Bukan Sekadar Karyawan: Pak Rafly dan Ketulusan di Balik Segelas Es Tebu

ES TEBU---Status boleh karyawan, tapi tanggung jawab seluas pemilik usaha. Itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Pak Rafly (kanan). Sejak 2020, ia menjadi sosok di balik segelas kesegaran es tebu di Jalan  Mayor Santoso, Palembang. (FOTO: Istimewa/Dini Nurizati).

Palembang, SumselSatu.com

Di sudut Jalan Mayor Santoso Nomor 31-38, Kelurahan 20 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I, deru mesin pemeras tebu bukan sekadar suara bising bagi Pak Rafly. Baginya, itu adalah irama kehidupan yang telah ia jalani selama empat tahun terakhir.

Sejak tahun 2020, di bawah bendera Es Tebu Padang Khas Minang, Pak Rafly tetap tegak berdiri di balik gerobaknya, memastikan setiap tetes sari tebu yang keluar menjadi penawar dahaga bagi masyarakat Palembang.

Meskipun secara administratif ia berstatus sebagai karyawan, cara Pak Rafly memperlakukan usaha ini melampaui batas-batas upah bulanan. Ia adalah jiwa dari operasional harian es tebu ini, mulai dari memilih batang tebu terbaik, memastikan kebersihan mesin, hingga menyajikannya dengan senyum yang tak pernah pudar meski matahari sedang terik-teriknya.

“Meskipun bukan pemilik, saya memiliki tanggung jawab besar mulai dari menyiapkan bahan, mengolah tebu menjadi minuman segar, hingga melayani pelanggan dengan ramah,” ujar Pak Rafli yang ditemui saat berjualan.

Meski cuaca siang itu sangat terik, Pak Rafli dengan ramah melayani sesi wawancara. Sambil menyeka keringat di dahinya, dia bercerita tentang dinamika kesehariannya. Baginya, setiap tetes air tebu adalah harapan yang ia tawarkan kepada setiap orang yang melintas.

​”Bagi saya, bekerja di Es Tebu Padang Khas Minang bukan cuma soal menunggu pembeli datang. Saya sering membawa dagangan ini berkeliling atau memperhatikannya dengan teliti agar rasa manisnya benar-benar alami tanpa pemanis buatan. Kalau cuaca lagi panas sekali, saya senang melihat orang lega setelah minum. Tapi kalau hujan turun seharian, di situlah kesabaran saya diuji,” ujar Rafly dengan senyum tulus.

Bagi Rafly, pekerjaannya sebagai karyawan adalah sebuah amanah besar. Setiap batang tebu yang ia pilih dan peras harus memenuhi standar kesegaran yang selama empat tahun ini konsisten ia jaga. Di tengah cuaca yang kian tak menentu, segelas Es Tebu Padang Khas Minang seharga Rp5.000 menjadi penyelamat dahaga sekaligus bukti nyata bagaimana sektor informal mampu bertahan dan melayani masyarakat kelas bawah hingga menengah.

​Dari sisi sosio-ekonomi, peran Rafly sangatlah krusial. Saat kondisi ramai, ia mampu mengelola penjualan hingga 100 cup per hari, yang berarti ada perputaran uang sebesar Rp500.000 yang masuk ke dalam ekosistem usaha kecil tersebut. Angka ini mungkin terlihat sederhana bagi korporasi besar, namun bagi pegiat usaha mikro, ini adalah angka yang menjamin keberlangsungan hidup banyak kepala.

“Usaha ini mampu menghasilkan sekitar Rp500.000 dalam sehari. Namun, pada saat sepi, jumlah penjualan akan menurun, tergantung pada kondisi cuaca dan jumlah pelanggan yang datang,” katanya.

Meskipun menghadapi kondisi penjualan yang tidak selalu stabil, Pak Rafly tetap bekerja dengan penuh semangat. Ia selalu menjaga kebersihan, kualitas produk, serta memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Ini menjadi salah satu faktor yang membuat usaha es tebu tersebut tetap bertahan hingga sekarang.

Dia menegaskan bahwa loyalitasnya selama empat tahun terakhir didasari oleh rasa memiliki (sense of belonging) adalah kunci keberlangsungan usaha. Ia tidak hanya menjual air tebu, ia menjaga reputasi Khas Minang yang identik dengan kualitas dan rasa manis alami yang pas.

​”Memang saya bukan pemiliknya, tapi saya merasa usaha ini adalah bagian dari hidup saya. Kalau saya tidak bersih menyiapkannya atau tidak ramah melayani, pelanggan tidak akan kembali. Saya ingin orang tahu bahwa meski ini cuma es tebu pinggir jalan, ada kerja keras dan kejujuran di setiap gelasnya,” ucapnya bijak.

Kisah ini menunjukkan bahwa keberhasilan suatu usaha tidak hanya ditentukan oleh pemilik, tetapi juga oleh peran karyawan yang bekerja dengan sungguh-sungguh. Dengan kerja keras dan tanggung jawab, Pak Rafly menjadi bagian penting dalam keberlangsungan usaha es tebu di lokasi tersebut.

Di balik segelas es tebu yang segar, ada sosok yang penuh semangat menjaga kebersihan dan kualitas produk. Pak Rafly bukan hanya seorang karyawan. Ia adalah penggerak roda ekonomi yang memastikan bahwa di Jalan Mayor Santoso, kesegaran alami tetap bisa dinikmati oleh siapa saja, kapan saja. (Penulis: Dini Nurizati/Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas  Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang).

PROFIL USAHA

Nama Usaha: Es Tebu Padang Khas Minang.

Jenis Produk: Minuman Tradisional / Sari Tebu Alami.

Tahun Berdiri: 2020.

Lokasi Operasional: Jalan Mayor Santoso Nomor 31-38, 20 Ilir D III, Kecamatan Ilir Timur I, Kota Palembang.

Personel Kunci: Pak Rafly (Penanggung Jawab Operasional & Layanan).

Produk Utama: Es Tebu Murni (Tanpa Pemanis Buatan).

Harga Jual: Rp5.000 per cup.

Keunggulan: Pengolahan langsung di tempat (fresh-pressed).

Rata-rata Penjualan: 80 – 100 cup per hari (Kondisi cuaca terik).

Estimasi Omzet: ± Rp500.000 per hari.

Sistem Pemasaran: Penjualan menetap di lokasi (Booth/Gerobak) dan operasional berkeliling secara berkala untuk menjemput bola.

Ketahanan Bisnis: Mampu bertahan selama 6 tahun (2020-2026) melalui fluktuasi ekonomi dan tantangan pandemi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here