Oleh: Intan Permatasari
Mahasiswi Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang.
NILAI tukar rupiah yang terus merosot terhadap dolar Amerika Serikat bukan sekadar angka abstrak yang berkedip di layar monitor Bursa Efek. Bagi masyarakat urban hingga pelosok, pelemahan mata uang ini adalah hantaman nyata yang langsung merobek isi dompet. Sebagai mahasiswa, saya melihat fenomena ini bukan lagi sebagai riak ekonomi biasa, melainkan alarm keras bagi daya beli masyarakat dan stabilitas nasional.
Ketika rupiah melemah, biaya impor berbagai barang dan bahan baku menjadi lebih mahal. Indonesia masih bergantung pada impor untuk sejumlah kebutuhan, termasuk bahan bakar minyak (BBM), bahan baku industri, serta berbagai produk pendukung lainnya. Akibatnya, harga barang dan jasa di dalam negeri cenderung mengalami kenaikan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor non-migas kita masih didominasi oleh bahan baku/penolong dan barang modal yang mencapai lebih dari 70% dari total impor. Artinya, saat dolar perkasa, biaya produksi industri domestik otomatis membengkak.
Salah satu dampak yang paling terasa adalah kenaikan harga BBM. Ketika biaya impor energi meningkat akibat melemahnya rupiah, pemerintah atau perusahaan penyedia energi harus menanggung biaya yang lebih besar. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga BBM. Jika harga BBM naik, biaya transportasi dan distribusi barang juga ikut meningkat. Dampaknya, harga kebutuhan pokok seperti beras, sayuran, hingga makanan olahan ikut mengalami kenaikan.
Selain BBM, industri plastik juga terdampak cukup besar. Sebagian bahan baku plastik masih berasal dari impor yang pembayarannya menggunakan dolar AS. Saat rupiah melemah, biaya produksi plastik meningkat. Akibatnya, harga berbagai produk berbahan plastik seperti kemasan makanan, botol minuman, kantong plastik, hingga perlengkapan rumah tangga menjadi lebih mahal. Kenaikan biaya produksi ini pada akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual produk.
Dari perspektif mahasiswa, kondisi ini tidak hanya memengaruhi masyarakat umum tetapi juga kehidupan pelajar dan mahasiswa. Biaya transportasi ke kampus, harga makanan, kebutuhan sehari-hari, hingga biaya pendidikan tidak langsung dapat meningkat. Daya beli masyarakat menurun karena pengeluaran semakin besar, sementara pendapatan belum tentu bertambah.
Pelemahan rupiah juga dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika masyarakat mengurangi konsumsi karena harga barang mahal, aktivitas ekonomi menjadi lebih lambat. Dunia usaha pun menghadapi tantangan karena biaya produksi meningkat dan keuntungan berkurang.
Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah yang tepat dari pemerintah, Bank Indonesia, dan seluruh pelaku ekonomi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Penguatan sektor produksi dalam negeri, pengurangan ketergantungan impor, serta peningkatan daya saing industri nasional menjadi solusi jangka panjang yang perlu terus didorong.
Sebagai generasi muda, mahasiswa tidak hanya perlu memahami dampak pelemahan rupiah, tetapi juga harus memiliki kesadaran ekonomi yang baik. Dengan memahami kondisi ekonomi negara, kita dapat lebih bijak dalam mengelola keuangan dan ikut mendukung penggunaan produk dalam negeri sebagai bentuk kontribusi terhadap perekonomian Indonesia.
Pada akhirnya, pelemahan rupiah bukan sekadar isu ekonomi makro, melainkan persoalan yang dampaknya dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat. Ketika rupiah melemah, harga-harga naik dan beban hidup masyarakat bertambah. Oleh sebab itu, menjaga stabilitas rupiah berarti menjaga kesejahteraan rakyat Indonesia. *










