Palembang, SumselSatu.com
Aliansi Penyelamatan Benteng Kuto Besak (AP-BKB) resmi menerbitkan maklumat penyelamatan situs bersejarah Benteng Kuto Besak (BKB). Langkah ini diambil sebagai bentuk keprihatinan mendalam sekaligus desakan keras kepada Pemerintah Pusat dan daerah untuk menghentikan proyek pembangunan yang dinilai mengancam kelestarian ikon sejarah Kota Palembang tersebut.
Koordinator AP-BKB Vebri Al Lintani mengatakan, gerakan tersebut lahir dari kegelisahan berbagai elemen masyarakat yang menilai keberadaan Benteng Kuto Besak saat ini menghadapi ancaman serius, baik dari sisi pengelolaan maupun pembangunan di sekitarnya.
Menurut Vebri, Benteng Kuto Besak bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol sejarah dan identitas budaya masyarakat Palembang yang harus dijaga keberlangsungannya. Dalam maklumat yang diterbitkan pada Selasa (12/5/2026), AP-BKB menyampaikan empat poin utama yang menjadi tuntutan mereka kepada pemerintah dan pihak terkait.
Poin pertama adalah dorongan percepatan alih kelola Benteng Kuto Besak kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. AP-BKB menilai situs bersejarah tersebut membutuhkan pengelolaan profesional berbasis pelestarian budaya, bukan hanya dimanfaatkan sebagai kawasan aktivitas biasa.
“Benteng Kuto Besak merupakan warisan sejarah bangsa. Pengelolaannya harus mengedepankan aspek pelestarian dan perlindungan cagar budaya,” kata Vebri.
Poin kedua, AP-BKB meminta Menteri Pertahanan dan Kodam II/Sriwijaya menghentikan pembangunan proyek gedung bertingkat tujuh di sekitar kawasan BKB. Mereka menilai proyek tersebut berpotensi mengancam struktur bangunan bersejarah dan dapat mempengaruhi status cagar budaya Benteng Kuto Besak.
Menurut AP-BKB, pembangunan di kawasan cagar budaya seharusnya memperhatikan aspek konservasi dan tidak merusak nilai historis situs tersebut. Mereka khawatir pembangunan fisik yang masif akan berdampak terhadap kelestarian benteng dalam jangka panjang.
Selain itu, AP-BKB juga menyoroti sikap pemerintah daerah yang dianggap belum menunjukkan langkah konkret dalam penyelamatan BKB. Mereka meminta Pemerintah Kota Palembang dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan tidak hanya menjadi penonton, tetapi tampil sebagai pihak terdepan dalam menjaga warisan sejarah daerah.
“Pemerintah daerah harus hadir dan berpihak pada upaya pelestarian sejarah. Jangan hanya menjadi penghubung tanpa langkah nyata,” ujar Vebri yang juga budayawan kota Palembang.
Dalam maklumat tersebut, AP-BKB juga menegaskan perjuangan yang dilakukan bersama Kesultanan Palembang Darussalam bukan untuk mengambil alih pengelolaan secara sepihak. Mereka menyebut gerakan itu murni bertujuan mengembalikan marwah dan nilai sejarah Benteng Kuto Besak sebagai simbol kejayaan Palembang di masa lalu.
Menurut mereka, pelestarian BKB penting agar generasi mendatang tidak hanya mengenal benteng tersebut melalui buku sejarah, tetapi masih dapat melihat dan merasakan langsung keberadaan situs bersejarah itu.
AP-BKB menilai kondisi saat ini menjadi momentum penting untuk menentukan masa depan Benteng Kuto Besak. Mereka mengingatkan bahwa kerusakan situs sejarah tidak bisa dipulihkan dengan mudah apabila dibiarkan terus berlangsung.
“Sekarang hanya ada dua pilihan, menyelamatkan Benteng Kuto Besak sebagai kebanggaan sejarah atau membiarkannya perlahan kehilangan makna dan nilai budayanya,” tegas Vebri yang juga mantan Ketua Dewan Kesenian Palembang.
Aliansi tersebut juga meminta negara segera hadir sebelum kerusakan terhadap situs sejarah itu semakin meluas. Mereka berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama menjaga Benteng Kuto Besak sebagai warisan budaya penting di Sumatera Selatan.
“Waktu tidak akan menunggu birokrasi yang lamban, dan kerusakan yang merambat tidak akan berhenti karena perdebatan di ruang rapat. Saat ini hanya ada dua pilihan. Kita turun tangan menyelamatkan BKB sebagai kebanggaan abadi, atau kita berdiam diri hingga ia runtuh menjadi kenangan yang memalukan.Negara harus hadir sebelum sejarah ini benar-benar rata dengan tanah,”kata Vebri.
Sebelumnya Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis, MDA, menyampaikan komitmen dalam menjaga, merawat, dan melestarikan Cagar Budaya Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang sebagai salah satu situs sejarah dan budaya yang penting di Sumatera Selatan.
“Kodam II/Sriwijaya komitmen menjaga, merawat dan melestarikan Cagar Budaya Benteng Kuto Besak Palembang,” kata Pangdam saat menerima zuriat Kesultanan Palembang Darussalam dan Masyarakat Palembang di Markas Kodam II Sriwijaya.
Pangdam juga membahas tentang fasilitas kesehatan dengan Keluarga Kesultanan Palembang, dan mengajak mereka untuk berkunjung sport Cagar budaya, ke Rumah Sakit Benteng dan Kesdam II/Sriwijaya. Pangdam juga menyampaikan rencana untuk menata kawasan BKB lebih modern dan bermanfaat bagi orang banyak dan masyarakat. #rel










