
Palembang, SumselSatu.com
Suasana haru menyelimuti Kota Palembang saat ribuan warga mengantarkan jenazah Gubernur Sumatera Selatan periode 2008-2018 H Alex Noerdin Bin Noerdin Pandji, ke tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Kebun Bunga, Kamis (26/2/2026).
Almarhum menghembuskan napas terakhir pada Rabu (25/2/2026) pukul 13.30 WIB di RS Siloam Semanggi, Jakarta, setelah berjuang melawan infeksi saluran empedu dan pankreas.
Jenazah diterbangkan dari Jakarta pada Kamis pagi dan sempat disemayamkan di rumah duka Jalan Merdeka, Palembang. Sebelum dikebumikan, almarhum disalatkan di Masjid Agung Palembang dengan dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dan masyarakat luas.
Alex Noerdin dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga yang telah ia siapkan sejak tahun 2003. Lokasi makam ini berada di dekat makam putra keduanya, mendiang Deni Akendra Alex. Wasiat mengenai lokasi pemakaman ini disampaikan almarhum jauh sebelum wafat sebagai bentuk keinginan untuk berdekatan dengan keluarga tercinta.

Dodi Reza Alex, putra almarhum, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat atas segala kesalahan ayahnya semasa hidup.
”Ayahanda telah menyelesaikan tugasnya di dunia. Kami memohon doa agar segala amal ibadahnya diterima. Jika ada janji atau urusan yang belum tuntas semasa beliau menjabat, kami mohon kiranya dapat diselesaikan secara kekeluargaan bersama kami,” ujar Dodi, mewakili pihak keluarga besar, memberikan pernyataan penutup yang menyentuh hati di depan liang lahat.
Gubernur Sumsel Herman Deru menyampaikan bahwa Sumatera Selatan kehilangan salah satu putra terbaiknya.
”Terlepas dari dinamika politik yang ada, kita tidak bisa menafikan bahwa beliau adalah peletak batu pertama modernisasi Palembang. Visi beliau tentang sport tourism melalui Jakabaring telah menempatkan nama Sumatera Selatan di peta dunia,” ujar Deru.
Walikota Palembang Ratu Dewa mengenal almarhum sebagai seorang visioner.
”Bagi kami para birokrat, Pak Alex adalah guru yang keras dalam kedisiplinan namun sangat visioner. Beliau selalu menekankan bahwa Palembang tidak boleh hanya menjadi penonton, tapi harus jadi pemain utama di kancah nasional,” kata Dewa.
Di luar kalangan pejabat, suara haru datang dari masyarakat umum. Salah seorang warga yang hadir di masjid menyampaikan rasa terima kasihnya.
”Saya ingat betul tahun 2008, sekolah gratis benar-benar meringankan beban kami. Beliau mungkin punya kekurangan, tapi jasa beliau untuk pendidikan anak-anak kami di desa sangat nyata,” katanya. #fly










