Palembang, SumselSatu.com
Karto Yitno Ahmad Sadiyo atau Mbah Karto, jemaah haji asal Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur OKU Timur (OKUT), Sumatera Selatan (Sumsel), diberikan anugerah Illahi berupa usia panjang, yakni mencapai 105 tahun atau satu abad lebih.
Di usianya yang sudah uzur ini, Mbah Karto mendapat panggilan ke Tanah Suci tahun 2023 setelah mendaftar haji pada 2014 lalu, dari bertani pada sawah miliknya seluas 5 hektar.
Dari bertani pada sawah miliknya seluas 5 hektar itu, sedikit demi sedikit hasil bertani dia kumpulkan dan ditabung. Kemudian setelah cukup Rp25 juta untuk setoran awal, Mbah Karto pun mendaftar haji di bank.
Dia juga sudah menyiapkan biaya untuk pelunasannya. Seharusnya, Mbah Karto sudah berhaji pada tahun 2020 lalu. Tapi gara-gara Covid-19 melanda, ia pun belum berangkat.
Tuminah Istri Mbah Karto yang sama-sama berasal dari Yogyakarta sudah lebih dulu berpulang. Istrinya, meninggal dunia pada 1986. Kurang lebih 33 tahun setelah mereka menetap di OKUT.
Mbah Karto tiba di Asrama Haji Palembang bersama sekitar 355 jemaah dari OKU Timur, Jumat (26/5/2023), pukul 08.30 WIB. Usianya telah senja, namun Mbah Karto sangat semangat saat tiba di Asrama Haji Kota Palembang.
Dengan gagah tanpa bantuan kursi roda ataupun tongkat, Mbah Karto duduk dengan jemaah lainnya di barisan fast track khusus jamaah lanjut usia (lansia).
“Saya sendirian (tanpa pendamping dari keluarga),” kata Mbah Karto.
Mbah Karto mengaku sangat bahagia dan senang akhirnya bisa berangkat haji. Ia mensyukuri berkat sehat yang Allah SWT berikan untuknya.
“Orang tua dulu memang usianya sampai 150 tahun, 200 tahun, Alhamdulillah masih sehat bisa berjalan dengan gagah,” katanya.
Bagi Mbah Karto, dia bisa berangkat haji pada usia seuzur saat ini merupakan suatu anugerah dan berkah dari Allah SWT.
“Tidak semua orang bisa datang ke rumah Allah SWT. Banyak duit, tapi belum tentu dapat hidayah, tergerak untuk berhaji,” ucap dia.
Sehari-harinya saat masih sehat, Mbah Karto suka bertani. Bahkan saat muda, bersama pemuda Indonesia lainnya berjuang melawan penjajah.
“Dulu, Mbah senjatanya pakai bambu runcing, ikut juga menjaga tahanan,” ceritanya.
Tips Sehat Mbah Karto
Dengan usianya yang lebih dari 100 tahun ini, Mbah Karto bisa melakukan pola hidup sehat, salah satunya dengan tidak merokok.
“Enggak merokok, makan yang sehat, yang direbus dan tidak berminyak, sekarang sukanya makan makanan yang lembut-lembut,” tuturnya.
Salah satu tips sehat Mbah Karto di usianya yang telah senja tapi tetap sehat dan kuat berjalan, yaitu sebelum Salat Tahajud di sepertiga malam, Mbah Karto mandi terlebih dulu agar badan segar.
Sama halnya dengan jemaah lainnya, Mbah Karto sudah cukup lama daftar haji, dan lantaran tahun lalu pandemi, Mbah Karto baru bisa berangkat haji 2023 ini.
“Tidak ada sakit, cuma batuk-batuk saja,” ujarnya.
Mbah Karto menceritakan bagaimana ia bisa tinggal dan menetap di OKUT cukup menarik. Dia awalnya ikut program transmigrasi. Era zaman pemerintahan Presiden Soeharto, transmigrasi memang gencar dilakukan.
Saat itu masih banyak lahan kosong yang harus diolah. Termasuk di wilayah Sumsel. Tiap transmigran dapat 2 hektar. Dia ingat betul, saat itu tahun 1953. Saat itu usianya 35 tahun.
Kini, usianya sudah sepuh. Tak lagi pulang ke kampung halamannya di Yogyakarta. Dia sudah nyaman di kabupaten itu. Pendengarnya sudah banyak berkurang. Harus bicara dekat telinganya baru dia mendengar yang diobrolkan. Karena itu, Mbah Karto sudah tidak sabar untuk segera menginjakkan kaki ke Tanah Suci. #Ari