Polri Diminta Tuntaskan Laporan Dugaan Ijazah Palsu Pasangan Herman Deru

IJAZAH PALSU---Syamsul Rizal saat berfoto usai memberikan keterangan kepada wartawan terkait laporan dugaan ijazah palsu Mawardi Yahya, Palembang, Minggu (3/6/2018). (FOTO: SS1/MARISON)

Palembang, SumselSatu.com

Ketua Ormas Putra Sriwijaya Sumsel Mas Agus Rudi meminta kasus dugaan ijazah palsu Mawardi Yahya, pasangan Herman Deru dalam Pemilu Gubernur-Wakil Gubernur (Pilgub) Sumsel 2018, segera dituntaskan. Sebelumnya, dia telah melaporkan kasus itu ke Mabes Polri pada 25 Mei lalu.

“Kami menuntut pengungkapan kasus dugaan ijazah palsu ini dituntaskan, dan dalam waktu dekat kami akan kembali ke Bareskrim Mabes Polri,” ujar Agus kepada wartawan di Palembang, Minggu (3/6/2018) lalu.

Agus menyampaikan, pada 25 Mei lalu, pihaknya telah mendatangi Mabes Polri. “Telah diterima staf Bareskrim Mabes Polri laporan kami,” katanya.

Kata Agus, mereka mempersoalkan ijazah Mawardi Yahya itu sebagai bentuk kepedulian terhadap calon kepala daerah yang ada.

Syamsul Rizal yang mendampingi Agus menambahkan, mereka melaporkan dugaan ijazah palsu tidak ada unsur dendam pribadi kepada Mawardi. Tetapi, lebih kepada tanggung jawab selaku masyarakat demi Pemilukada Sumsel 2018 yang demokratis.

“Pada saat Mawardi mencalonkan diri sebagai Anggota DPRD, ijazah yang dia cantumkan saat itu SMEA, sedangkan dia insinyur, jadi salah satu TU menyeletuk, kenapa Pak Mawardi insinyur menyodorkan SMEA, lalu diganti dengan ijasah STM Tambang,” kata Syamsul.

Pihaknya menuntut Tim Forensik Polda Sumsel melakukan penyelidikan ulang, meski kasus yang ada sudah dilakukan pada 2004 lalu.

Kata Syamsul, dari ijazah atau Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) yang dikeluarkan Sekolah Teknologi Menengah (STM) Jurusan Pertambangan pada 1977, dirinya mengetahui jika tidak pernah ada siswa bernama Mawardi atau Mawardi Yahya kala itu.

Namun nyatanya, terdapat ijazah VI Cm No: 1489 atas nama Mawardi yang dikeluarkan pada 1 Desember 1977 dan ditandatangani Kepala Sekolah Ir Syarbini Husein Alam.

“Ijazah itu kami lihat memang asli tapi tidak berlaku, karena dari 110 siswa saat itu yang lulus hanya 90 orang, dan tidak ada nama Mawardi. Tapi tiba-tiba kok ada,” ungkap Syamsul.

Syamsul menambahkan, foto di ijazah milik Mawardi itu, ukurannya lebih besar dibanding alumni lainnya, yaitu menggunakan ukuran 4 X 6 cm. Sedangkan alumni 1977 menggunakan pas foto ukuran 3 X 4 cm.

“Lalu sidik jari yang ada kena dagunya, padahal kalau kena harus dilakukan ulang, termasuk foto yang ditempel semuanya foto sama. Kemudian daftar induk siswa, harusnya berurutan, namun nyatanya tidak,” ujar Syamsul.

Sebelumnya Mawardi Yahya yang kini menjadi Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumsel pernah menyampaikan kepada media bahwa tuduhan terhadap dugaan ijazah palsu miliknya adalah fitnah, dan merupakan bentuk black campaigne yang sengaja dihembuskan lawan politik.

Mantan Bupati Ogan Ilir (OI) itu laporan dugaan ijazah palsu itu sebagai bentuk pembunuhan karakter dirinya untuk melemahkan dirinya di mata masyarakat.

“Kalau mau tahu tentang ijasah saya, silahkan ditanyakan ke Diknas Sumsel,” katanya.

Mawardi menambahkan, dirinya pernah dua kali menjadi Ketua DPRD OKI, dua periode menjadi Bupati OI dan ijasahnya selalu diverifikasi Diknas Sumsel dan dinyatakan tidak ada masalah. #arf  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here