Pusri Tingkatkan Daya Saing Industri Pupuk Nasional

161
Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama jajaran direksi PT Pusri dan PT Pupuk Indonesia meninjau pabrik Pusri 2B yang baru diresmikan, Jumat (11/5). (FOTO: Humas Pusri)

Palembang, SumselSatu.com

PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) siap meningkatkan daya saing industri pupuk nasional dengan diresmikannya pabrik pupuk Pusri 2B dan groundbreaking pembangunan NPK fusion Pusri sebagai pencanangan proyek NPK 2,4 juta ton, Jumat (11/5).

Peresmian dan pencanangan dilakukan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Menteri BUMN Rini Soemarno didampingi Dirut PT Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat dan Dirut PT Pusri Mulyono Prawiro. Pada kesempatan ini diluncurkan juga Program Pendidikan Vokasi Industri dalam Rangka Membangun Link and Match antara SMK dan Industri.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan, proyek NPK fusion Pusri ini merupakan fase pertama dari program NPK 2,4 juta ton yang dicanangkan PT Pupuk Indonesia. Sedangkan pabrik Pusri 2B yang diresmikan merupakan bagian dari upaya revitalisasi industri pupuk dalam rangka meningkatkan produksi. Dengan demikian, PT Pusri diharap dapat memenuhi pasar perkebunan maupun pertanian di wilayah Sumatera.

Dijelaskan Airlangga,  pembangunan pabrik NPK 2,4 juta ton direncanakan oleh PT Pupuk Indonesia dengan pelaksanaan mulai tahun 2018 sampai 2025 pada PT Pupuk Iskandar Muda, PT Pusri Palembang, PT Pupuk Kujang, dan PT Pupuk Kaltim. Hal ini dilakukan dengan melihat kebutuhan NPK domestik diperkirakan sekitar 9,2 juta ton sedangkan kapasitas produksi PT Pupuk Indonesia baru sekitar 3,3 juta ton, dan swasta baru sekitar 3 juta ton.

“Penggunaan pupuk NPK dapat meningkatkan produksi pertanian dan perkebunan. Sehingga dapat menjaga ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Airlangga.

Airlangga menambahkan, pihaknya mengapresiasi PT Pupuk Indonesia yang terus berusaha untuk mengembangkan industri pupuk nasional. “Saya juga mengapresiasi kepada para pelaku usaha industri yang telah berkomitmen untuk bersama-sama mengembangkan pendidikan vokasi di Indonesia. Salah satunya melalui program pembinaan dan pengembangan SMK berbasis kompetensi yang link and match dengan industri,” kata Menteri Perindustrian.

Pada kesempatan ini, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Aas Asikin Idat mengatakan, PT Pupuk Indonesia optimis industri pupuk dan petrokimia mempunyai prospek yang baik ke depan dimana kebutuhan pupuk NPK akan terus meningkat. Saat ini Pupuk Indonesia grup memiliki pabrik NPK dengan kapasitas 3,1 juta ton per tahun dan akan dikembangkan hingga 5,4 juta ton sampai tahun 2025.

“Pemancangan tiang proyek NPK Fusion II berkapasitas 2 x 100.000 ton merupakan bagian dari program pencanangan NPK 2,4 juta ton,” ujar Aas Asikin.

Lebih lanjut Aas mengungkapkan bahwa potensi pasar NPK di dalam negeri masih cukup besar, terutama untuk sektor perkebunan. “Saat ini kami perkirakan masih terdapat kekurangan pasokan NPK  domestik sekitar 3,9 juta ton, dari total kebutuhan nasional 11,1 juta ton,” jelas Aas.

Dengan hadirnya tambahan kapasitas pabrik ini, sambung Aas, bukan hanya mengamankan kebutuhan dalam negeri, tapi juga dapat semakin menunjang program ketahanan pangan karena penggunaan pupuk NPK terbukti dapat meningkatkan produktivitas pertanian maupun komoditas perkebunan.

“Yang terpenting, mampu meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan hasil panennya,” tambah Aas.

Aas juga menjelaskan, peresmian pabrik Pusri 2B merupakan salah satu bagian dari program revitalisasi industri pupuk. Pabrik ini akan menggantikan pabrik Pusri 2 yang sudah tua dan boros konsumsi gasnya. Kapasitas produksi Pusri 2B adalah 907.500 ton urea/tahun dan 660.000 ton amoniak/tahun. Konsumsi gas Pusri 2B adalah 24 MMBTU/ton urea, jauh lebih rendah dibandingkan Pusri 2, yang konsumsi gasnya mencapai 37 MMBTU/ton urea. Pabrik ini dibangun oleh konsorsium Rekayasa Industri dan Toyo (Jepang), dengan total biaya investasi sekitar Rp 6,3 triliun.

“Sumber bahan baku gas untuk Pusri 2B berasal dari Pertamina EP dan Medco, dan mulai tahun 2019-2023 akan dipasok dari Conoco Phillips Grissik, dengan pasokan sebesar 62 MMSCFD. Pabrik ini juga menggunakan bahan bakar batubara untuk pembangkit steam dan listrik sehingga mengurangi ketergantungan terhadap gas bumi,” terangnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, Mulyono Prawiro mengatakan, pembangunan pabrik NPK fusion berkapasitas 2  x 100.000 MTPY di PT Pupuk Sriwidjaja diperkirakan selesai tahun 2019 sehingga dapat memperkuat pasokan pupuk NPK di sektor pangan, perkebunan, dan hortikultura, terutama untuk wilayah Sumatera.

“Pembangunan pabrik NPK fusion berteknologi steam fused granulation, merupakan salah satu pengembangan kapasitas pupuk NPK yang dilakukan Pupuk Indonesia Grup,” kata Mulyono.

Guna meningkatkan daya saing perusahaan, lanjut Mulyono, pengembangan  NPK memang menjadi prioritas Pupuk Indonesia ke depan. Hingga tahun 2025, selain pengembangan berkapasitas 200.000 ton/tahun di PT Pupuk Sriwidjaja, persiapan proyek juga sedang dilakukan oleh Pupuk Indonesia yaitu pembangunan pabrik NPK di PT Pupuk Iskandar Muda sebesar 1.000.000 ton/tahun, PT Pupuk Kujang Cikampek sebesar 200.000 ton/tahun, PT Pupuk Kalimantan Timur sebesar 1.000.000 ton/tahun.

“Kapasitas produksi urea saat ini sekitar 8,3 juta ton tidak akan kami tambah lagi dan akan kami optimalkan untuk memenuhi kebutuhan domestik dalam rangka ketahanan pangan, serta menggunakan produk urea hasil produksi kita sebagai bahan baku pupuk NPK,” pungkasnya.  #nti 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here