
Lahat, SumselSatu.com
Hari menunjukkan pukul 10.00 WIB. Sejumlah pria berbadan cukup kekar berdiri di aliran Sungai Lematang, Kabupaten Lahat, Minggu (28/5/2023), tanpa memakai baju dan hanya memakai celana pendek.
Tanpa menghiraukan cuaca yang cukup terik dan sinar matahari yang terasa menyengat kulit, mereka terlihat asyik berendam di tengah aliran Sungai Lematang. Sejumlah warga itu tengah melakukan penambangan batu koral dan pasir secara tradisional.
Mereka terlihat asyik berendam di tengah sungai. Sementara di tangannya digenggam sebuah sekop yang digunakan untuk memindahkan pasir dan batu koral yang diambil dari dalam Sungai Lematang.
Pasir dan batu yang didapat kemudian diletakkan ke dalam ban mobil bekas berukuran besar yang bagian tengahnya dilapisi triplek tebal dan kain agar tidak jebol dan tumpah. Ada juga warga yang meletakkan pasir dan batu koral ke dalam perahu kecil.
Sejak dulu, warga sekitar Sungai Lematang menjadikan batu dan pasir sebagai sumber pencaharian. Mereka mampu menambang batu dan pasir sebanyak dua kubik per hari yang dijual dengan harga Rp130 ribu per kubik untuk pasir dan Rp100 ribu per kubik untuk batu koral.
Kesehariannya, para penambang ini menyusuri sungai untuk mengeruk pasir dan batu koral. Kadang sendiri maupun dengan beberapa rekan. Dalam sehari mereka bisa mengumpulkan uang sekitar Rp70 ribu. Pasir dan batu yang dikumpulkan dijual ke pengepul (orang yang mengumpulkan pasir dan batu koral) yang berada di pinggir sungai.
“Pasir dan koral yang kami dapat biasanya kami jual ke para pengepul. Atau bisa nego langsung kalau ada yang mau beli,” ujar Agus, warga Kecamatan Lahat, saat dibincangi, Minggu (28/5/2023).
Untuk harga satu bak mobil pikap pasir dan batu berkisar Rp100ribu-150 ribu. Kebanyakan warga menambang pasir dan batu koral menggunakan ban.
“Kalau dulu memang banyak pakai perahu, tapi saat ini sebagian besar pakai ban,” katanya.
Ahmad, warga Kabupaten Lahat yang tinggal di sekitaran Sungai Lematang, memilih pekerjaan sebagai penambang pasir dan batu koral untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Derasnya arus sungai pun harus dihadapi untuk mengambil pasir dan batu koral di tengah-tengah sungai.
Agar bisa menampung pasir dan batu koral yang dikumpulkannya, lubang di tengah ban bekasnya ditutupi dengan triplek yang tebal.
“Sekali menambang itu butuh waktu satu jam, untuk memenuhi isi ban. Jadi harus berkali-kali menambang ke tengah sungai, agar cukup untuk satu bak mobil pikap,” katanya.
Selain pasir, Ahmad juga mengumpulkan batu koral di bibir sungai hingga ke dalam sungai. Harga jual ke penadah pun sama dengan harga pasir, yaitu Rp100,000.
Harganya bisa lebih tinggi jika batu koral dipecahkan menjadi kecil sebelum dijual ke pengepul. Namun untuk mengumpulkan batu koral, tidak semudah menambang pasir. Beban batu yang berat menyulitkannya untuk mengumpulkannya dalam waktu singkat.
“Kalau satu jam bisa penuh pasir saat menambang, kalau batu koral hanya setengahnya saja. Jadi, cuma dapat Rp50,000 untuk batu koral dalam sehari,” ujarnya.
Sementara Edi, warga Desa Ulak Lebar, Kecamatan Lahat, mengatakan, untuk membangun rumah dia membeli pasir dan batu koral di pinggir Sungai Lematang.
“Ya harganya lebih murah. Apalagi kalau ada mobil pikap sendiri,” ujar Edi. #Tria