Jakarta, Sumselsatu.com –Ā Kepala Lapan Thomas Djamaluddin menyatakan tak ada perbedaan terkait dengan penetapan awal Ramadan 1438. Kondisi serupa terjadi pada saat penetapan jatuhnya Hari Raya Idul Fitri pada tahun ini.
Hal tersebut tidak terlepas dari terpenuhinya kriteria hisab (perhitungan astronomis) yang digunakan pemerintah dan dua ormas besar yakni NU dan Muhammadiyah yakni imkan rukyat kemungkinan teramatinya hilal 2 derajat dan wujudul hilal (tinggi hilal positif).
“Seragam. Secara hisab awal Ramadan 1438 akan jatuh pada 27 Mei 2017. Potensi seragam juga akan terjadi pada penentuan 1 Syawal atau Idul Fitri dan 10 Dzulhijjah yakni Idul Adha,” kata Thomas Djamaluddin, Rabu (17/5/2017).
Keseragaman yang sama pada saat penentuan Ramadan, katanya, akan terjadi sampai 1442/2021 seperti halnya keseragaman Syawal dan Dzulhijjah yang akan terjadi sampai 1443/2022.
Sedangkan awal Syawal, matahari terbenam pada 24 Juni 2017 menunjukkan wujudul hilal dan imkan rukyat 2 derajat. Jadi dapat disimpulkan, secara hisab Idul Fitri jatuh pada 25 Juni 2017.
Dijelaskan, perbedaan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah disebabkan oleh perbedaan penggunaan kriteria. Bukan karena perbedaan penggunaan metode hisab dan rukyat.
Pemerintah dan NU menggunakan kriteria tinggi hilal 2 derajat, sementara Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal (tinggi bulan positif di atas ufuk). Ketika posisi bulan berada di antara 0 ā 2 derajat merujuk Idul Fitri 1432/2011 pasti terjadi perbedaan.
Terkait potensi perbedaan tersebut, Thomas Djamaluddin menyatakan pilihan terbaik yang bisa ditempuh adalah dengan mengikuti keputusan Pemerintah untuk mewujudkan persatuan ummat.
Sementara itu Lajnah Falakiyah NU akan memantau 125 titik hilal. Pemantauan ini untuk menentukan awal Ramadhan 1438 H, 1 Syawal 1438 H, hingga Hari Raya Idul Fitri 1438 H.
Ketua Lajnah Falakiyah NU KH Ghazali Masruri mengatakan tahun ini selain dari titik pantau yang menjadi prioritas untuk laporan pemantauan NU juga akan melihat pemantauan hilal di daerah-daerah pedalaman.
“Kami akan menempatkan ahli rukyat di daerah-daerah seluruh Indonesia termasuk daerah terpencil dan terluar seperti di Yapen, Papua,” katanya.
Tak hanya menggunakan pemantauan hilal, NU juga menggunakan metode hisab. Namun metode ini hanya dijadikan prediksi sedangkan kepastian tetap menunggu pemantauan hilal. Tak hanya hisab, mereka juga akan membahas penentuan awal Ramadhan ini dengan ahli astronomi yang dimiliki NU.Ā (ari)