Warga Palembang Tercekik Asap Karhutla: Sesak Napas dan Mata Perih, Kualitas Udara Tembus Kategori Berbahaya

Kualitas udara kini berada pada tingkat yang membahayakan jiwa dan kesehatan warga.

KABUT ASAP---Kondisi kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti kawasan jalan raya di Kota Palembang. (FOTO: SS 1/ARI).

Palembang, SumselSatu.com

​”Keluar rumah sedikit saja dada langsung terasa sesak dan mata perih,” keluh Siti Aminah (38), seorang warga kawasan Plaju, Palembang.

Pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Palembang, Kamis (22/10/2026), kini berada pada tingkat yang membahayakan jiwa dan kesehatan warga.

​Kondisi udara yang tak kunjung membaik dalam dua pekan terakhir memaksa masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Asap menyengat dari pembakaran lahan bahkan dilaporkan telah menerobos masuk ke permukiman warga.

​”Dalam dua pekan terakhir ini udara rasanya tidak layak dihirup. Keluar rumah sedikit saja dada terasa sesak dan mata perih. Kami terpaksa memperketat pemakaian masker di dalam rumah sekalipun, karena bau asap pembakaran lahan sudah masuk ke dalam ruangan,” ujar Siti.

​Dampak buruk ini juga dirasakan langsung oleh Rian (29), seorang pengemudi ojek online di Palembang. Selain mengancam kesehatan, kabut asap tebal di pagi hari membatasi jarak pandang dan mengganggu mata pencahariannya.

​”Pagi-pagi kabutnya tebal sekali, pandangan terbatas dan bikin batuk-batuk di jalan. Mau tidak mau harus tetap jalan cari nafkah, tapi risikonya kesehatan taruhannya. Harapannya pemerintah bisa gerak cepat memadamkan api di titik-titik utama supaya udara Palembang bisa normal kembali,” ungkap Rian.

​Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya

​Penderitaan warga Palembang sejalan dengan data kualitas udara yang tercatat sangat buruk. Pada Rabu (21/10/2026) pukul 06.00 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kota Palembang melonjak hingga menyentuh angka 557, yang secara resmi menempatkannya dalam kategori berbahaya.

​Memburuknya kualitas udara ini dipicu oleh melonjaknya jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) yang mencapai 1.277 titik pada Rabu pagi, setelah sempat melandai beberapa hari sebelumnya.

​Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumsel menunjukkan bahwa Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi episentrum karhutla terbesar dengan 695 titik. Posisi berikutnya disusul Banyuasin sebanyak 326 titik dan Musi Banyuasin sebanyak 128 titik.

​Tiga wilayah ini menyumbang 1.149 titik panas atau hampir 90 persen dari total keseluruhan hotspot di Sumsel.

​”Terpantau sebanyak 1.277 titik panas hingga Rabu pukul 06.00 WIB. Kabupaten OKI menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, mencapai 695 titik,” terang Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman.

​Fluktuasi Tren Titik Panas

​Sebaran titik panas lainnya terpantau meluas di beberapa daerah, antara lain Musi Rawas (28 titik), Muara Enim (24 titik), OKU Timur (23 titik), Musi Rawas Utara (16 titik), Ogan Ilir (12 titik), Lahat (11 titik), Penukal Abab Lematang Ilir/PALI (8 titik), OKU Selatan (3 titik), OKU (2 titik), dan Kota Prabumulih (1 titik).

​Lonjakan 1.277 titik panas ini menandai kembali meningkatnya eskalasi kebakaran lahan setelah sempat mengalami penurunan.

​Sebelumnya pada 14 Oktober 2026, tercatat 2.456 titik panas yang sempat naik ke 2.791 titik (15 Oktober), lalu melandai berturut-turut menjadi 2.559 titik (16 Oktober), 1.122 titik (17 Oktober), naik sedikit ke 1.560 titik (18 Oktober), dan turun signifikan ke 753 titik pada 19 Oktober.

​Namun, tren penurunan tersebut tidak bertahan lama. Angka titik panas kembali merangkak naik menjadi 947 titik pada 20 Oktober hingga melambung ke 1.277 titik hari ini. Secara kumulatif sepanjang Januari hingga 20 Oktober 2026, BPBD Sumsel telah mencatat sebanyak 111.451 titik panas di seluruh wilayahnya.

​Atas situasi darurat ini, masyarakat mendesak Satgas Karhutla dan pemerintah daerah untuk segera memperkuat langkah pemadaman, baik operasi darat maupun pemadaman udara (water bombing) dan rekayasa cuaca, agar kabut asap tidak terus menyiksa warga Palembang dan sekitarnya. #fly

​

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here