BMI Minta Pemkab PALI Bedah Rumah Warga Miskin

244
BANTUAN---Ketua BMI PALI Hoirillah saat memberikan bantuan kepada Nuriah (56) dan Romisah (89), warga Dusun I, Desa Benuang, Talang Ubi, PALI. (FOTO: SS1/IST)

PALI, SumselSatu.com

Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, Dewan Pimpinan Cabang Banteng Muda Indonesia (BMI) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), memberi bantuan bahan makanan kepada Nuriah (56) dan Romisah (89), warga Dusun I, Desa Benuang, Talang Ubi, PALI, serta Guci Layar (54), warga Desa Persiapan Dewa Sebane, Talang Ubi.

“Memang sangat layak mendapatkan bantuan. Semoga apa yang kami berikan bisa sedikit meringankan beban hidup mereka,” ujar Ketua BMI PALI Hoirillah kepada SumselSatu, usai mendatangi kediaman Nuriah dan Romisah, Rabu (31/7/2019) pagi tadi.

Sebelumnya, Selasa (30/7/2019) malam lalu, Hoirillah juga menyerahkan bantuan beras, mie instan, ikan kaleng, gula, dan lainnya kepada Guci Layar.

Hoirillah berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PALI juga segera memberikan bantuan melalui berbagai program pemerintah.

“Nenek Romisah dan Bu Nuriah ini hidup berdua di rumah yang tidak layak huni. Saya selaku Ketua BMI PALI meminta Pemkab PALI melakukan Program Bedah Rumah untuk Nenek Romisah dan Bu Nuriah ini,” kata Hoirillah yang merupakan Anggota DPRD PALI Terpilih 2019-2024 tersebut.

Dikatakan Hoirillah, Kepala Desa Benuang menyatakan, telah mengusulkan agar Romisah dan Nuriah mendapatkan Program Bedah Rumah kepada Pemkab PALI. Tetapi, karena tanah tempat mereka tinggal bukan hak milik, maka perbaikan rumah tidak dapat dilakukan.

“Sekarang kepala desa menyatakan sudah ada tanah yang akan dihibahkan untuk Nenek Romisah dan Bu Nuriah. Kami minta Pemkab PALI segera memberikan bantuan,” kata Hoirillah.

“Keduanya juga tidak mendapatkan Program Keluarga Harapan atau PKH yang merupakan Program Pak Jokowi. Kami meminta agar keduanya mendapatkan PKH,” tambah Bendahara DPC PDI Perjuangan PALI tersebut.

Romisah dan Nuriah hidup dengan segala keterbatasan. Mereka memiliki anggota keluarga yang juga dalam kondisi miskin.

Sedangkan Guci Layar hidup seorang diri sejak berpisah dengan istrinya sepuluh tahun lalu. Ia tinggal di gubuk berdinding kayu dan beralaskan tanah dengan ukuran 4 X 6 meter, di pinggir sungai. Ia mempunyai satu orang anak perempuan yang masih duduk di Kelas VI SD.

“Anak saya tinggal bersama istri, tapi saya sering membantunya,” kata Guci.

Ketua BMI PALI Hoirillah saat menyerahkan bantuan kepada Guci Layar (54), warga Desa Persiapan Dewa Sebane, Talang Ubi.
(FOTO: SS1/IST)

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Guci bekerja serabutan. Seperti menyiangi kebun karet warga dengan upah Rp300 ribu-Rp400 ribu per hektar.

“Itupun baru selesai hampir satu bulan, kalau tidak ada yang menyuruh, saya menganggur. Dari pekerjaan itu saya dapat membantu anak saya. Kalau bahan makan habis, saya pinjam ke tetangga, meski belum tahu kapan mengembalikannya,” kata Guci.

Guci mengaku belum ada bantuan dari pemerintah. Beras untuk orang miskin (Raskin) belum didapatnya lima bulan belakangan ini.

Kepala Dusun (Kadus) III Amsah prihatin melihat kondisi warganya. Dia mengaku telah mengajukan agar Guci mendaptkan bantuan pemerintah.

“Sudah kami ajukan, selanjutnya saya tidak tahu,” katanya.

Ketua BMI PALI Hoirillah juga berharap Pemkab PALI memberikan berbagai program bantuan untuk keluarga prasejahtera kepada Guci.

“Bantuan yang kami berikan merupakan bentuk kepedulian kami terhadap warga prasejahtera yang ada di sekitar kami. Pemerintah Pusat maupun Daerah sudah ada program untuk warga prasejahtera, kami ingin, orang seperti Kakek Guci ini dapat merasakan manfaat program tersebut,” kata pria yang akrap disapa Iril itu. #arf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here