Palembang, SumselSatu.com
Puncak musim kemarau di Kota Palembang mempengaruhi kualitas udara yang memburuk. Imbasnya ada 3,945 penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)
Panas terik dan debu bertebaran, menyebabkan banyaknya keluhan dari masyarakat seperti, batuk, flu, demam, bahkan pernafasan yang terganggu.
Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Palembang Yudi Setiawan mengatakan, akibat kualitas udara yang memburuk bisa menyebabkan ISPA.
“Kasus ISPA sampai dengan minggu kedua Agustus 3,945. Dengan rincian Ispa I : 2,110, dan Ispa II: 1,835 dari data kolektif 42 Puskesmas di Kota Palembang,” ujar Yudi, Senin (21/8/2023).
Meski ISPA adalah penyakit yang tidak terlalu berbahaya. Tetapi harus segera diobati, sebab bisa akut dan menganggu aktifitas terutama bagi usia dewasa.
“Pastikan menggunakan masker, karena ISPA biasanya seseorang akan bersin atau batuk, dan menjaga lingkungan agar tetap bersih,” katanya.
Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumsel menyebut Sumsel sedang ada di fase puncak kemarau dengan kekeringan yang makin meluas.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis mengingatkan, pada saat kemarau juga kualitas udara cenderung menurun dengan meningkatnya polusi partikulat dari debu dan asap.
“Penggunaan masker saat di luar ruangan akan dapat mengurangi gangguan kesehatan,” katanya. #ari