Cafe De Burry Museum : Sambil Makan, Wajah Dilukis

224
ART KULINER---Foto bersama usai peresmian Cafe de Burry Museum. (FOTO : SS1/YANTI)

Palembang, SumselSatu.com

Pemerintah kota (Pemkot) Palembang melalui Dinas Kebudayaan kota Palembang memanfatkan belakang bangunan Museum Sulatan Mahmud Badaruddin II dengan membuat Cafe De Burry Museum.

Cafe De Burry yang artinya belakang ini merupakan inovasi serta tempat pelestarian kuliner makanan khas Palembang dalam menarik para wisatawan yang berkunjung ke museum Sultan Mahmud Badaruddin.

“Saya kira ini sangat suatu hal yang cukup baik sekali mengingat kita akan menjadi tuan Rumah Asian Games yang tinggal beberapa hari lagi,” ujar Walikota Palembang Harnojoyo usai me-launching Cafe De Burry Museum.

Menurutnya, tempat seperti ini tempat yang rapi tempat nongkrong untuk memanjakan para tamu-tamu yang datang ke Palembang.

“Saya kira ini sangat di butuhkan bagi kita karana ini salah satu menjadi ingatan bagi tamu tamu kita sehigga mereka akan kembali lagi ke palembang,” katanya.

Namun dirinya menekankan untuk selalu mengutamakan kebersihan menjaga lingkungan tidak ada sampah yang berserakan.”Yang paling penting dan harus dijaga yaitu kebersihan,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Sudirman Teguh mengatakan, tempat ini Cafe The Burry merupakan salah satu tempat bersejerah yang ada di kota Palembang dan untuk menarik daya tarik para pengujung museum diciptakan inovasi baru yaitu di buatnya Cafe De Burry. Tempat ini juga merupakan pelestarian makanan makan khas Palembang.

“Kita membuat Cafe the Burry museum ini pertama adalah museum ini adalah tempat bangunan bersejarah bangunan cagar budaya. Kalau kita hanya memelihara melestarikan bangunan cagar budaya semata mata maka itu tidak akan populer maka itu kita buat dengan sentuhan ekonomi, salah satunya kita buat cafe yang bernuasa tetap tidak meninggalkan kesan kesan sejarah,” bebernya.

Sudirman menambahkan,  makanan yang dijual di Cafe De Burry adalah makanan tradisional dengan rasa kekinian.

“Kita gandeng seniman. Kita buat fasilitas pelukis,  jadi orang yang makan bisa dilukis. Di sini ada 22 outlet, jadi kita menggabungkan kuliner dan art. Ini bisa jadi kumpul-kumpul anak muda,” pungkasnya. #nti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here