Memburu Gelar Juara di Cardiff

36

 

Cardiff, Sumselsatu.com – Juventus dan Real Madrid sama-sama memiliki motivasi tinggi untuk menjuarai Liga Champions UEFA. Keduanya akan bertemu pada Minggu (4/6/2017) dinihari WIB di Millenium Stadium, Cardiff, Wales.

Juventus sedang mengejar tiga gelar setelah sebelumnya mereka berhasil menjuarai Serie A Italia dan Coppa Italia, sementara Real Madrid mengejar rekor 12 kali menjuarai Liga Champions dan juga mencatatkan sejarah sebagai kesebelasan pertama yang mampu dua kali berturut-turut menjuarai Liga Champions.

Pertarungan kedua kesebelasan dianggap akan sangat menarik. Real Madrid adalah kesebelasan dengan penyerangan terbaik di Liga Champions musim ini, mencetak 32 gol dengan rata-rata 19,6 tembakan per pertandingan. Sementara itu, Juventus adalah kesebelasan dengan pertahanan terbaik, mereka baru kebobolan tiga gol di Liga Champions musim ini.

Juventus dan Real Madrid sudah bertemu 18 kali di kompetisi Eropa, yang kesemuanya adalah di Liga Champions. Masing-masing kesebelasan sudah menang delapan kali dan imbang dua kali. Keduanya pernah bertemu di final pada edisi 1997/1998. Saat itu Real Madrid berhasil menang dengan skor 1-0.

Bianconeri sedang dalam misi menuntaskan kerinduan akan ‘Si Kuping Besar’ dengan terakhir kali juara pada 1996 silam. Sejak saat itu empat final dilewati Juventus, tapi selalu kandas. Final tahun ini sendiri merupakan yang ke-9 sepanjang sejarah keikutsertaan Juventus di Liga Champions termasuk di format lama, memenangi dua di antaranya.

Tapi misi Juventus menuntaskan kerinduan itu jelas takkan mudah. Lawannya adalah Real Madrid, yang notabene pemegang gelar terbanyak dengan 11 kali juara dan sudah 14 kali ke final. Hanya tiga kali Los Blancos kalah di final turnamen ini.

Pengalaman itulah yang dinilai menjadi nilai plus untuk Real Madrid, apalagi belum lama juga mereka juara yakni di 2014 dan 2016 lalu.

Pelatih Juventus Massimiliano Allegri memperingatkan Real Madrid untuk waspada menghadapi Juventus. Menurut dia, Juventus yang tampil di final Liga Champions kali ini berbeda ketimbang 2015 lalu.

Pada 2015 lalu, Juventus jalani momentum yang sama seperti musim ini. Klub berjulukan Nyonya Tua itu juga mengejar treble saat menghadapi Barcelona di final.

Namun, Juventus gagal penuhi misi itu karena kalah 1-3 dari Barcelona. Ditambah sukses rebut trofi juara serie A sebanyak enam kali beruntun,Allegri sebut mereka saat ini sangat percaya diri.

“Pada 2015, kami tembus final tapi tidak begitu bersemangat. Kami kurang percaya diri karena jalani musim penuh perjuangan di Liga Champions,” katanya seperti dikutip soccerway.

“Tahun ini berbeda. Tahun lalu, kami jalani musim yang bagus di Liga Champions tapi kalah dari Bayern Munchen. Kami terus berkembang. Saat ini benar-benar berbeda. Juventus banyak berkembang,” tegasnya.

Allegri mengatakan Juventus sudah bekerja keras sepanjang tahun ini agar bisa capai final. Dia berharap dominasi di liga domestik berpengaruh ke permainan mereka di Liga Champions.

“Besok, kami harus menang. Ini final, ini hanya satu laga. Jadi, seperti semua laga final, Anda harus tampil dengan pasti. Anda harus bisa analisa kapan menyerang dan bertahan,” ujarnya.

“Jika kami bisa lakukan itu, dengan sedikit keberuntungan, kami punya peluang tapi kami butuh kepercayaan diri,” pungkasnya.

Real Madrid tak diragukan lagi punya pengalaman berlimpah di final Liga Champions. Tapi hal itu diyakini Juventus takkan berpengaruh banyak ke permainan di lapangan.

Gianluigi Buffon mengakui pengalaman itu bisa membuat Real Madrid sedikit lebih tenang menghadapi pertandingan. Tapi di atas lapangan, dia percaya keseimbangan laga tak akan banyak terpengaruh.

“Ini bukan seolah-olah sejarah Real Madrid di final itu merupakan perkembangan baru. Mereka sudah mengalami banyak sukses dan punya kepercayaan diri yang besar di situasi-situasi ini, dan itu bisa membuat laga menjadi lebih mudah untuk mereka secara mental,” kata Buffon kepada Mediaset Premium.

“Tapi itu tidak akan mengubah keseimbangan pertandingan,” imbuhnya dikutip Football Italia.

Juventus sendiri disebut menatap pertandingan penting ini dengan mentalitas yang sudah tepat. Ada hasrat besar untuk mencatatkan sejarah di klub, mengukir treble untuk kali pertama.

“Ada jenis ketegangan yang pas, kadar konsentrasi yang bagus, dan gairah menggebu untuk melakukan sesuatu yang bersejarah,” sambung Buffon.

“Saya rasa lebih baik untuk mempertimbangkan laga besok sebagai ujian penting di mana masing-masing dari kami harus memberikan yang terbaik,” tandasnya.

Terpisah, Pelatih Real Madrid Zinedine Zidane mengatakan, timnya siap untuk menghadapi pertandingan melawan Juventus. Zidane juga menegaskan tidak ada tekanan yang mereka rasakan jelang laga melawan juara Serie A Italia tersebut.

Menurut Zidane, kedua tim memiliki peluang yang sama untuk menang. Bahkan, pria asal Prancis ini memuji bekas klubnya. Bianconeri hanya kebobolan satu gol di enam pertandingan sistem gugur saat melawan Porto, Barcelona dan Monaco.

Zidane menyatakan I Bianconeri tidak hanya memiliki pertahanan yang baik melainkan juga menyerang dengan sangat baik. Juve juga memiliki banyak pemain berkualitas.

“Tidak ada yang favorit di sini, kami berdua punya peluang 50-50 untuk memenangkan piala tersebut,” kata Zidane, dilansir dari Football Italia, Sabtu (3/6/2017).

Zidane memprediksi laga final akan menjadi pertandingan yang sangat terbuka dan menghibur. Namun, pelatih berusia 44 tahun mengaku tidak akan mengubah pendekatan yang mereka lakukan sejauh ini. Dia yakin Bianconeri tak cuma mengandalkan catenaccio.

Zidane menilai bahwa Juve bukanlah tim yang menganut filosofi catenaccio, yang sebagian besar tim Italia lebih menitik beratkan kekuatan pada sektor pertahanan dan sesekali melancarkan serangan balik.

Penilaian Zidane itupun ada benarnya. Berdasarkan data Whoscored, Si Nyonya Tua mencatatkan rata-rata penguasaan bola sebesar 54.8 persen, dibandingkan dengan Madrid yang ada di angka di 53,4 persen.

Bukti Juve bukan tipikal tim yang bertahan juga bisa dilihat dari proses gol-golnya. Dari 21 gol Bianconeri di Liga Champions, tak ada satupun yang tercipta dari skema serangan balik, 14 gol setidaknya lahir skema open play. Sisanya dari set piece dan penalti.

“Saya tidak berpikir Juve sebagai tim tradisional Italia dengan catenaccio. Mereka memiliknya, tapi tidak hanya itu. Mereka bertahan dengan baik dan menyerang dengan baik pula,” kata Zidane seperti dikutip ESPN.

“Saya mengharapkan permainan terbuka, pertandingan yang bagus untuk semua fans sepakbola,” sambung pria berkepala plontos itu.

Ia juga enggan menyebutkan siapa yang akan dimainkan antara Gareth Bale atau Isco. Namun, ia menegaskan bahwa hal yang penting ialah semua pemainnya dalam kondisi yang baik, baik itu dari segi fisik atau pun psikologi.

“Para pemain tahu mereka harus memberikan segalanya, sepakbola tidak dapat diprediksi dan apapun bisa terjadi,” kata dia.

Pada kesempatan itu, Zidane juga mengaku menikmati momen berada kembali di final. Menurut dia, ini adalah pengalaman yang fantastis dan luar biasa. Dua tahun lalu, Zidane mengantarkan Los Blancos meraih trofi Liga Champions ke-11 usai mengalahkan Atletico Madrid di final. (Ari/son)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here