
Palembang, SumselSatu.com
Pembangunan jalan tol Kayu Agung – Palembang – Betung (Kapal Betung) dengan panjang total 111,69 kilometer saat ini mencapai 45 persen. Itu berarti jalan bebas hambatan tersebut belum bisa dipakai untuk jalur mudik.
Kepala Divisi 6 PT Waskita Karya, Gunadi Soekardjo, saat memberi keterangan kepada pers, Jumat (1/6), menjelaskan, mengenai fungsional Lebaran 2018, pemerintah pusat melalui kantor staff presiden telah mengadakan rapat pada akhir April 2018. Rapat memutuskan bahwa proyek ini belum diperuntukkan mendukung akses mudik, mengingat progress dan kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.
“Jadi intinya jalan tol ini tidak diperuntukkan untuk jalur mudik tahun 2018 ini, karena pengerjaannya masih butuh waktu lama,” kata Gunadi.
Pembangunan jalan tol Kapal Betung dibagi menjadi tiga seksi yakni seksi 1 dari Kayu Agung-Palembang dengan panjang 33,5 kilometer, seksi 2 dari Palembang-Musi Landas dengan panjang 33,9 kilometer, dan seksi 3 dari Musi Landas -Betung dengan panjang 44,69 kilometer.
Gunadi mengatakan, pembangunan konstruksi jalan tol ini dimulai pada Juni 2016 dan dijadwalkan selesai pada Juni 2019. Struktur tanah di lokasi pembangunan 80 persen berupa rawa dan gambut yang selalu tergenang air sepanjang tahun. Sehingga memerlukan penanganan dengan metoda khusus untuk mencegah terjadinya kerusakan-kerusakan pada saat operasional.
“Metoda khusus penanganan tanah lunak yang telah digunakan antara lain vacuum consolidation, soil preloading, pile slab, dan soil replacement. Untuk membangun jalan tol di kondisi tanah seperti ini memerlukan waktu pelaksanaan yang lebih lama dibandingkan konstruksi jalan tol di tanah yang keras. Untuk progres saat ini mencapai sekitar 45 persen,” ujarnya.
Gunadi menjelaskan, jalan tol ini termasuk proyek strategis nasional Trans Sumatera yang akan terhubung dengan ruas dari Bakauheni -Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung. Sehingga nantinya waktu tempuh dari Bakauheni ke Betung hanya sepertiga dari waktu tempuh saat ini. Untuk ruas dari Kayu Agung ke Palembang awalnya harus ditempuh dalam waktu 2,5 jam, nantinya pengendara hanya membutuhkan waktu 45 menit.
“Disamping mengurangi waktu tempuh terhadap jarak yang ada, pembangunan jalan tol ini juga diharapkan dapat mengurangi biaya operasional pengiriman barang kebutuhan pokok maupun subtitusi. Sehingga dapat meningkatkan perekonomian di sekitar lokasi yang dilalui, dan diharapkan dapat mempercepat proses perkembangan dan pemekaran wilayah dengan adanya jalur transportasi antara kota dan wilayah yang lebih cepat dan lebih mudah,” bebernya.
Saat ini, lanjut Gunadi, Waskita Karya sedang bekerja keras untuk menyelesaikan pembangunan jalan tol ini tepat waktu. Semua sumber daya perusahaan, baik peralatan, finansial, dan material dikerahkan untuk mencapai tujuan tersebut. “Walaupun menghadapi cuaca musim hujan yang sampai sekarang belum berhenti, semangat untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktunya yang tetap terjaga,” ujar Gunadi.
Dia menambahkan, kendala saat ini yang dihadapi dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan terutama terkait dengan pengadaan tanah. Pengangkutan material dari quarry ke lokasi terkendala akses jalan yang terbatas. Terlebih lagi kondisi cuaca hujan mengakibatkan akses jalan rusak/tergenang sehingga pengiriman material tertunda.
“PT Waskita Karya selalu berusaha untuk meminimalkan gangguan dan ketidaknyamanan selama pembangunan dan berkomitmen untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan selama proses pembangunan jalan tol yang bertujuan untuk kemajuan Provinsi Sumsel,” tegas Gunadi. #ard