Perilaku Keuangan Gen Z dan Milenial : Peluang dan Tantangan Perencanaan Anggaran Jangka Panjang Perusahaan

Perilaku keuangan Gen Z dan Milenial tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga peluang besar dalam perencanaan anggaran jangka panjang perusahaan.

BAHAS TUGAS---Nabillah Nur Sabillah dan Dwi Supriyadi, tengah membahas tugas Anggaran Perusahaan. (FOTO: SS 1/IST).

Disusun Oleh :

Nabillah Nur Sabillah dan Dwi Supriyadi.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen Semester 5, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti (Unanti) Palembang.

ANGGARAN perusahaan merupakan dokumen perencanaan keuangan yang disusun secara sistematis untuk mengarahkan aktivitas operasional, investasi, serta strategi jangka panjang perusahaan.

Secara akademis, anggaran dipahami sebagai alat perencanaan dan pengendalian yang berfungsi memastikan bahwa sumber daya perusahaan digunakan secara efisien, sasaran organisasi dapat dicapai, dan risiko dapat diminimalkan. Dalam konteks modern, penyusunan anggaran tidak lagi sekadar proses administratif, tetapi telah menjadi instrumen strategis yang harus responsif terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan perilaku tenaga kerja.

Dalam beberapa tahun terakhir, struktur tenaga kerja global mengalami pergeseran signifikan yang ditandai dengan meningkatnya proporsi generasi Milenial dan Gen Z dalam dunia profesional. Kedua generasi ini membawa pola pikir, preferensi, serta perilaku keuangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini berdampak langsung pada strategi perusahaan, termasuk dalam perencanaan anggaran jangka panjang.

Oleh karena itu, memahami perilaku keuangan Gen Z dan Milenial menjadi penting agar perusahaan dapat mempertahankan daya saing sekaligus membangun kebijakan anggaran yang berkelanjutan.

Ilustrasi

1. Peluang dalam Perencanaan Anggaran

Perilaku keuangan Gen Z dan Milenial memberikan sejumlah peluang yang mendorong perusahaan bertransformasi. Pertama, kedua generasi ini sangat akrab dengan teknologi digital. Kecenderungan mereka dalam menggunakan aplikasi keuangan, dompet digital, hingga platform investasi menjadikan mereka lebih terbuka terhadap sistem keuangan berbasis data dan otomatisasi.

Hal ini menjadi peluang bagi perusahaan untuk mengalokasikan anggaran pada digitalisasi proses internal, termasuk penggunaan software budgeting, analisis keuangan berbasis Artificial Intelligence (AI), dan sistem perencanaan terintegrasi yang meningkatkan efisiensi serta akurasi perhitungan anggaran.

Kedua, preferensi mereka terhadap keseimbangan kerja kehidupan (work life balance) mendorong perusahaan menyusun anggaran yang lebih berfokus pada program pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kesejahteraan karyawan. Anggaran untuk pelatihan, pengembangan keterampilan digital, fasilitas kesehatan mental, hingga program retensi karyawan menjadi investasi penting yang tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga mengurangi biaya turnover dalam jangka panjang.

Ketiga, Gen Z dan Milenial memiliki orientasi terhadap nilai (value driven). Mereka tertarik bekerja di perusahaan yang memiliki visi jelas, komitmen pada keberlanjutan, serta tata kelola yang transparan. Kondisi ini menuntut perusahaan mengalokasikan anggaran pada program keberlanjutan (sustainability), tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), dan tata kelola yang lebih profesional. Dengan demikian, penyusunan anggaran jangka panjang dapat diarahkan untuk menciptakan citra perusahaan yang lebih kompetitif di mata generasi muda.

2. Tantangan dalam Perencanaan Anggaran

Di balik peluang tersebut, perilaku keuangan kedua generasi ini juga memunculkan beberapa tantangan. Pertama, kecenderungan Milenial dan Gen Z untuk sering berpindah pekerjaan (job hopping) menjadi faktor yang dapat meningkatkan biaya jangka panjang perusahaan. Tingginya angka turnover membutuhkan anggaran tambahan untuk rekrutmen, pelatihan, serta integrasi karyawan baru setiap tahun. Hal ini membuat anggaran jangka panjang perusahaan menjadi kurang stabil dan sulit diprediksi.

Kedua, generasi ini dikenal memiliki pola pengelolaan keuangan yang cenderung konsumtif dalam beberapa aspek, terutama pada gaya hidup dan teknologi. Meskipun hal ini tidak sepenuhnya negatif, namun dapat mempengaruhi ekspektasi mereka terhadap kompensasi dan benefit perusahaan. Perusahaan harus menyesuaikan struktur gaji dan benefit sehingga lebih kompetitif, sehingga berbagai pos anggaran perlu disesuaikan untuk mempertahankan tenaga kerja berkualitas.

Ketiga, perubahan preferensi yang cepat di kalangan Gen Z dan Milenial menjadi tantangan besar dalam menyusun anggaran jangka panjang. Perusahaan tidak hanya harus beradaptasi dengan tren teknologi, tetapi juga nilai-nilai baru yang berkembang, seperti fleksibilitas kerja, inovasi budaya kerja, serta kebutuhan terhadap lingkungan kerja inklusif.

Sementara anggaran jangka panjang biasanya dirancang konservatif dan stabil, kebutuhan dua generasi ini menuntut pendekatan yang lebih dinamis dan fleksibel.

3. Implikasi terhadap Penyusunan Anggaran Jangka Panjang

Perusahaan saat ini dituntut untuk menggabungkan dua pendekatan secara seimbang: stabilitas keuangan dan fleksibilitas operasional.

Penyusunan anggaran harus mempertimbangkan:

• Model skenario (scenario planning) untuk mengantisipasi perubahan perilaku tenaga kerja.
• Anggaran berbasis kinerja (performance-based budgeting) agar investasi pada SDM dapat diukur efektivitasnya.
• Alokasi dana untuk inovasi guna mengikuti perkembangan teknologi serta kebutuhan generasi muda.
• Strategi retensi jangka panjang, seperti career development path, kesejahteraan mental, dan kompensasi berbasis nilai.
Dengan demikian, perusahaan dapat menyusun anggaran yang bukan hanya bertahan, tetapi relevan dengan dinamika tenaga kerja masa kini.

Kesimpulan

Perilaku keuangan Gen Z dan Milenial memberikan dampak nyata terhadap penyusunan anggaran jangka panjang perusahaan. Di satu sisi, mereka membuka peluang besar melalui adopsi teknologi, dorongan inovasi, serta semangat keberlanjutan. Di sisi lain, preferensi mereka yang cepat berubah, kecenderungan berpindah kerja, dan tuntutan kesejahteraan yang lebih tinggi menjadi tantangan yang harus dikelola secara strategis.

Oleh karena itu, perusahaan perlu membangun sistem anggaran yang adaptif, berbasis data, serta berorientasi pada pengembangan SDM. Menyetarakan kebutuhan generasi muda dengan tujuan jangka panjang perusahaan bukan hanya meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran, tetapi juga memperkuat posisi perusahaan dalam menghadapi perubahan global. Dengan pemahaman yang tepat terhadap perilaku keuangan Gen Z dan Milenial, perusahaan mampu menciptakan perencanaan anggaran yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan kompetitif. *

Catatan:

Artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Anggaran Perusahaan Universitas Tridinanti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here