
Palembang, SumselSatu.com
Pekerjaan rumah (PR) Pemerintah Kota (Pemko) Palembang masih cukup banyak. Dalam hal ini, keberadaan komunitas-komunitas yang ada bisa diandalkan untuk membantu pemerintah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tersebut.
Gagasan ini diutarakan tokoh inspirasi perempuan Liza Sako dalam bincang tokoh yang digelar Mata Kotaku di Musi Mania Cafe, Sabtu (29/12/2018), dengan tema ‘Be Inspiration.’
Selain Liza Sako yang memiliki #bikin keren Plembang, hadir juga tokoh lain yakni Manusia 1001 Komunitas Hardi Bubut. Turut hadir para calon legislatif (caleg) dari Partai Hanura di Palembang.
Liza mengungkapkan, dari diskusi ini, yang dirasakan para komunitas adalah kurangnya perhatian dari eksekutif dan legislatif terhadap keberadaan komunitas.
“Saya sebagai Ketua DPC Hanura Palembang, sudah memerintahkan kepada caleg Partai Hanura Palembang untuk merangkul komunitas yang ada di sini, karema mereka punya ide bagus untuk memajukan Palembang,” kata Liza.
Namun, lanjut Liza, komunitas-komunitas ini juga membutuhkan sosok yang bisa mengembangkan mereka.
“Kita apresiasi semua kegiatan yang sudah dilakukan komunitas dalam memajukan dan memperkenalkan Kota Palembang,” ujar dia.
Liza mengakui, ada dinas yang memperhatikan komunitas namun jumlahnya masih sedikit. “Pekerjaan rumah Palembang ini banyak sekali, dan tugasnya juga banyak. Kalau komunitas ini bisa membantu ide dan pemikiran, harusnya mereka dirangkul. Tahun 2019 mereka harus lebih diperhatikan,” ucapnya.
Menurut Liza Sako, keberadaan komunitas telah mempromosikan Palembang. Sebagai contoh, komunitas Runner yang senang menggelar acara. Bahkan, dalam satu tahun, komunitas ini ada even spektakuler.
“Peran komunitas sangat berpengaruh untuk majunya suatu kota. Sebagai contoh Bandung, komunitasnya bersumbangsih dalam mempromosikan Bandung. Komunitas yang ada di Palembang juga memiliki ide kreatif untuk memajukan Palembang,” ujar Liza.
Ketika disinggung ada komunitas yang mati suri, Liza Sako menyarankan untuk mencari tahu penyebabnya. “Apakah karena tidak ada dana, tidak ada basecamp, atau lainnya. Kita rangkul kembali agar bisa berkembang, misalnya diberikan basecamp atau rumah untuk bisa berkumpul,” tandasnya.
Sementara itu, Manusia 1001 Komunitas Hardi Bubut menambahkan, dengan niat yang tulus maka komunitas ini bisa maju dan berkembang di Palembang.
“Kita lihat di Palembang komunitas belum jadi profesi yang menjanjikan. Padahal di pulau Jawa, terutama Bandung, komunitas itu mendapat gaji untuk operasionalnya,” kata Hardi.
Dia sendiri mencetuskan keinginan untuk membuat pesta komunitas. Pihaknya sudah bersinergi dengan komunitas lain yang sesuai bidang-bidangnya. #nti