
PALI, SumselSatu.com
Anggota Gerakan Pramuka Indonesia harus mampu menghadapi berbagai tantangan bangsa ke depan. Pramuka dituntut untuk terus menerus meningkatkan kualitas diri.
Demikian benang merah yang disampaikan H M Giri Ramanda N Kiemas, SE, MM, Wakil Ketua Bidang Anggota Muda Kwartir Daerah (Kwarda) Sumatera Selatan (Sumsel), pada acara Bincang Tokoh di kegiatan Karya Bakti Pramuka (Kartika) XXII se-Indonesia, Minggu (28/7/2019).
Pertemuan Pramuka se-Tanah Air dengan tema ‘Solutif, Inovatif, Aktif, dan Produktif’ itu diselenggarakan di Desa Spantan Jaya, Kecamatan Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumsel pada 27 Juli-4 Agustus 2019.
“Adik-adik Pramuka harus siap, jangan sampai jadi korban teknologi,” ujar Giri Ramanda Kiemas kepada peserta Kartika XXII se-Indonesia.
Sebelumnya, Giri menyampaikan, tantangan Bangsa Indonesia ke depan adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Giri mengatakan, bonus demografi atau besarnya jumlah penduduk usia produktif antara 15 tahun hingga 64 tahun dalam suatu negara yang dimiliki Indonesia saat ini, menuntut naiknya kemampuan untuk bersaing. Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini akan berakhir pada 2036 nanti.
Giri mengatakan, penduduk Indonesia banyak tapi lapangan pekerjaan sedikit. Karena itu, peningkatkan kualitas SDM menjadi suatu keharusan untuk dilakukan.
Dia menambahkan, tantangan lainnya adalah persaingan SDM Tanah Air dengan tenaga kerja asing (TKA). Pada 2015, negara Anggota ASEAN telah menyetujui cetak biru (blue print) Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2025. Perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN harus dihadapi dengan kesiapan untuk bersaing.

(FOTO: SS1/ANTON R FADLI)
Tantangan lainnya, tambah Giri, adalah perubahan teknologi yang sangat cepat. Dicontohkannya, 20 tahun lalu, pabrik mobil membutuhkan sekitar 200 orang di lini produksi. Namun, dengan adanya teknologi, jumlah pekerja jauh berkurang. Karena, pekerjaan yang sebelum dilakukan manusia dapat dilakukan mesin dan robot.
“Sekarang cukup 15 orang, karena teknologi, mesin,” kata Giri yang pernah menjabat Ketua DPRD Sumsel tersebut.
Pramuka sebagai gerakan kepanduan diharapkan mampu menghadapi perkembangan teknologi. Giri berharap, Anggota Pramuka terus meningkatkan kualitas diri.
Giri menambahkan, salah satu kemampuan yang harus dimiliki adalah mampu berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Dia mencontohkan, dengan kemampuan berbahasa Inggris, dirinya bisa mendapatkan beasiswa untuk mengikuti pendidikan di Massachusetts Institute of Technology (MIT).
“Bahasa Inggris sangat penting,” kata Ketua DPD PDI Perjuangan Sumsel itu.
Selain Giri, hadir juga pembicara dalam acara tersebut, Ketua Kwarda Sulawesi Tenggara (Sultra) Irawan Laliasa, dan Ketua Kwarcab PALI Ir Heri Amalindo.
Irawan Laliasa yang pernah menjadi Penjabat Bupati Konawe Selatan itu juga berbagai cerita tentang manfaat Pramuka bagi dirinya. Dia memberikan semangat kepada para peserta Kartika XXII untuk optimis dan menyakini berbagai dampak positif dengan mengikuti Gerakan Pramuka.
Sedangkan Heri Amalindo mengatakan, Pramuka sesuatu yang luar biasa. Karena, Pramuka membentuk pribadi yang mandiri, jujur, dan peduli.
Sebelumnya, Heri yang juga sebagai Bupati PALI, memperkenalkan PALI kepada para peserta Kartika XXII. Dia berharap, dengan menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan Pramuka se-Indonesia, PALI akan dikenal lebih luas lagi.
Heri juga berharap, para peserta Kartika dapat membawa kenangan yang baik dari kabupaten baru di Sumsel tersebut. #arf