
Palembang, SumselSatu.com
Menyoroti bahaya karhutla serta perlunya perubahan tata kelola sumber daya alam (SDA), EcoVoice Palembang menyerukan sepuluh tuntutan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Seruan itu disampaikan dalam aksi kampanye di kawasan Bundaran Air Mancur, Palembang, Minggu (11/10/2026), pukul 16.00 WIB.
“Pertama, menghentikan komersialisasi dan konsesi SDA skala besar serta mengevaluasi tata kelola hutan dan SDA berdasarkan syariat Islam. Kedua, menindak tegas perusahaan yang terindikasi terlibat karhutla melalui verifikasi dan penegakan hukum yang transparan,” seru Fajar, Anggota EcoVoice, dalam aksi tersebut.
Ketiga, memperkuat pencegahan karhutla sepanjang tahun melalui perlindungan hutan, pengawasan, dan deteksi dini, serta menghentikan normalisasi karhutla sebagai bencana musiman. Keempat, segera memadamkan karhutla dan melindungi masyarakat dari asap serta pencemaran udara demi menjamin hak atas lingkungan yang aman dan sehat.
Kelima, menghentikan gimik dan pernyataan yang dinilai nirempati serta menuntut pemimpin menjalankan tanggung jawabnya dalam melindungi dan mengurus rakyat sesuai tuntunan Rasulullah saw. Keenam, mengubah paradigma pengelolaan negara dan SDA yang berorientasi pada keuntungan ekonomi semata menuju pengelolaan berdasarkan syariat Islam demi kemaslahatan rakyat.
Ketujuh, mengembalikan kepemilikan umum (milkiyyah ‘ammah) atas SDA sesuai syariat Islam. EcoVoice menyatakan bahwa hutan, tambang, dan sumber daya alam yang termasuk milik umum wajib dikelola negara berdasarkan hukum syarak, bukan dikuasai swasta atau asing demi keuntungan segelintir pihak.
Kedelapan, menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam pengelolaan SDA dan seluruh urusan kehidupan. Kesembilan, menyerukan perjuangan menegakkan kembali Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah sebagai institusi politik yang menurut EcoVoice menerapkan syariat Islam secara menyeluruh, termasuk dalam pengelolaan SDA dan perlindungan rakyat.
Kesepuluh, mengajak kaum Muslim menjadikan karhutla sebagai momentum muhasabah dan perjuangan perubahan sistemik berdasarkan Islam agar pengelolaan SDA sesuai ketentuan Allah SWT dan manfaatnya kembali bagi kemaslahatan rakyat.
Sebelumnya, EcoVoice menyatakan karhutla tidak cukup ditangani melalui pemadaman, tetapi membutuhkan evaluasi mendasar terhadap tata kelola hutan dan SDA.
“Bumi Milik Allah, Kelola dengan Islam Kaffah!”, “Enjoy dengan Sekulerisme? Ngeri! Karhutla di Dunia. Neraka di Akhirat”, dan “Generasi Bukan Tumbal Oligarki” menjadi sejumlah pesan yang dibawa peserta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap persoalan karhutla.
Dalam pernyataan sikapnya, EcoVoice menyoroti dampak karhutla terhadap kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan transportasi. Mereka menilai pengelolaan SDA yang berorientasi pada keuntungan ekonomi berisiko mengabaikan keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Melalui aksi tersebut, EcoVoice berharap persoalan karhutla tidak hanya dipandang sebagai kebakaran yang harus dipadamkan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengevaluasi tata kelola hutan dan SDA.
“Agar pengelolaan SDA sesuai ketentuan Allah SWT dan manfaatnya kembali bagi kemaslahatan rakyat,” kata Fajar. #arf









