
Palembang, SumselSatu.com
Pagi belum sepenuhnya benderang di kawasan Suka Maju, Kecamatan Sako, Palembang. Namun, di sebuah rumah di Jalan Rawa Gabus 7 Nomor 5, ritme kehidupan sudah dimulai lebih awal. Bukan oleh bising mesin pabrik atau deru kendaraan, melainkan oleh simfoni tenang yang berasal dari gemercik air yang saling bersahutan.
Di halaman yang tak terlalu luas itu, berjajar rapi wadah-wadah plastik dan kolam sederhana yang dipenuhi air jernih. Jika mendekat dan melihat ke dalam, lambaian antena kecil dan kilau warna biru safir yang mencolok akan menyapa mata. Di sanalah, ribuan lobster air tawar jenis Cherax quadricarinatus sedang menggeliat, tumbuh, dan perlahan mengubah nasib pemiliknya.
Tempat ini bernama IKIFARM LOBSTER. Sebuah nama mentereng untuk sebuah usaha yang justru lahir dari kesederhanaan, ketekunan, dan sebuah hobi yang telaten dirawat dari nol.
Bagi sebagian orang, memelihara lobster hias mungkin hanya sekadar pelipur penat di kala senggang. Begitu pula awalnya bagi sang pemilik IKIFARM. Namun, ada titik di mana rasa kagum terhadap hewan bercapit merah merona pada jantan dewasa ini berubah menjadi sebuah visi bisnis.
IKIFARM LOBSTER telah berkembang menjadi sebuah unit usaha yang melayani berbagai segmen pasar, dari restoran kecil yang membutuhkan bahan baku segar, hingga para penghobi akuarium yang menginginkan lobster hias berkualitas.
Muhammad Riski Purnama Ramadan, Pemilik IKIFARM LOBSTER mengatakan, di Kota Palembang yang selama ini lebih dikenal dengan usaha kuliner dan perdagangan, kehadiran IKIFARM LOBSTER menjadi sesuatu yang cukup unik. Tidak banyak pelaku usaha di kota ini yang serius menggarap sektor budidaya lobster air tawar dan justru di situlah letak keunggulan kompetitif usaha ini.
Riski mengatakan, perjalanan IKIFARM LOBSTER tidak dimulai dari kalkulasi bisnis yang matang atau modal besar. Usaha ini lahir dari ketertarikan mendalam pemiliknya terhadap dunia akuakultur (budaya organisme air), khususnya lobster air tawar yang mulai populer di kalangan peternak dan hobiis di berbagai daerah Indonesia.
”Awalnya memang cuma suka saja sama lobster ini. Terus lihat potensinya di Palembang belum banyak yang garap, ya sudah, dicoba serius,” kenang Riski dengan senyum sumringah.
Perjalanan dari hobi menjadi usaha tentu tidak instan. Sang pemilik harus melewati fase eksperimen yang melelahkan, memahami karakter air yang ideal, meracik nutrisi, hingga memutar otak bagaimana cara menekan angka kematian lobster jantan bercapit merah itu. Kini, kerja keras itu terbayar. Kolam-kolam produksi yang terus beroperasi memenuhi permintaan pasar.
Produk yang ditawarkan pun beragam. Lobster hidup siap konsumsi dijual per kilogram, indukan untuk peternak lain yang ingin memulai budidaya, hingga anakan (burayak) bagi para hobiis akuarium (penghobi akuarium) yang ingin membesarkan lobster sendiri.
Salah satu keunikan IKIFARM LOBSTER adalah kelenturannya dalam membidik pasar. Ketika banyak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tumbang karena hanya bergantung pada satu jenis konsumen, IKIFARM justru berhasil menancapkan kaki di tiga segmen sekaligus.
Pertama adalah konsumen rumahan dan restoran kecil yang membutuhkan lobster segar sebagai bahan masakan. Kedua adalah kalangan hobiis akuarium atau komunitas yang terus berkembang di Indonesia yang mencari lobster air tawar untuk dipelihara sebagai hewan hias. Dan ketiga adalah calon peternak yang ingin memulai budidaya lobster sendiri dan membutuhkan indukan atau anakan berkualitas.
”Pembelinya macam-macam. Ada yang beli buat dimakan, ada yang buat dipelihara di akuarium, ada juga yang mau mulai ternak sendiri. Lumayan ramai sebenarnya,” tambahnya.
Keberagaman segmen ini mencerminkan fleksibilitas usaha yang tidak dimiliki oleh semua UMKM. Namun di sisi lain, masing-masing segmen membutuhkan pendekatan yang berbeda baik dalam hal pengemasan, penetapan harga, maupun cara komunikasi pemasaran.
Kerikil Dalam Melangkah: Modal, Legalitas, dan Era Digital
Meski potensinya menggiurkan, langkah kaki IKIFARM LOBSTER belum sepenuhnya mulus. Sebagai usaha skala mikro, mereka masih menabrak tembok klasik yang sering dihadapi UMKM Indonesia.
Masalah utama ada pada keterbatasan modal. Sang pemilik bermimpi menambah kolam dan meningkatkan sistem aerasi (proses penambahan oksigen ke dalam air),
atau membeli peralatan yang lebih baik diperlukan investasi yang tidak kecil, namun terbentur akses perbankan karena belum memiliki dokumen legalitas, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB).
Pemasaran digital juga menjadi titik lemah yang perlu segera dibenahi. Meskipun sudah memanfaatkan media sosial, aktivitasnya masih sangat sporadis (tidak teratur) dan tidak terencana. Jangkauan promosi masih sangat lokal dan bergantung pada jaringan pertemanan. Padahal potensi pasar lobster air tawar secara nasional, terutama melalui platform e-commerce (perdagangan elekteonik) masih sangat terbuka lebar.
Selain itu, dari sisi pengelolaan keuangan, belum ada pemisahan yang jelas antara keuangan usaha dan keuangan rumah tangga. Pencatatan dilakukan secara manual dan tidak konsisten sebuah kondisi yang umum di UMKM mikro, tapi menjadi hambatan serius ketika ingin mengakses kredit usaha.
Bagaimanapun jalannya nanti, sang pemilik IKIFARM tetap menatap masa depan dengan mata berbinar. Baginya, gang sempit di Sako bukan halangan untuk bermimpi besar.
”Semoga ke depannya bisa lebih besar lagi. Mau tambah kolam, mau lebih serius di pemasaran online. Palembang itu pasarnya besar, tinggal kita yang harus lebih pintar menjangkaunya,” kata Riski optimis.
Solusi Lewat Selembar NIB
Melihat kondisi ini, Mulyadi, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas IBA Palembang, memberikan pandangannya agar
IKIFARM LOBSTER bisa “naik kelas”. Kuncinya sederhana, keberanian untuk melegalkan usaha.
Dengan mengurus NIB secara gratis melalui sistem Online Single Submission (OSS), IKIFARM LOBSTER bisa langsung mengetuk pintu bank BUMN untuk mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga rendah. Modal inilah yang nantinya bisa digunakan untuk memoles strategi pemasaran digital di Instagram atau TikTok.
”UMKM seperti ini punya potensi besar. Yang dibutuhkan bukan selalu modal besar, tapi strategi yang tepat dan dukungan dari berbagai pihak, pemerintah, lembaga keuangan, maupun komunitas pelaku usaha,” ujar Mulyadi.
Menurutnya, tingkat persaingan di segmen budidaya lobster air tawar di Palembang masih sangat rendah, dan tidak banyak UMKM yang serius menggarap pasar ini.
Selain itu, tren gaya hidup sehat yang mendorong konsumsi protein berkualitas juga menjadi angin segar. Lobster air tawar yang kaya protein dan rendah lemak semakin diminati sebagai alternatif seafood yang lebih terjangkau dibanding lobster laut. Sementara di segmen hobiis, komunitas pecinta akuarium dan aquascape (seni menata akuarium) terus berkembang di kota-kota besar Indonesia, termasuk Palembang.
Potensi ekspansi ke pasar digital nasional pun masih sangat terbuka. Dengan mendaftarkan produk di marketplace seperti Tokopedia atau Shopee, IKIFARM LOBSTER bisa menjangkau pelanggan di luar Palembang sebuah langkah yang sejauh ini belum dilakukan.
IKIFARM LOBSTER telah menuntaskan tugas pertamanya membuktikan bahwa hobi mampu tumbuh menjadi bisnis yang bernilai dari titik nol. Kini, babak baru telah menanti. Kelanjutan kisah sukses dari gang sempit di Kecamatan Sako ini tidak lagi menjadi pundak sang pemilik semata, melainkan menjadi undangan terbuka bagi pemerintah daerah dan lembaga keuangan untuk hadir, menyokong, dan menerbangkan potensi lokal ini menuju panggung yang lebih tinggi.
(Ditulis oleh Mulyadi, Yuda Dwi Jaya dan Mita Febri Apriyani/Mahasiswa Mata Kuliah Kewirausahaan, Program Studi Manajemen, Universitas IBA Palembang).
PROFIL USAHA:
Nama Usaha: IKIFARM LOBSTER.
Jenis Usaha: Budidaya Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus).
Alamat: Jalam Rawa Gabus 7 Nomor 5, Suka Maju, Kecamatan Sako, Palembang, Sumatera Selatan 30163.
Produk: Lobster konsumsi, indukan, dan anakan (burayak).
Kategori: UMKM Mikro
Titik Fokus Evaluasi: Urgensi pengurusan legalitas usaha (NIB) sebagai jembatan pembuka akses permodalan KUR dan perluasan penetrasi pasar digital.









