
Palembang, SumselSatu.com
Di balik megahnya Rumah Dinas Wali Kota Palembang, Selasa (10/2/2026) siang, sebuah lembaran baru bagi pendidikan rakyat resmi dibuka. Bukan sekadar seremonial tanda tangan, kehadiran Rumah Belajar Wong Kito membawa angin segar bagi para orang tua yang selama ini mengkhawatirkan biaya tambahan untuk pendidikan anak-anak mereka.
Program Bimbingan Belajar (Bimbel) gratis ini menjadi bukti nyata bagaimana sebuah ruang birokrasi bisa bertransformasi menjadi ruang yang hangat dan penuh ilmu.
Dahulu, Rumah Aspirasi dikenal sebagai “pos jaga” bagi warga yang ingin meluapkan keluhan melalui program Palembang Gercep. Namun, di bawah arahan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Palembang, tempat ini kini tampil lebih berwarna.
”Awalnya fokus pada pengaduan. Tapi kami melihat ada kebutuhan yang lebih besar. Warga butuh ruang publik yang ramah keluarga,” ujar Adi Zahri, Kepala Dinas Kominfo Palembang saat penandatanganan kerja sama Rumah Belajar Wong Kito.
Kini, setiap Selasa dan Kamis, suasana di sana bakal lebih riuh. Bukan oleh keluhan, melainkan oleh tawa anak-anak yang asyik di taman bacaan atau konsentrasi siswa kelas VI SD yang sedang membedah soal-soal pelajaran di kelas bimbel.
Sinergi Kampus dan Kota: Mencetak Masa Depan
Langkah Pemko Palembang tidak main-main. Mereka merangkul Universitas PGRI Palembang untuk memastikan bahwa meski gratis, kualitas pengajaran tetap “kelas wahid”.
Rektor Universitas PGRI Assoc Prof Dr H Bukman Lian menyebut kolaborasi ini sebagai terobosan yang langka di Sumatera Selatan. Melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), universitas ini akan menerjunkan calon guru terbaik mereka untuk mendampingi adik-adik kelas VI SD.
”Kami siapkan modul khusus dan tenaga pengajar pilihan. Ini adalah kontribusi kami untuk anak-anak Palembang,” ungkap Bukman dengan optimis.
Harapan di Balik Papan Tulis
Bimbel gratis ini bukan sekadar bantuan akademik. Di tengah tantangan ekonomi, kehadiran Rumah Belajar Wong Kito adalah bentuk nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat. Harapannya sederhana namun mendalam agar tidak ada lagi anak Palembang yang tertinggal hanya karena tak mampu membayar biaya les tambahan.
Bagi warga Palembang, gedung ini bukan lagi sekadar kantor. Ia telah menjadi “Rumah” dalam arti yang sesungguhnya—tempat di mana aspirasi didengar dan masa depan anak-anak mulai dirajut. #fly









