Bidar, Tradisi Lama yang Terancam Punah

324
Perlombaan Bidar

SumselSatu.com

BIDAR adalah sebuah tradisi lomba mendayung perahu di Sungai Musi yang sudah ada pada saat kolonial Belanda menguasai Palembang. Bidar adalah singkatan dari Biduk Lancar. Biduk sendiri memiliki arti perahu.

Banyak versi di masyarakat mengenai asal usul Bidar. Yang jelas, berdasarkan penuturan sejumlah orangtua yang hidup sebelum kelahiran Republik Indonesia (RI), lomba perahu Bidar sudah ada pada saat kolonial Belanda menguasai Palembang. Saat itu, lomba perahu Bidar digelar setiap kali kolonial Belanda memperingati hari ulang tahun ratunya, atau adanya pesta yang digelar para pejabat pemerintahan Belanda.

Namun, versi berbeda diungkap beberapa ahli sejarah. Menurut mereka, Bidar sudah berlangsung sejak masa Kerajaan Sriwijaya atau masa Kesultanan Palembang Darussalam. Bidar saat itu disebut sebagai ‘kendaraan perang’ yang bertugas menjaga keamanan Palembang di perbatasan Sungai Musi.

Dahulu kala Kota palembang dikelilingi 108 anak sungai dengan Sungai Musi sebagai induknya. Untuk menjaga keamanan wilayah diperlukan sebuah perahu yang larinya cepat. Kesultanan Palembang lalu membentuk patroli sungai dengan menggunakan perahu yang disebut dengan perahu Pancalang.

Ketua DPRD Sumsel H Giri Ramanda N Kiemas saat menyerahkan penghargaan.

Pancalang berasal dari kata Pancal, berarti lepas landas dan Lang/ilang berarti menghilang. Makna Pancalang berarti perahu yang cepat menghilang. Menurut para ahli sejarah, perahu Pancalang inilah asal muasal lahirnya perahu Bidar.

Agar terjaga kelestarian digelarlah lomba perahu Bidar yang berlangsung sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Lomba ini sering disebut wong doeloe dengan sebutan ‘Kenceran’. Setelah Republik Indonesia berdiri, seperti halnya lomba panjat pinang, lomba perahu Bidar digelar setiap kali memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus.

Lomba Bidar dilangsungkan di Sungai Musi yang mengalir di tengah-tengah Kota Palembang Namun, sejak digelarnya Festival Sriwijaya, selain lomba perahu Bidar juga dilangsungkan lomba Perahu Hias. Namun kini, lomba Bidar terancam punah karena minimnya perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah. Ini terlihat dari terus menurunnya jumlah peserta lomba Bidar dari tahun ke tahun. Belum lagi dibutuhkan dana besar untuk perawatan perahu Bidar dan biaya operasional saat bertanding.

Serunya perlombaan bidar

Sesepuh Bidar di Palembang Muhammad Yakub Sulaiman atau yang biasa disebut Ak Jon saat dibincangi wartawan Wakil Rakyat, Sabtu (4/10/2017), tidak menyangkal jika tradisi Bidar terancam punah dan hanya tinggal nama saja. Kondisi ini bisa terjadi jika Pemerintah Kota (Pemko) Palembang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Palembang, tidak peduli dengan kebudayaan dan tradisi Bidar.

Menurutnya, bantuan subsidi sebesar Rp5 juta dari pemerintah untuk modal tampil di lomba Bidar sangat tidak mencukupi. Jangankan untuk biaya operasional pertandingan, untuk biaya perawatan Bidar saja bantuan itu jauh dari kata cukup.

“Jika pemerintah tidak memperhatikan yang punya Bidar maka Bidar terancam punah. Dana subsidi pemerintah Rp5 juta, sementara biaya perawatan Bidar saja mencapai Rp10 juta. Tidak balik modal, malah kita yang nombok,” kata Ak Jon.

Menurut dia, untuk merawat perahu Bidar membutuhkan biaya minimal Rp10 juta per tahun. Sebab jika tidak dirawat, perahu Bidar yang terbuat dari kayu merawan bisa hancur dan lapuk dimakan rayap (sejenis serangga). Setiap tahun, kayu perahu dirawat dengan cara diminyaki dengan menggunakan solar, dan bagian dalam perahu dicat pakai pelamir biar awet dan tidak dimakan rayap

“Biaya perawatan besar, paling kecil Rp10 juta. Kalau dirawat secara teratur Bidar yang dibuat dari kayu merawan bisa tahan sampai sembilan tahun, kalau tidak Bidar bisa rusak. Setiap tahun kita perbaiki dengan cara diminyaki pakai solar, didempol dan cat amplas. Belum upah tukang, makanya biayanya mencapai Rp10 juta, termasuk upah tukang. Perbaikan dilakukan memasuki bulan Agustus sebelum lomba Bidar dimulai,” jelasnya.

Ditambahkannya, banyak dana yang harus disiapkan pemilik Bidar sebelum mengikuti lomba Bidar sehingga butuh sponsor untuk bisa ikut lomba. Sebab, jika hanya mengandalkan biaya subsidi Rp5 juta dari pemerintah jelas tidak cukup.

“Belum untuk upah pendayung, uang rokok, biaya makan pendayung dan ofisial, jelas uang Rp5 juta tidak cukup, makanya butuh sponsor untuk menanggung biaya operasional selama lomba. Jadi seperti kemarin yang sponsor Ketua DPRD Sumsel Pak Giri Ramanda N Kiemas, jadi beliau yang membiaya operasional pertandingan, nanti nama di perahu atau logo terserah mau dibuat apa tergantung permintaan sponsor,” kata Ak Jon yang tergabung dalam Bidar Tatang Putra Grup.

M Yakub Sulaiman

“Harusnya subsidi pemerintah itu agak besak sedikit, harus ditambah jangan Rp5 juta, itu tidak cukup. Kisaran subsidi harusnya Rp10 juta sampai Rp15 juta. Jadi, walaupun tidak dapat sponsor pemilik Bidar bisa tetap ikut lomba. Sekarang kan bisa dilihat jumlah Bidar terus berkurang, tahun ini yang ikut hanya 13 Bidar, 10 Bidar dari Palembang, tiga sisa dari Pemulutan, Kabupaten OKI. Jika tidak dilestarikan jumlah Bidar terus berkurang dan jangan sampai Bidar tinggal nama,” tambahnya.

Menurut dia, kendala dalam pembuatan perahu Bidar adalah bahan baku kayu dan biaya produksi yang cukup tinggi. Untuk membuat satu Bidar dengan panjang 30 meter dan lebar 1,5 meter, dibutuhan kayu merawan dan kayu bungur untuk membuat dinding perahu dan kayu leban untuk membuat dayungnya. Total dana yang dihabiskan untuk satu perahu Bidar mencapai Rp60 juta.

“Bahan baku kayu tadi kita beli di OKI, itu ada biaya motong, biaya nebang dan diangkut menggunakan tronton. Biaya Rp60 juta kita buat sendiri dibantu beberapa tukang untuk menekan biaya produksi. Upah tukang saja sekarang sudah Rp130 ribu per orang untuk satu hari, satu bulan perahu Bidar sudah selesai. Setelah didempol, perahu dicat dan diplamir agar terlihat bagus dan tahan lama,” bebernya.

“Setelah perahu selesai dipakai lomba kita letakkan di galangan (tempat penyimpanan perahu Bidar-red). Galangan itu berupa pondok yang ada atapnya, agar tidak terkena hujan dan panas sehingga Bidar aman. Untuk posisi meletakkan bidar mau dibalik atau tidak tergantung tempat galangan. Kalau Sungai Musi sedang besar perahu bisa terendam dan membuat perahu cepat rusak,” kata Ak Jon menambahkan.

Asal Mula Bidar

Lantas seperti apa asal mula Bidar? Menurut Ak Jon yang sudah mengikuti lomba Bidar sejak tahun 1970 ini mengatakan, dari cerita yang dia dengar dari para orang-orangtua zaman dulu, Bidar sudah ada pada zaman Kerajaan Sriwijaya atat Kesultanan Palembang Darussalam.

Kata dia, dulunya Bidar untuk menjaga keamanan dari serengan penjajah yang ingin memasuki Kota Palembang dari Sungai Musi. Makanya, perahu Bidar dijadikan alat untuk mencegah musuh di perbaatasan Sungai Musi.

“Dulu dipusatkan di Benteng Kuto Besak (BKB). Dengan menggunakan perahu Bidar yang saat itu ukurannya masih kecil, pasukan kito siap untuk menghadang musuh. Dulu mereka dipersenjatai untuk melawan penjajah. Pasukan ini dulu dinamai Pancalang,” kata Ak Jon.

Dari beberapa sumber, Pancalang juga digunakan sebagai alat angkutan transportasi sungai. Raja-raja dan pangeran kerap pula menggunakan Pancalang untuk plesiran. Gambaran bentuk Pancalang diungkapkan secara detil dalam buku Ensiklopedi Indonesia NV, terbitan W Van Hoeve Bandung’s Gravenhage. Dalam buku itu disebutkan Pancalang perahu tidak berlunas, selain sebagai perahu penumpang, ia juga dijadikan sarana untuk berdagang di sungai. Atapnya berbentuk kajang, kemudinya berbentuk dayung dan digayung dengan galah atau bambu.

Seiring perubahan zaman, kata Ak Jon, untuk meneruskan sejarah dan kebudayaan, tradisi Bidar tetap dilanjutkan sampai saat ini. Perahu ini dapat disaksikan pada setiap Agustusan, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus. Ribuan penonton menyaksikan lomba tersebut dari kedua sisi sungai dan Jembatan Ampera.

“Tujuan Bidar ini meneruskan sejarah Kesultanan Palembang Darussalam. Tradisi Bidar tidak bisa dihilangkan dan harus digelar pada peringatan Hari Kemerdekaan RI. Kalau diundur jangan terlalu lama, jangan seperti sekarang diundur sampai bulan Oktober, dengan alasan peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober,” sesalnya.

Dalam wawancara itu, Ak Jon juga menyesalkan lomba Bidar tahun ini diundur terlalu lama. Padahal menurut dia, Bidar hanya bisa diundur ketika bulan puasa bertepatan di bulan Agustus. Selain itu, jika digelar tidak pada perayaan HUT Kemerdekaan maka banyak pihak yang dirugikan.

“Kami juga heran tahun ini bisa diundur, alasannya menunggu Presiden Jokowi meresmikan Tugu Iwak Belido bulan September, kemudian diundur lagi sampai Oktober pada perayaan Sumpah Pemuda. Kondisi ini merugikan kami, karena kita sudah persiapan untuk bertanding dan kita bisa rugi jika tidak bertanding. Mundurnya lomba Bidar juga merugikan para pegadang yang biasa jualan telok abang dan kapan mainan, karena kalu digelar pada HUT Kemerdekaan rezeki mereka berlimpah, kalau sekarang sepi, yang nonton saja sedikit,” cetusnya.

Kental Aroma Mistis

 

Berbicara soal Bidar, tidak lepas dari mistis. Mulai dari ritual khusus, doa keselamatan, hingga mitos jika ada buaya Pemulutan yang mendorong perahu dari dalam air. Ada yang bilang, jika 40 persen dari pendayung adalah orang Pemulutan, maka besar kemungkinan memenangkan lomba Bidar.

Ak Jon mengaku, dia sudah ikut Bidar sejak tahun 1977, saat usianya masih 10 tahun. Dulu perahu bidar masih berjumlah 11 orang dan sejak lama dunia mistis tidak bisa lepas dari Bidar. Menurut dia, memang ada beberapa ritual khusus yang dia lakukan bersama Bidar Tatang Putra Grup, namun ritual itu tergantung kepercayaan masing-masing. Sebelum bertanding, dia terlebih dahulu mengkramasi perahu Bidar dengan menggunakan kembang tujuh warga, lalu disebar ke seluruh bagian Bidar.

“Pakai kembang tujuh warna, lalu dipercikan ke Bidar. Ini ritual kepercayaan untuk perlindungan dari orang yang mau berbuat jahat. Tapi itu, tergantung permintaan yang punya Bidar, Alhamdulillah kalau Bidar Tatang Putra Grup semuanya dipercayakan kepada saya,” jelasnya sembari menunjukkan foto lomba Bidar masa lalu.

Selanjutnya, khusus Bidar Tatang Putra Grup, sebelum lomba dimulai terlebih dahulu dilakukan ritual doa bersama, dilanjutkan dengan sedekah keselamatan.

“Itu ritual untuk keselamatan bagi kami semua, termasuk pendayung. Kami memohon perlindungan Allah SWT sesuai dengan syariat Islam. Kalau soal kepercayaan ada buaya yang mendorong dari bawah, itu mitos, dan yang sebagian benar,” ujarnya.

Ak Jon menjelaskan, pendayung di bagian depan bernama Juru Batu, fungsinya sebagai pengatur dan memberi komando kepada rekan-rekannya. Pendayung di bagian belakang bernama Kemudi. Tugasnya, untuk meluruskan jalan. Pendayung di bagian tengah disebut Penarik, yang berfungsi melihat pergerakan lawan, sementara di tengah ada seorang Penimba yang bertugas membuang air yang masuk ke dalam Bidar.

Kemudian ada satu lagi yang memiliki peran penting yakni Juragan. Posisinya paling tengah dan berdiri sepanjang pertandingan. Juragan bisa disebut juga Pawang Bidar, yang bertugas mengatur kekompakan dan mengawasi gerak gerik musuh.

“Juragan tahu jika lawan mau berbuat jahat. Juragan juga bertugas mengintip pergerakan lawan dan menjaga jarak jika Bidar lawan coba mendekat ke Bidar kita. Juragan juga mengatur hal yang bebau mistis, dan doa keselamatan pendayung tergantung Juragan masing-masing,” ucapnya panjang lebar.

Sementara Ketua DPD Kerukunan Keluarga Palembang (KKP) Provinsi Bangka Belitung Yahya mengatakan, untuk membuat perahu Bidar dibutuhkan dana sekitar Rp65 juta per perahu. Karena mahal, makanya jumlah peserta Bidar terus berkurang. Lebih dari 40 tahun lalu, penyelenggaraan lomba perahu Bidar di Sungai Musi Palembang, selalu ramai oleh penonton. Bahkan, banyak masyarakat yang menyaksikannya dari atas Jembatan Ampera. Karena itu, Bidar selalu ditunggu masyarakat Palembang, bahkan sampai mancanegara.

“Jumlah peserta lomba perahu bidar ini bisa mencapai lebih dari 30 peserta dan perlombaan diselenggarakan selama dua hari. Itu terjadi sekitar 20-30 tahun lalu. Namun, beberapa tahun terakhir, pesertanya mulai berkurang. Tahun 2013 cuma 12 perahu dan tahun 2014 hanya delapan perahu. Sementara waktu perlombaan cukup satu hari saja,” ujar Yahya yang saat ini memiliki dua perahu Bidar.

“Kalau setiap Badan Usaha Milik Negera (BUMN) di Sumsel ini peduli dengan menyumbang satu Bidar, maka lomba Bidar bisa diikuti lebih dari 20 peserta,” jelas Yahya.

Yahya juga menjelaskan, untuk merawat Bidar ini, selain membutuhkan biaya yang cukup tinggi, bahan baku kayunya juga sulit didapatkan. Untuk mendapatkan kayu, masyarakat harus menempuh perjalanan jauh di hutan di kawasan hulu Sungai Musi. Sedangkan untuk membawanya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari.

Sementara pemilik Bidar Tatang Putra Grup Cik Jaka mengatakan, Bidar miliknya berdiri sejak tahun 2002, karena hobi dan meneruskan tradisi turun menurun yang komitmen menjaga kelestarian Bidar. Diakuinya, butuh perhatian pemerintah agar Bidar tidak hilang ditelan zaman.

“Dulu ada wacana Bidar akan dibina BUMN, tapi sampai sekarang tidak ada. Jika tidak dibina, Bidar akan punah, jika tidak dilestarikan punah, tinggal cerita. Bidar ini adalah olahraga, seni dan budaya, harus dilestarikan,” tegasnya.

Pria yang berprofesi sebagai polisi ini mengaku, dua tahun terakhir Ketua DPRD Sumsel HM Giri Ramanda N Kiemas menjadi sponsor Bidar miliknya. Tahun 2016 mereka berhasil menjadi juara keempat dan tahun ini juara kedua.

“Tahun ini kita dapat uang hadiah pembinaan Rp14 juta, 60 persen untuk atlet dan 40 persen ofisial. Untuk atlet kita memakai sebagian orang Keramasan Kertapati dan sisanya Pemulutan. Sebelum bertanding seminggu latihan, menggunakan Bidar kecil berisi 24 pendayung karena Bidar besar hanya untuk lomba. Atlet kita juga sering ikut Musi Tribatlon dan berhasil mendapatkan medali emas membela Sumatera Selatan,” pungkasnya. #ari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here