Menteri PKP Siapkan Opsi Relokasi 15.000 Penghuni Rusun Perumnas Palembang jika Kajian Nyatakan Tak Aman

Rusun 26 Ilir Kota Palembang. (FOTO: SS 1/ARI).

Palembang, SumselSatu.com

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menegaskan persoalan rumah susun (rusun) milik Perumnas di Kota Palembang harus mendapat perhatian serius karena menyangkut keselamatan sekitar 15.000 penghuni. Ia pun meminta opsi relokasi dipersiapkan apabila hasil kajian membuktikan bangunan tersebut sudah tidak aman.

“Aspek keselamatan masyarakat harus ditempatkan di atas pertimbangan bisnis. Karena itu, kondisi bangunan yang telah dinilai bermasalah perlu segera menjadi skala prioritas,” jelas Maruarar.

Penegasan itu disampaikan Maruarar saat zoom meeting bersama Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru yang mengikuti kegiatan dari Griya Agung Palembang, Rabu (30/9/2026). Dalam pertemuan itu, Herman Deru mendorong Kementerian PKP untuk merevitalisasi rusun tersebut.

Maruarar menegaskan akan segera mengundang Direktur Utama Perumnas untuk membahas langkah konkret penanganan rumah susun di Palembang. Ia tidak ingin pemerintah dianggap mengabaikan laporan yang telah disampaikan. Untuk itu, tindak lanjut harus segera dilakukan melalui koordinasi dengan Perumnas dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.

Maruarar juga menekankan pentingnya eksekusi program, bukan hanya sebatas perencanaan.

“Setiap rencana, harus diwujudkan melalui tindakan nyata agar pemerintah mampu membangun kepercayaan masyarakat,” jelasnya.

Kepercayaan publik, lanjutnya, hanya dapat diperoleh melalui hasil kerja yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

“Apabila hasil kajian membuktikan konstruksi rumah susun Perumnas di Kota Palembang sudah tidak aman, relokasi terhadap sekitar 15.000 penghuni harus menjadi salah satu opsi yang dipersiapkan demi menjamin keselamatan masyarakat,” ucapnya.

Kepada Kepala Balai beserta jajarannya, Maruarar meminta segera melakukan investigasi menyeluruh terhadap kondisi rumah susun tersebut. Investigasi diminta mencakup pemeriksaan struktur bangunan, dokumentasi foto dan video, penilaian potensi bahaya, serta wawancara langsung dengan para penghuni guna memperoleh gambaran nyata mengenai kondisi di lapangan.

Selain itu, Maruarar meminta laporan lengkap yang memuat jumlah penghuni, kondisi bangunan, tingkat risiko, profil sosial ekonomi penghuni, besaran sewa, hingga rekomendasi penanganan yang dapat segera dilaksanakan. Laporan tersebut diminta disampaikan secepat mungkin agar pemerintah dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang akurat.

Kondisi Rusun Dinilai Memprihatinkan

Sebelumnya, Gubernur Sumsel Herman Deru meminta perhatian serius Pemerintah Pusat terhadap kondisi rusun tersebut. Terdapat 53 blok rumah susun yang dibangun sejak 1981 dan kini kondisinya dinilai sangat memprihatinkan. Struktur beton bangunan disebut sudah tidak layak sehingga dikhawatirkan berpotensi membahayakan keselamatan para penghuni.

“Sekitar 3.400 lebih unit hunian yang tersebar di 53 blok tersebut dihuni sekitar 14.335 jiwa,” kata dia.

Ia mengingatkan, getaran kecil sekalipun dikhawatirkan dapat memicu kerusakan yang berpotensi berkembang menjadi bencana besar. Karena itu, menurutnya, penanganan dan revitalisasi rumah susun tersebut perlu dilakukan secepatnya.

Herman Deru menambahkan, kawasan rumah susun tersebut berada di lokasi strategis di tengah Kota Palembang. Kondisi tersebut semakin memperkuat urgensi revitalisasi demi menjamin keselamatan dan kenyamanan para penghuni.

“Kami berharap segera menurunkan tim untuk melakukan peninjauan dan kajian teknis di lapangan,” kata dia.

Kajian tersebut diperlukan sebagai dasar untuk mempercepat langkah penanganan rumah susun. Ia juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Palembang telah lama menantikan realisasi program revitalisasi rumah susun tersebut. #fly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here