
Pagar Alam, SumselSatu.com
Pemerintah Kota (Pemko) Pagar Alam memperkuat langkah mendukung swasembada pangan nasional dengan menjadikan bawang putih sebagai komoditas unggulan. Kota berhawa sejuk ini menargetkan diri menjadi salah satu pemasok utama bawang putih di Sumatera Selatan.
Sebagai tahap awal, Pemko Pagar Alam telah menyiapkan lahan seluas 10 hektare yang akan dikembangkan secara bertahap hingga mencapai 50 hektare dalam beberapa tahun ke depan.
Program ini mendapat dukungan langsung dari Pemerintah Pusat berupa bantuan 1,2 ton benih bawang putih beserta sarana produksi pertanian, yang akan disalurkan kepada kelompok tani di wilayah dengan ketinggian 900–1.000 meter di atas permukaan laut.
Ketinggian tersebut dinilai paling ideal untuk budidaya bawang putih di Indonesia. Program ini merupakan bagian dari implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya pada poin ketahanan pangan melalui peningkatan produksi komoditas strategis di daerah.
Walikota Pagar Alam Ludi Oliansyah menyebut budidaya bawang putih memiliki peluang besar di kotanya karena kondisi geografis dan ketinggian wilayah yang mendukung.
“Hari ini kita melakukan persiapan untuk penanaman bawang putih yang merupakan bagian dari Asta Cita Bapak Presiden melalui Polri. Tanggal 19 nanti kita akan melakukan penanaman perdana se-Indonesia. Pagar Alam menjadi salah satu daerah yang mendapat tugas untuk mendukung program ketahanan pangan ini,” ujar Ludi.
Ia menjelaskan, bawang putih merupakan kebutuhan pokok nasional, dan Pagar Alam memiliki keunggulan dari sisi elevasi serta iklim dataran tinggi.
“Bawang putih merupakan kebutuhan yang sangat mendasar di Indonesia. Kita memiliki banyak keuntungan, yang pertama adalah ketinggian. Secara geografis kita sangat cocok untuk menanam bawang putih,” jelasnya.
Ludi menyebut kebutuhan bawang putih nasional mencapai sekitar 700 ribu ton per tahun, dengan sekitar 80 persennya masih dipenuhi dari impor.
“Kita punya lahan luas dan aset pertanian yang bisa terus dikembangkan. Potensi ini harus dimaksimalkan agar memberi nilai tambah langsung ke kantong petani,” katanya.
Ia optimistis, jika dikelola secara serius dan berkelanjutan, Pagar Alam tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga bisa menjadi sentra produksi bawang putih Sumsel yang memasok ke daerah lain, bahkan provinsi tetangga.
Selain bernilai ekonomi tinggi, permintaan bawang putih terus meningkat seiring pertumbuhan industri kuliner dan rumah tangga. Karena itu, dia mengajak seluruh kelompok tani memanfaatkan bantuan benih sebaik-baiknya.
“Ini bukan hanya soal menanam. Ini soal kemandirian pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani Pagar Alam,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian Kota Pagar Alam Diki Herlambang, menegaskan kesiapan jajarannya mengawal program dari hulu ke hilir.
“Kami menyambut baik bantuan 1,2 ton benih dari pusat. Secara agroklimat, wilayah Pagar Alam di ketinggian 900-1000 mdpl sangat cocok untuk bawang putih. Tugas kami memastikan kelompok tani mendapat pendampingan teknis, mulai dari pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama, sampai pascapanen agar produktivitasnya optimal,” jelasnya.
Diki menambahkan, keberhasilan tahap awal di lahan 10 hektare akan menjadi tolok ukur untuk perluasan ke 50 hektare. Ia juga mendorong petani membentuk jejaring pemasaran bersama agar harga di tingkat petani tetap stabil. #fly









