523 Anak di Sumsel Suspek Flu Singapura, Sekolah dan Arena Bermain Diminta Waspada

Ilustrasi gejala flu Singapura.

Palembang, SumselSatu.com

​Dinas Kesehatan Sumatera Selatan (Dinkes Sumsel) meminta pihak sekolah, orang tua, dan pengelola tempat hiburan anak untuk meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini dikeluarkan menyusul temuan 523 kasus suspek Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau Flu Singapura di wilayah Sumsel sejak minggu pertama hingga minggu ke-23 tahun 2026.

​Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa menjelaskan bahwa lingkungan tempat berkumpulnya anak-anak sangat rentan menjadi lokasi penyebaran penyakit infeksi virus ini.

​”Sekolah, tempat kursus, dan arena bermain indoor menjadi lokasi yang berisiko tinggi terhadap penyebaran penyakit. Jika ada satu anak saja yang terinfeksi dalam satu kelas, maka risiko penularan kepada teman-teman sekelasnya cukup tinggi,” ujar Ira, Senin (22/6/2026).

​Menurut Ira, HFMD merupakan penyakit infeksi virus musiman yang sangat mudah menular. Peningkatan kasus biasanya terjadi saat masa peralihan musim serta pada puncak musim kemarau. Pada periode cuaca tersebut, anak-anak cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dengan beraktivitas di dalam ruangan secara bersama-sama.

​Kondisi iklim tropis yang panas dan lembap, tingginya interaksi antar-anak, serta kebiasaan menjaga kebersihan yang belum optimal menjadi faktor utama yang mendukung cepatnya penyebaran HFMD di wilayah Sumsel.

Ira mengatakan, ​penularan virus ini dapat terjadi dengan cepat melalui beberapa cara seperti percikan air liur (droplet) saat anak batuk atau bersin, kontak langsung dengan cairan dari lepuhan kulit penderita dan kontak dengan feses penderita.

​Berdasarkan data yang dihimpun Dinkes Sumsel, Kota Palembang menjadi daerah dengan jumlah suspek tertinggi dengan 102 kasus, disusul oleh sejumlah kabupaten/kota lainnya. Selanjutnya, ​Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) 75 kasus, ​Kabupaten Musi Banyuasin 61 kasus, ​Kota Prabumulih 58 kasus,​Kabupaten Lahat 54 kasus, ​Kabupaten Muara Enim 54 kasus, ​Musi Rawas Utara / OKU Timur / Empat Lawang masing-masing 3 kasus dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) 1 kasus.

​Ira juga meluruskan salah kaprah yang selama ini beredar. Penyakit ini disebabkan oleh virus Coxsackie A16 dan Enterovirus 71, sehingga murni infeksi virus musiman dan tidak berkaitan dengan negara Singapura maupun penyakit influenza.

​Pihak sekolah dan orang tua diimbau untuk segera mengenali gejala awal HFMD pada anak, yang meliputi demam dan tubuh terasa lemas, muncul sariawan di rongga mulut, munculnya ruam atau bintik berisi cairan pada telapak tangan, telapak kaki, bokong, maupun bagian tubuh lainnya.

“​Orang tua diminta untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala berat seperti kejang, sesak napas, atau penurunan kesadaran, karena kondisi tersebut berpotensi menimbulkan komplikasi serius,” katanya.

​Untuk menekan penyebaran di lingkungan sekolah dan tempat bermain, masyarakat diimbau memperketat penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Langkah pencegahan yang disarankan meliputi membiasakan anak cuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, tidak berbagi barang pribadi, serta menerapkan etika batuk yang benar. Selain itu, pastikan anak mendapatkan asupan gizi seimbang dan waktu istirahat yang cukup.

​Dinkes Sumsel menegaskan, jika ditemukan anak dengan gejala HFMD di sekolah, langkah penanganan dan isolasi mandiri di rumah harus segera dilakukan agar penularan dapat dicegah sejak dini. #fly

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here