Oleh: Adi Candra (NPM: 2001110063)
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang.
PALEMBANG, salah satu kota tertua di Indonesia yang dahulu menjadi pusat kejayaan Kerajaan Sriwijaya, menyimpan kekayaan sejarah, budaya, dan kuliner yang luar biasa. Di samping kemegahan masa lalunya, kota ini memiliki julukan yang sangat melekat di hati masyarakat luas Kota Pempek atau Kota Empek-Empek. Julukan ini bukan sekadar label tanpa arti, melainkan cerminan bagaimana sebuah kuliner tradisional mampu menyatu dengan urat nadi kehidupan masyarakat, hingga dikenal ke seantero Nusantara bahkan mancanegara.
Akar dari julukan ini bermula dari sejarah panjang pembuatannya. Kuliner legendaris ini memadukan secara harmonis antara daging ikan giling dan tepung sagu, disajikan bersama kuah cuko hitam pekat yang berkarakter asam, manis, dan pedas. Berdasarkan cerita turun-temurun, nama “pempek” diyakini berasal dari sebutan Apek, panggilan untuk lelaki tua keturunan Tionghoa yang dahulu menjajakan makanan ini berkeliling kampung. Seiring berjalannya waktu, seruan konsumen yang memanggil sang penjual bertransformasi menjadi nama makanannya. Hidangan ini pun terus berevolusi menghasilkan beragam variasi tekstur dan bentuk, mulai dari pempek kapal selam yang ikonik, lenjer, adaan, kulit, hingga pempek keriting.
Alasan utama Palembang begitu identik dengan julukan ini karena pempek telah menjelma menjadi simbol budaya sekaligus roda penggerak ekonomi daerah.
Di Palembang, pempek sangat mudah ditemukan di setiap sudut kota, mulai dari lapak gerobak sederhana di pinggir jalan hingga restoran bintang lima. Bagi masyarakat setempat, pempek adalah menu wajib harian yang hadir dalam setiap momen, mulai dari camilan santai keluarga, perayaan hari besar, hingga jamuan formal untuk menyambut tamu kehormatan. Lebih dari sekadar konsumsi lokal, pempek juga menjadi komoditas oleh-oleh paling dicari oleh para pelancong, yang kini distribusinya semakin meluas ke berbagai kota melalui layanan pengiriman kilat berbasis digital.
Pada akhirnya, julukan Kota Pempek menegaskan betapa kuatnya ikatan antara kuliner tradisional dengan identitas dan harga diri sebuah daerah. Pempek bukan lagi sekadar makanan pengisi perut, melainkan warisan budaya hidup yang merekatkan kebersamaan dan mengangkat perekonomian masyarakat Palembang. Dengan cita rasanya yang autentik dan sejarahnya yang kaya, pempek akan terus berdiri tegak sebagai ikon kebanggaan yang memikat dunia, sekaligus menjaga kelestarian budaya di Bumi Sriwijaya.

Mengapa Palembang Tak Bisa Dipisahkan dari Pempek
Bagi kota lain, kuliner mungkin hanyalah subbab dari sektor pariwisata atau sekadar pengisi perut yang berganti tren setiap tahun. Namun bagi Palembang, hubungan antara kota dan makanannya berada di level yang jauh berbeda. Menyebut kata “Palembang” tanpa memikirkan “Pempek” adalah hal yang mustahil. Begitu pula sebaliknya, menyantap sepiring pempek autentik selalu membawa imajinasi kolektif kita ke tepian Sungai Musi. Mengapa kedua hal ini terkunci begitu rapat dalam ruang sejarah dan identitas hingga tak bisa dipisahkan?
Jawabannya melampaui urusan dapur; ini adalah tentang geografi, akulturasi, dan cara hidup.
1. Berkah Geografis Sungai Musi
Alasan paling mendasar mengapa pempek mengakar kuat di Palembang adalah faktor alam. Sebagai kota yang dibelah oleh Sungai Musi, Palembang sejak zaman Kerajaan Sriwijaya telah diberkahi dengan kelimpahan hasil sungai, khususnya ikan air tawar seperti belida, gabus, dan putak.
Masyarakat Palembang kuno memutar otak untuk mengawetkan hasil tangkapan yang melimpah ini. Melalui kreativitas lokal, daging ikan giling kemudian dicampur dengan tepung sagu, pohon yang juga tumbuh subur di tanah rawa Sumatra. Gabungan dua komoditas lokal inilah yang melahirkan pempek. Pempek adalah perwujudan dari geografi Palembang itu sendiri.
2. Monumen Hidup Akulturasi Budaya
Palembang tidak bisa dipisahkan dari pempek karena makanan ini adalah rekaman sejarah sosial mereka. Rasa pempek kuno bersinggungan erat dengan kehadiran para perantau Tionghoa di Tanah Melayu sejak berabad-abad lalu.
Cerita rakyat tentang silsilah nama “Pempek” yang berasal dari panggilan “Apek” (lelaki tua Tionghoa penjaja makanan) adalah bukti nyata. Perpaduan teknik pengolahan ikan ala Tionghoa yang bertemu dengan selera lokal Melayu yang menyukai rasa tajam, pedas, dan asam pada kuah cuko, melahirkan sebuah harmoni kuliner. Pempek adalah bukti fisik bahwa Palembang sejak dahulu adalah kota kosmopolitan yang terbuka dan menghargai keberagaman.
3. “Ngirup Cuko” Sebagai Urat Nadi Kehidupan
Bagi orang luar Palembang, pempek adalah makanan selingan atau camilan sore. Namun bagi Wong Kito, pempek adalah menu wajib sepanjang waktu. Ada sebuah kebiasaan kultural yang unik ngirup cuko (meminum kuah pempek langsung dari wadahnya).
Tradisi ini dilakukan hampir tanpa kenal waktu mulai dari sarapan pagi, menemani obrolan santai di warung kopi, hingga jamuan resmi pemerintahan. Pempek hadir di setiap siklus hidup masyarakat Palembang, dari lahir, menikah, hingga acara kedukaan. Ketika sebuah makanan sudah masuk ke dalam ritual harian dari bangun tidur hingga tidur lagi, ia bukan lagi sekadar kuliner, melainkan sebuah identitas.
4. Penggerak Roda Ekonomi yang Nyata
Dari kacamata manajemen dan ekonomi, pempek adalah “bahan bakar” bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Palembang. Ribuan kepala keluarga menggantungkan hidupnya pada rantai pasok pempek mulai dari nelayan ikan, petani cabai dan gula merah di daerah hulu, pengrajin sagu, hingga kurir pengiriman digital.
Pempek telah berevolusi dari industri rumahan menjadi komoditas ekonomi kreatif berskala nasional dan global. Memisahkan pempek dari Palembang sama saja dengan melumpuhkan salah satu pilar ekonomi kerakyatan terbesar di Bumi Sriwijaya.
Kesimpulan:
Palembang dan pempek tidak bisa dipisahkan karena keduanya saling membentuk. Palembang melahirkan pempek melalui berkah alam dan sejarahnya, sementara pempek membalasnya dengan memberi Palembang sebuah nama besar, kebanggaan kultural, dan kemandirian ekonomi. Pempek adalah Palembang yang berwujud rasa, sebuah warisan yang akan terus hidup selama Sungai Musi tetap mengalir. *










