketika pesanan mulai mengular, satu pasang tangan Alfian harus berpacu dengan waktu, yang secara tidak langsung membatasi kapasitas produksinya. Belum lagi bayang-bayang fluktuasi harga bahan baku serta ketatnya persaingan kuliner serupa.
Melihat perjuangan sunyi tersebut, tim mahasiswi Universitas IBA mencoba mengulurkan pemikiran strategis yang humanis. Mereka tidak datang untuk menggurui, melainkan menawarkan solusi pelengkap bagi masa depan Roti Bakar Merdeka.
Mahasiswi merekomendasikan agar Alfian mulai perlahan merambah dunia digital. Mulai dari memanfaatkan media sosial untuk mengenalkan kehangatan roti bakarnya ke ranah yang lebih luas, hingga bermitra dengan layanan pemesanan makanan daring. Langkah ini diharapkan mampu menjadi sarana promisi yang dapat memperluas jangkauan pasar tanpa menghilangkan sentuhan personal rasa yang selama ini menjadi ‘nyawa’ usaha Alfian.
Malam itu, di pinggir jalan yang bising oleh lalu lalang kendaraan, sebuah perubahan cara pandang terjadi pada diri para mahasiswa. Ilmu Manajemen yang selama ini terasa kaku di dalam ruang kelas, seketika luruh dan menjadi hidup di depan gerobak Roti Bakar Merdeka.
”Selama ini kami mempelajari teori kewirausahaan melalui buku dan perkuliahan. Ketika terjun langsung ke lapangan, kami bisa melihat bagaimana pelaku UMKM menghadapi persoalan usaha setiap hari,” ungkap Raden Ayu Frizilia, membagikan kesannya dengan penuh rasa kagum.
“Pengalaman ini membuat kami lebih memahami bahwa keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha membaca peluang dan menyesuaikan diri dengan perubahan pasar,” tambahnya.
Melalui kegiatan observasi ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman penelitian lapangan, tetapi juga berupaya memberikan kontribusi nyata melalui rekomendasi yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk terlibat langsung dalam memahami dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro.
Bagi Raden Ayu dan rekan-rekannya, perjalanan malam itu menyadarkan mereka bahwa keberhasilan sebuah usaha tidak hanya dihitung dari canggihnya rumus pemasaran atau besarnya modal, melainkan dari ketangguhan mental, kejelian membaca peluang, dan keberanian untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Roti Bakar Merdeka telah berhasil menjalankan dua peran hebat sekaligus. Memanjakan lidah dan menyuapi para pelanggan setianya dengan rasa yang konsisten, sembari menanamkan inspirasi nyata ke dalam jiwa generasi muda yang kelak akan ikut menggerakkan roda ekonomi bangsa. *
(Ditulis oleh Raden Ayu Frizilia,
Ria Antika dan Siti Mariam/Mahasiswi Mata Kuliah Kewirausahaan, Program Studi Manajemen, Universitas IBA Palembang).









