
Denpasar, SumselSatu.com
Saat ini, bisa dibilang Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) merupakan salah satu surga wisata yang masih tersembunyi di dalam negeri. Tak salah bila Bupati PALI H Heri Amalindo mengirim anak-anak muda pilihan asli kabupaten ini, untuk mengikuti wisata edukasi dan studi literasi ke Pulau Bali, guna membuka wawasan tentang cara menggali potensi pariwisata yang bisa dikembangkan di daerah sendiri.
Rombongan wisata edukasi dilepas Bupati PALI, H Heri Amalindo didampingi Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten PALI Kamriadi, S.Pd, M.Si, Rabu (14/11/2018), di rumah dinas Bupati PALI. Memotivasi para nomine untuk terus giat menulis, Bupati Heri pun meminta peserta menulis perjalanan ke Bali, sehari satu lembar tulisan. Ini juga sesuai dengan kegiatan bertema wisata edukasi dan studi literasi.
“Nanti saya sendiri yang menilainya, yang terbaik akan saya beri hadiah lagi,” kata Bupati disambut sukacita para peserta.

Adapun anak-anak muda peserta wisata edukasi ini adalah para nomine lomba menulis esai yang diadakan dalam rangka memperingati hari jadi ke-5 Kabupaten PALI. Sementara untuk peraih juara I dan II lomba ini, dihadiahi wisata ke Eropa.
Pada kegiatan wisata edukasi ke Bali, para nomine yang berjumlah 22 orang, didampingi Sekretaris Dinas Pendidikan Nasional PALI, Drs Haris Munandar, Koordinator Lomba Esai, Irwansyah S.Pd, M.Si, serta beberapa panitia lomba.
Di Pulau Dewata, rombongan melakukan kunjungan ke Balai Bahasa Provinsi Bali dan disambut hangat Kepala Balai Bahasa Bali, Toha Machsum, SAg, MAg. Toha mengaku sangat mengapresiasi langkah Bupati PALI memberi reward kepada para nomine lomba esai berupa kunjungan ke Balai Bahasa Bali.
“Selama ini mahasiswa atau pelajar yang datang ke Balai Bahasa ini paling satu dua orang, itu pun untuk melakukan penelitian. Tapi ini luar biasa, wisata edukasi untuk nomine lomba esai. Ini benar-benar saya apresiasi langkah pak Bupati PALI ini,” kata Toha.
Tak hanya Kepala Balai Bahasa Bali yang antusias, bahkan staf-staf di balai ini juga penuh semangat memberi penjelasan kepada rombongan nomine tentang berbagai hal. Yang paling menarik perhatian para nomine adalah tulisan di daun lontar. Mereka bertanya detil hingga proses pembuatan dan cara serta program untuk melestarikan kegiatan menulis di daun lontar.

Sikap tak kalah antuasias juga ditunjukkan para nomine ketika berkunjung ke Balai Arkeologi Bali. Banyak benda-benda peninggalan bersejarah yang disimpan di sini dan semua menarik perhatian. Melihat perabotan-perabotan zaman dahulu yang ada di balai ini, seolah menuturkan tentang budaya kehidupan nenek moyang pada ribuan tahun lalu.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, para nomine segera mengambil foto sekaligus bertanya tentang cerita terkait benda-benda yang ada. Beruntung rombongan ini diterima langsung Kepala Balai Arkeologi Bali, I Made Gusti Suarbhawa yang dengan sabar menjawab semua pertanyaan.
Beberapa staf Balai Arkeologi Bali pun dengan semangat memberi penjelasan tentang ‘kisah’ di balik benda yang disimpan di balai ini. “Balai Arkeologi Bali ini wilayahnya meliputi Bali, NTT, dan NTB,” jelas Made.
Kunjungan ke Balai Arkeologi Bali tentu berkaitan erat dengan potensi di PALI, yakni dengan ditemukannya Candi Bumi Ayu yang dipastikan mengandung nilai sejarah sangat tinggi tentang peradaban manusia pada masa lalu di Kabupaten PALI. Candi ini merupakan aset wisata sejarah yang bisa dikembangkan kemudian hari.

Puas mengorek kisah sejarah, rombongan pun pamit dengan membawa oleh-oleh berupa majalah Forum Arkeologi. Masing-masing personel rombongan mendapat tiga edisi majalah. Wah, oleh-oleh yang sangat bermanfaat untuk memandu anak-anak muda PALI mencintai sejarah.
Nah, tak kalah seru saat mengunjungi sejumlah obyek wisata di Bali. Mulai dari menyaksikan sunset di Pantai Kuta. Lalu ke Tanah Lot yang menyuguhkan keindahan alam plus kisah magis yang menyertainya. Kisah yang dituturkan pemandu wisata tentang adanya ular suci di pure yang ada di pantai ini.
Keesokan harinya, perjalanan cukup jauh harus ditempuh dengan bus dan speedboat saat rombongan akan mengunjungi Pulau Penyu. Sebuah pulau tempat penangkaran penyu di kawasan Nusa Dua. Jadi tak heran bila di pulau ini bisa dilihat penyu yang berusia seminggu hingga penyu berusia ratusan tahun.

Usai dari Pulau Penyu, anak-anak diberi waktu menikmati permainan watersport yang tersedia di pantai Tanjung Benoa, juga di kawasan Nusa Dua. Di sini ada permainan banana boat, parasailing, jetsky, flying fish, diving, dan snorkling. Sayang, ramainya pengunjung membuat antrean tiap-tiap permainan lumayan panjang. Alhasil rombongan PALI hanya sempat menikmati banana boat.
Pantai selanjutnya yang dieksplore rombongan wisata edukasi PALI adalah Pantai Pandawa. Akses ke pantai ini melewati dua tebing batu bekas pertambangan yang setelah ditata ternyata menghasilkan pemandangan sangat eksotis. Apalagi salah satu sisi tebing dipahat lima patung Pandawa dan Dewi Kunti yang merupakan ibu dari Pandawa Lima.
Hari Minggu (18/11/2018), merupakan hari terakhir di Pulau Dewata. Kegiatan diisi dengan menyaksikan seni tari Barong di daerah Gianyar. Di sini bisa dilihat pementasan tarian khas Bali yang juga mengandung magis namun dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi tontonan yang menegangkan namun aman. Ditambah ada bayolan segar dan sesekali penari berinteraksi dengan penonton, hingga pertunjukan pun tidak membosankan.
Terakhir rombongan berkunjung ke Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli. Desa ini dinobatkan sebagai desa terbersih nomor dua di dunia dan telah mendapat piagam Kalpataru. Banyak yang unik ditemui di desa nan sejuk ini. Seperti masih adanya rumah warga beratap bambu.
Selain itu, Desa Penglipuran memberlakukan peraturan di mana warganya tidak boleh beristri atau bersuami lebih dari satu orang. Bila ada yang melanggar aturan ini maka yang bersangkutan akan ditempatkan di sebuah rumah pada sebidang tanah di areal pemakaman umum dan selanjutnya dikucilkan oleh warga. Bahkan, untuk melewati jalan desa pun tidak boleh.
Dengan semua keunikan ini, plus predikat desa terbersih tingkat dunia, tak heran bila Desa Penglipuran banyak dikunjungi wisatawan. Meskipun letak desa ini jauh di pelosok.
Dari kunjungan ke beberapa obyek wisata di Bali itu, tentu mampu menghadirkan gambaran betapa berharganya aset pariwisata sebuah daerah bila dikelola dengan benar. Seperti halnya PALI yang memiliki Candi Bumi Ayu, Desa Air Hitam dengan fenomena alam berupa air sungai yang terlihat berwarna hitam meski sejatinya air sungai ini jernih, ada pula lapangan golf yang konon tertua di Sumsel, serta lapangan terbang yang sudah ada sejak zaman penjajahan dulu.

Selain berbentuk fisik, potensi pariwisata nonfisik di Kabupaten PALI juga banyak yang menarik. Seperti acara sedekah dusun, lalu tembang dan tari-tarian tradisional yang tentunya diiringi kisah tertentu, serta beraneka ragam makanan atau masakan khas PALI yang citarasanya sangat menjual. Semua itu bisa dipromosikan untuk mengundang wisatawan datang, asalkan dikemas dengan menarik.
“Nah, dengan wisata edukasi ini kita harapkan anak-anak muda terbuka wawasannya, muncul ide-idenya untuk membangun Kabupaten PALI tercinta, bagaimana kita berwisata edukasi di Bali untuk kemudian mampu menggali potensi wisata yang ada di PALI,” kata Haris yang setia mendampingi para nomine lomba esai Kabupaten PALI mengeksplore obyek wisata di Bali. (ama/adv)