Dingin, Manis, dan Menjanjikan: Matcha Kocok di Sudut Kampus Tridinanti, Jadi Minuman Favorit Mahasiswa

MATCHA KOCOK---​Di tengah menjamurnya berbagai brand minuman kekinian, Matcha Kocok yang berlokasi di Jalan Seroja Nomor 1057 tetap konsisten mencuri perhatian. Beroperasi sejak September 2025, usaha mikro ini mampu menjual hingga 25 cup per hari. (FOTO: Istimewa/Yolanda Julin Tina).

Palembang, SumselSatu.com

Di bawah terik matahari Kota Palembang, segelas minuman dingin berwarna hijau pekat tampak begitu menggoda di sebuah kedai sederhana di Jalan Seroja Nomor 1057.

Keberadaannya yang strategis, tepat di depan Hotel Parkside’s dan bersebelahan dengan kedai makan Payung Hijau, menjadikannya primadona bagi mahasiswa Universitas Tridinanti Palembang. Bagi kalangan mahasiswa Universitas Tridinanti dan pelajar di sekitarnya, minuman ini telah menjadi gaya hidup.

Matcha bukan sekadar tren sesaat. Di balik meja racik, tangan terampil Mar sibuk mencampur bubuk matcha premium dengan susu dan pemanis. Inilah Matcha Kocok, sebuah usaha rintisan yang membuktikan bahwa di tengah gempuran brand besar, rasa otentik dan kedekatan personal tetap punya ruang di hati pelanggan.

Dalam operasionalnya, usaha ini tidak dijalankan sendiri oleh pemilik, melainkan dibantu oleh seorang karyawan bernama Mar, yang bertugas melayani pembeli sekaligus meracik minuman. Peran karyawan menjadi penting dalam menjaga kualitas rasa dan pelayanan kepada pelanggan.

​”Awalnya ya biasa saja, tapi lama-lama mulai banyak yang langganan. Yang beli bukan cuma anak kampus, kadang orang lewat juga suka mampir,” ujar Mar, karyawan yang menjadi ujung tombak pelayanan Matcha Kocok.

Matcha Kocok hadir sejak September 2025. Meski belum genap setahun dan belum memiliki cabang, konsistensi penjualannya patut diacungi jempol.

Salah satu strategi bisnis yang menarik dari Matcha Kocok adalah lokasinya yang strategis, tepat di depan Hotel Parkside’s dan berdampingan dengan kedai Payung Hijau. Kedekatan ini menciptakan ekosistem bisnis yang saling menguntungkan (cross-selling). Pembeli yang datang untuk makan siang di Payung Hijau hampir dipastikan melirik Matcha Kocok sebagai pelengkap dahaga.

Dengan jam operasional mulai pukul 09.00 hingga 20.00 WIB, gerai ini menjadi titik temu bagi mereka yang mencari kesegaran dengan harga yang ramah di kantong mahasiswa.

​Setiap harinya, tak kurang dari 25 cup ludes terjual. Angka ini menjadi sinyal positif bahwa pasar minuman berbasis teh hijau ini sangat stabil. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa meskipun masih baru, minuman ini sudah memiliki pasar tersendiri. Harga yang terjangkau serta rasa yang enak menjadi alasan utama pelanggan tertarik untuk membeli kembali.

“Kalau ramai banget sih belum ya, tapi tiap hari pasti ada saja yang beli. Biasanya habis sekitar 20 sampai 25 cup, harganya juga kita bikin terjangkau, biar anak-anak kampus nggak mikir dua kali buat beli,” kata Mar tersenyum ramah.

Meski menu saat ini masih tergolong klasik, perpaduan matcha, susu, dan gula, potensi pengembangannya sangat besar. Untuk memperkuat sisi bisnisnya, Matcha Kocok berencana melakukan diversifikasi produk. Inovasi rasa seperti matcha vanilla, brown sugar, hingga sentuhan cokelat diprediksi akan semakin meningkatkan nilai jual.

​Selain rasa, aspek visual seperti desain kemasan (packaging) yang menarik juga menjadi agenda penting. Bagi generasi muda, estetika cup bukan sekadar pembungkus, melainkan bagian dari pengalaman mengonsumsi produk yang layak dibagikan ke media sosial.

“Yang penting rasanya dijaga sih, biar yang sudah pernah beli bisa balik lagi,” ucap Mar.

Rasa Bintang Lima, Harga Mahasiswa

Bagi para mahasiswa, pertimbangan utama dalam memilih jajanan adalah keseimbangan antara rasa dan harga. Hal inilah yang ditawarkan oleh Matcha Kocok.

​”Jujur, di sini matchanya kerasa banget, nggak cuma manis gula saja. Pas banget buat nemenin ngerjain tugas atau sekadar nongkrong habis kelas. Harganya juga sangat bersahabat buat kantong kita yang tiap hari harus berhemat,” ujar salah satu mahasiswa Universitas Tridinanti yang sedang mengantre.

​”Biasanya kalau habis makan di sebelah (Payung Hijau), minumnya pasti beli di sini. Praktis dan seger banget. Apalagi Kak Mar yang melayani juga ramah, jadi kita yang beli juga ngerasa nyaman,” tambahnya.

Matcha Kocok adalah potret nyata dunia kewirausahaan tingkat mikro. Tantangan berupa persaingan ketat dan fluktuasi pembeli harian dihadapi dengan sikap optimistis dan ketekunan.

“Tantangannya seperti persaingan dengan minuman lain dan jumlah pembeli yang belum stabil setiap harinya. Meski demikian, dengan konsistensi rasa dan pelayanan yang baik, usaha ini memiliki peluang untuk terus berkembang,” katanya.

​”Ya dijalani saja dulu, yang penting ada pemasukan tiap hari,” tutup Mar lugas.

Kisah Matcha Kocok menunjukkan bahwa usaha kecil tidak harus langsung besar untuk bisa menghasilkan. Dengan lokasi yang tepat, harga yang terjangkau, serta pelayanan yang ramah, usaha sederhana pun dapat memberikan pemasukan harian yang cukup menjanjikan.

Matcha Kocok adalah sebuah catatan tentang bagaimana sebuah ide sederhana, jika dikelola dengan lokasi yang tepat dan pelayanan yang tulus, mampu bertahan dan tumbuh di tengah ramainya jajanan kota. (Penulis: Yolanda Julin Tina, Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang).

PROFIL DATA USAHA

​Nama Unit Usaha: Matcha Kocok

​Tanggal Operasional: September 2025

​Lokasi Operasional: Jalan Seroja Nomor 1057, 20 Ilir D. III, Kecamatan Ilir Timur I, Kota Palembang (Tepat di depan Hotel Parkside’s)

​Waktu Operasional: 09.00 – 20.00 WIB (Buka Setiap Hari)

​Rataan Penjualan: ± 25 cup per hari

​Target Pasar Utama: Mahasiswa (khususnya Universitas Tridinanti), pelajar, dan masyarakat umum di sekitar Jalan Seroja.

​Keunggulan Kompetitif: Harga terjangkau, lokasi strategis di area pendidikan/perhotelan, dan rasa matcha yang konsisten.

​Mitra Terkait: Berdampingan dengan usaha kuliner Payung Hijau (menciptakan ekosistem saling mendukung antara penyedia makanan dan minuman/ cross-selling).

Rencana Pengembangan: ​Diversifikasi menu (rencana penambahan varian rasa seperti Matcha Vanilla, Brown Sugar, dll). ​Peningkatan nilai jual melalui desain kemasan (branding) yang lebih modern.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here