Palembang, SumselSatu.com
Di dunia ini ada dua macam cara meraih kesuksesan. Pertama, mereka yang mendapat warisan usaha dari orang tuanya. Kedua, mereka yang memulai usaha dari nol.
Golongan pertama lebih beruntung karena tinggal melanjutkan usaha yang telah dirintis orangtua. Berbeda dengan golongan kedua, yang harus merasakan perjuangan dari bawah untuk mewujudkan impian kesuksesan dengan optimisme dan semangat pantang menyerah.
Seperti kesuksesan H Chairul S Matdiah, SH, MHKes, yang tidak diraih secara instan dan mudah ibarat membalikkan telapak tangan. Ada proses panjang dan rintangan yang telah dilewati sebelum akhirnya menjadi sosok penting di wilayah Sumatera Selatan.
Di balik kesuksesan tersebut, Chairul S Matdiah memiliki sejumlah kisah pedih yang membuatnya harus jatuh bangun. Ia memulai semua usahanya dari nol, meniti segalanya dari bawah, bukan tanpa kelok.
Pria yang selalu berbicara dengan gaya terbuka dan tegas ini, menapaki karier dengan penuh keringat dan pengorbanan.
Chairul S Matdiah muda pernah bekerja serabutan. Menjadi penjual kopi di bawah Jembatan Ampera dan kernet angkot pernah dilaluinya.
“Chairul adalah sosok pejuang, dia selalu berjuang dari bawah. Mulai dari penjual kopi, wartawan, pengacara sukses, hingga duduk sebagai wakil rakyat,” ujar politisi senior PDI Perjuangan Sumsel M Aliandra Pati Gantada, SH, MHum, Jumat (4/4/2025).
Gantada mengatakan, hidup memang bukan seperti sebentang garis lurus di peta. Tidak ada hidup yang tanpa kelokan. Karena manusia memang selalu dihadapkan pada banyak tantangan. Namun, Chairul mampu melewati setiap tantangan yang menghadang.
“Kenal awal tahun 2000, Chairul adalah pengacara Nur Iswanto (Politisi senior PDI Perjuangan Sumsel). Meski Nur Iswanto memiliki permasalahan dengan saya, namun persahabatan kami berjalan seperti biasa, Chairul bersikap profesional,” kata Gantada.
Persoalan yang dimaksud saat terjadi kecelakaan. Mobil yang dikendarai Nur Iswanto menabrak mobil milik Gantada. Persoalan berlanjut ke pengadilan. Nur Iswanto harus duduk di kursi pesakitan.
“Saya melaporkan Nur Iswanto ke polisi dan berlanjut ke persidangan di Pengadilan Negeri Palembang, namun Nur Iswanto divonis bebas, pengacaranya adalah Chairul S Matdiah. Meski begitu, hubungan kami tetap baik, Chairul orang yang profesional,” tegas Gantada.
Hubungan persahabatan keduanya berlanjut di Gedung Rakyat. Gantada menjadi Ketua DPRD Sumsel Periode 2014-2019. Sebelumnya, ia menjadi Pengganti Antar Waktu (PAW) H M Giri Ramanda N Kiemas, SE, MM, yang maju sebagai Calon Wakil Gubernur Sumsel.
“Chairul waktu itu menjadi Wakil Ketua DPRD Sumsel dan hubungan kami sangat dekat sampai hari ini. Hubungan kami sangat harmonis, saya sebagai ketua dan Chairul sebagai wakil ketua, kami sering berdiskusi,” katanya.
“Tidak pernah ada selisih pendapat selama di DPRD, Chairul selalu mendengarkan, karena mengerti hukum, jadi tidak susah bagi Chairul mengendalikan DPRD,” tambahnya.
Hubungan mereka tidak hanya sebatas Chairul dan Gantada. Istrinya, Deo Yuvanti, SH, berteman baik dengan istri Chairul, Hj Anisah Mardin, SH. Chairul juga kenal baik dengan ayah Gantada, Arlan.
“Anisah satu alumni di SMA Negeri 5 Palembang dengan istri saya, sementara ayah saya bersahabat dengan Chairul. Ayah saya adalah Kepala Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (DLLAJR) atau Kepala Dinas Perhubungan Sumsel, sementara Chairul wartawan Majalah Fakta Surabaya,” kata lulusan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri).
Sebagai sahabat, ia melihat Chairul sosok yang tepat waktu. Selain itu, teladan yang baik dari segi pola pikir maupun perilaku yang dilakukan sehari-hari.
“Sampai detik ini hubungan kami sangat baik, seperti kakak dan adik,” katanya.
Sahabat Chairul lainnya adalah Suyanto, SH, MH. Keduanya sama-sama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang. Suyanto adalah mantan Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).
“Persahabatan terjadi saat sama-sama kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang, kami satu angkatan,” kata Suyanto.
Bersahabat sejak semester pertama, kehidupan keduanya masih sama-sama susah. Untuk menambah penghasilan, keduanya aktif mengirimkan tulisan opini tentang hukum di koran Sumatera Ekpress dan Sriwijaya Post (Sripo).
“Aktif mengirimkan tulisan di Sumeks dan Sripo, maklum masih susah, lumayan bisa mendapat honor jika tulisan dimuat di media massa,” ujar mantan Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Lampung dan Bandung itu.
Karena bersahabat, keduanya juga memiliki pacar yang berasal dari SMA Negeri 1 Palembang.
“Pacar saya itu sekarang menjadi istri saya dan bekerja di TVRI Sumsel, sementara pacar Chairul adalah teman istri saya,” ujar Suyanto tertawa.
Di mata Suyanto, Chairul adalah orang yang tepat waktu dan memahami persoalan hukum. Tak jarang dia berdiskusi tentang persoalan hukum.
“Setiap bertemu sering berkoordinasi dan tukar pikiran tentang hukum untuk menambah ilmu dan ikatan persahabatan. Hubungan kami sampai saat ini sangat harmonis,” katanya. #fly