Inflasi Era Digital, Wajah Lebih Halus, Nyaris Tak Kasat Mata

Octa Bella Rahmadania, Nafisa Putri Aulia, dan Lailatul Bhadriyah. (FOTO: SS 1/IST).

Oleh:

Octa Bella Rahmadania, Nafisa Putri Aulia, dan Lailatul Bhadriyah.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti (Unanti) Palembang.

INFLASI dipahami sebagai kenaikan harga barang dan jasa yang terukur melalui indeks harga konsumen. Namun, di era gaya hidup digital, inflasi hadir dengan wajah yang lebih halus, nyaris tak kasatmata. Bukan lagi hanya soal harga cabai di pasar atau tarif transportasi umum, tetapi juga menyusup melalui aplikasi, biaya layanan digital, bahkan cara konsumsi generasi muda.

Fenomena ini sering disebut ‘Inflasi gaya hidup digital’, ketika masyarakat mengeluarkan lebih banyak uang bukan karena harga barang pokok melonjak, tetapi karena perubahan pola konsumsi, layanan streaming, ongkos kirim online, pembelian kosmetik lewat e-commerce, hingga kebutuhan paket data yang terus meningkat. Semua ini menciptakan tekanan baru pada pengeluaran rumah tangga tanpa selalu tercatat dalam angka inflasi resmi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: NET).

Bank Sentral di Persimpangan Baru

Bagi Bank Indonesia (BI), tugas menjaga inflasi kini tidak sesederhana mengatur suku bunga acuan. Tantangan baru muncul, bagaimana memastikan kebijakan moneter tetap relevan ketika sebagian besar konsumsi masyarakat beralih ke ranah digital, yang pergerakan harganya sering sulit dipantau.

Jika dulu inflasi sangat dipengaruhi harga pangan dan energi, kini perilaku belanja digital mampu menggeser peta pengeluaran rumah tangga. BI tidak bisa hanya melihat tabel statistik, tetapi juga harus membaca tren gaya hidup, lonjakan belanja promo di e-commerce, maraknya paylater, hingga biaya berlangganan aplikasi yang membentuk kebutuhan baru.

Inflasi Psikologis, Lebih Mahal daripada Nyata

Yang menarik, gaya hidup digital memunculkan inflasi psikologis. Harga mungkin stabil, tetapi masyarakat merasa pengeluarannya lebih boros karena kebutuhan digital terus bertambah. Misalnya, harga kopi di kafe tidak naik, tetapi tren ngopi sambil kerja yang dibagikan di media sosial membuat konsumen mengalokasikan lebih banyak uang ke sana.

Fenomena ini membuat BI menghadapi dimensi baru, menjaga ekspektasi inflasi bukan hanya lewat angka, tetapi juga lewat edukasi dan literasi keuangan digital. Sebab, dalam ekonomi modern, persepsi sering lebih berpengaruh daripada realitas.

BI harus beradaptasi dengan cara baru menggandeng big data, kecerdasan buatan, dan data realtime dari platform digital. (ILUSTRASI).

Tantangan Data dan Algoritma

Satu masalah lain adalah ketidaktransparanan algoritma harga digital. Marketplace bisa menaikkan ongkos kirim secara dinamis, aplikasi transportasi online menggunakan surge pricing, dan platform langganan bisa menambah biaya tanpa banyak publikasi. Semua itu sulit ditangkap oleh metode penghitungan inflasi tradisional.

BI harus beradaptasi dengan cara baru menggandeng big data, kecerdasan buatan, dan data realtime dari platform digital. Dengan begitu, inflasi gaya hidup digital bisa lebih cepat dideteksi sebelum memengaruhi stabilitas ekonomi makro.

Dari Penjaga Stabilitas ke Penuntun Perilaku

Bank sentral tidak cukup hanya menjaga stabilitas moneter. Di era digital, BI juga dituntut menjadi penuntun perilaku konsumsi masyarakat. Program literasi keuangan, regulasi paylater, dan pengawasan ekosistem fintech menjadi bagian dari strategi menekan inflasi gaya hidup.

Masyarakat perlu diajak memahami bahwa inflasi tidak hanya datang dari pasar tradisional, tetapi juga dari kebiasaan digital yang membentuk pengeluaran wajib baru. Jika tidak dikendalikan, tekanan inflasi ini bisa memperlebar kesenjangan sosial antara mereka yang bisa beradaptasi dan mereka yang terjebak gaya hidup konsumtif.

Inflasi yang kasatmata mudah diatasi dengan kebijakan moneter klasik. Namun, inflasi yang tak kasatmata, lahir dari algoritma, gaya hidup, dan persepsi psikologis, memerlukan pendekatan yang lebih inovatif.

Bank Indonesia kini menghadapi tugas baru tidak hanya mengendalikan harga, tetapi juga memahami cara hidup masyarakat digital.

Stabilitas moneter masa depan tidak cukup diukur dari harga barang di pasar, melainkan juga dari harga langganan aplikasi, biaya layanan digital, hingga pola konsumsi yang dipicu tren media sosial.

Dalam dunia baru ini, keheningan inflasi bukan berarti ketidakadaan tekanan, melainkan keberhasilan bank sentral membaca tanda-tanda kecil sebelum menjadi badai besar. * (Editor: Ferly Marison).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here