
Bengkulu, SumselSatu.com
PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pengendalian Pembangkitan Bengkulu memiliki dua pembangkit listrik yakni PLTA Musi dan PLTA Tes. Khusus PLTA Musi menghasilkan daya 210 MW sehingga mampu mengamankan kebutuhan listrik di Provinsi Bengkulu, Sumsel, hingga Lampung.
Hal tersebut diungkapkan General Manager UPDK Bengkulu Yuliandra saat menerima kunjungan media gathering “Build a Great Synergy between PLN and Media” di ruang rapat UPDK Bengkulu, Selasa (18/12/2018).
Yuliandra memaparkan, PLTA Musi merupakan bendungan tipe run of river dengan gedung pembangkit (power house) yang berada 400 meter di bawah tanah. PLTA Musi memanfaatkan aliran Sungai Musi di sebelah hulu dan pembuangan akhir ke aliran Sungai Simpang Aur di sebelah hilir dengan daya terpasang sebesar 3 x 70 MW atau 210 MW.
“Dengan daya sebesar itu, PLTA Musi dapat mensuplai kebutuhan listrik di Bengkulu, Sumsel, dan Lampung. Untuk wilayah Bengkulu listrik kita sangat aman,” kata Yuliandra.
Sementara PLTA Tes merupakan salah satu pembangkit listrik tertua di Indonesia. PLTA Tes awalnya terdiri dari dua unit dengan daya terpasang masing-masing unit 660 KW. Kemudian pada tahun 1992 mulai beroperasi unit pembangkit baru dengan daya terpasang 4 x 4,4 MW dan saat ini sedang dilakukan pekerjaaan pembangunan unit extention dengan daya terpasang 4,4 MW. PLTA Tes merupakan pembangkit listrik dengan tipe run of river, yang memanfaatkan aliran Sungai Kerahun untuk menggerakkan turbin.
Yuliandra mengatakan, kebutuhan listrik merupakan kebutuhan utama. Tujuannya untuk meningkatkan perekonomian, karena setiap kegiatan masyarakat membutuhkan listrik. “Pengelolaan pembangkitan di sini akan dialirkan, dijual teman-teman PLN area,” ucapnya.
Melalui media gathering ini, lanjut dia, program yang PLN bisa tersampaikan ke masyarakat. Sinergitas PLN dan media menjadi kunci utama.
“PLTA Musi ini adalah obyek vital sistem kelistrikan. Karena ini sudah terkoneksi di Sumatera,” bebernya.
Senior Manager SDM PLN UIW S2JB Fery menambahkan, PLTA Musi adalah yang pertama dan terbesar di Sumatera.
“Kendala di lapangan adalah teman-teman bekerja 400 meter di bawah tanah. Potensi kalau terjadi gempa dan banjir, taruhannya nyawa,” ujar dia.
Mengenai tarif listrik, Fery menuturkan, sudah hampir tiga tahun terakhir tarif tidak naik. ”Tarif listrik di Indonesia paling murah se-ASEAN,” kata Feri.
Manager UP III Bengkulu, Nova Sagita menambahkan, tarif yang dikenakan PLN pernah tidak naik. Tarif PLN ini tidak boleh naik sampai 2019.
Untuk CSR, lanjut Nova, dari tahun ke tahun untuk Bengkulu selalu naik. Bahkan untuk unit terbesar di Indonesia.
“Untuk pemberian CSR kami berkoordinasi dengan stakeholder. Pada 2016, CSR Rp175 juta, 2017 Rp1,6 miliar, dan 2018 Rp2 miliar. Dana CSR itu sebagian besar untuk infrastruktur dan sarana ibadah. Kita berharap, masyarakat di sekitar sini merasakan manfaat dari PLN,” tandasnya. #nti