Disbud Palembang Akan Daftarkan ‘Ngidang’ Masuk WBTB Indonesia

16
NGIDANG---Suasana Acara Ngidang di di Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Selasa (26/11/2019). (FOTO: SS1/YANTI)

Palembang, SumselSatu.com

Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Palembang berencana mendaftarkan ngidang ke Direktorat Jenderal Kebudayaan (Ditjenbud) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Ngidang diharapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.

“Harapan kami tradisi ini dapat dilestarikan,” ujar Kepala Disbud (Kadisbud) Palembang Zanariah, Selasa (26/11/2019).

Zanariah menyampaikan hal itu kepada wartawan pada acara ngidang di Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang. Kegiatan itu dilakukan sebagai upaya Pemerintah Kota (Pemko) melestarikan tradisi, budaya, dan adat istiadat yang ada di Palembang.

Zanariah menambahkan, ngidang atau ngobeng merupakan tradisi yang sudah lama dan kembali diangkat agar anak–anak muda di Palembang lebih mengenal tradisi dan budaya daerahnya.

“Jangan sampai punah tradisi ngobeng ini. Dengan makan seperti ini (ngidang-red) kita punya kesempatan untuk mengobrol satu sama lain, dan mengambil makanannya pun tak perlu antri, namun secara bergantian saling oper piringnya,” kata Zanariah.

Dia menambahkan, pada kegiatan tadi, makanan khas Palembang yang dihidangkan di lantai yakni, malbi, nasi kuning, sambal nanas, ayam kecap, dan beberapa makanan lainnya.

Salah satu tokoh adat Palembang R M Ali Hanafiah menambahkan, tradisi ngidang yang dilakukan hari ini untuk mengenang Sultan Mahmud Badaruddin II, yang wafat pada 26 November 1852 di pengasingan di Ternate.

“Tradisi ngidang khas Palembang ini ada ketika saat acara sedekahan. Tradisi ini masih ditemui di beberapa tempat di Kota Palembang seperti di kawasan Seberang Ulu dan Tangga Buntung,” kata Ali Hanafiah.

Terpisah, tokoh masyarakat Pelang Kenidai, Pagar Alam, Abdul Komaruddin mengatakan, di Pelang Kenidai tradisi ngidang masih dijalani tidak sedikit warga.

“Ketika makan siang atau makan malam di rumah, masih banyak yang ngidang,” kata Komaruddin.

Dia menjelaskan, ngidang itu adalah meletakkan nasi serta lauk pauk (menghidangkan) di atas tikar atau lapiek di lantai rumah/tanah, untuk dimakan secara bersama-sama.

Komaruddin menerangkan, makanan yang dihidangkan disebut idangan. Pria yang pensiunan guru aparatur sipil negara (ASN) itu menceritakan, dulu masyarakat di desanya ketika menggelar persedekahan, seperti resepsi pernikahan, menghidangkan makanan dengan ngidang.

“Tetapi sekarang sudah sangat jarang di acara persedekahan pernikahan yang ngidang. Kebanyakan sudah prasmanan, kalau orang Pagar Alam bilang perancisan. Karena prasmanan lebih mudah dan tidak terlalu merepotkan,” kata Komar.

Dia menjelaskan, dalam ngidang, ada istilah ngubeng. Yakni, menggambil piring-piring dan gelas-gelas yang kotor sekaligus menggantinya dengan yang bersih, menambahkan nasi dan lauk pauk serta minuman, serta merapikan kembali posisi hidangan.

“Orang yang ngubeng itu disebut tukang ngubeng. Dulu tukang ngubeng itu adalah anak-anak remaja putera atau bujangan serta pria yang belum lama berumahtangga atau bathin budak,” terang Abdul Komaruddin. #nti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here