Kelurahan Diminta Berpartisipasi Kelola Sampah

22
RAKOR ---- Asisten I Setda Kota Palembang Sulaiman Amin saat hadir di rapat koordinasi membahas penanganan sampah di Palembang, Rabu (8/5/2019). (FOTO: SS1/YANTI)

Palembang, Sumsel Satu.com

Seluruh pihak kelurahan di Kota Palembang diminta ikut berpartisipasi dalam penanganan sampah dengan cara pengelolaan barang bekas menggunakan instalasi reuse, reduce, dan recycle (3R).

Permintaan tersebut disampaikan Asisten I Setda Kota Palembang Sulaiman  Amin pada rapat koordinasi penanganan sampah di Ruang Parameswara Kota Palembang, Rabu (8/5/2019).

Sulaiman  Amin mengatakan, Pemko Palembang ingin agar sampah dapat memberi nilai tambah. Dia mencontohkan Kecamatan Kalidoni yang sudah dapat melakukan penanganan sampah dengan cara mengelolanya.

“Membawa semua sampah ke TPS merupakan hal biasa. Diharapkan pihak kecamatan dan kelurahan mampu mengelolanya secara mandiri. Saya berharap program penanganan sampah di tingkat kelurahan dapat terlaksana pada 2019 di seluruh kelurahan,” ujar Sulaiman.

Dia membeberkan, volume sampah di Palembang sekitar 1.000 hingga 1.400 ton per hari. Sampah yang mampu diangkut armada Dinas Kebersihan Kota Palembang sekitar 900 ton. Artinya, ada sekitar 500 ton sampah yang tak terangkut butuh penanganan pihak kecamatan dan kelurahan. “Bagaimana peran dan partisipasi kita dalam pengolahan sampah ini,” tambahnya.

Tentang pengelolaan sampah yang telah dilakukan, Camat Kalidoni Arie Wijaya menjelaskan, Kecamatan Kalidoni dengan lima kelurahan atau sekitar 90 ribu penduduk hanya ditangani dua kontainer truk sampah. Armada yang minim ini tidak optimal dalam mengumpulkan seluruh sampah.

“Kami mulai mengelola sampah secara mandiri dengan mendirikan TPS. Sampah ini sebuah potensi bisnis yang luar biasa,” kata Arie.

Dia menjelaskan, instalasi reuse, reduce, recycle (3R) yang digunakan di Kecamatan Kalidoni menampung sampah yang faktanya 80 persen adalah jenis sampah organik. Apalagi, 90 persen dari sampah organik tersebut dapat diolah kembali. Sementara 20 persennya adalah sampah non organik.

“Sampah plastik kami olah menggunakan mesin pirolisis dan converter untuk dijadikan bahan bakar. Dari 100 kg sampah plastik dapat menjadi bahan bakar sekitar 100 liter berupa solar, minyak tanah, dan premium,” tandas Arie.

Sedangkan sampah organik diolah menjadi biogas. Selain itu sampah organik juga diolah menjadi pupuk organik, pupuk organik padat, serta penangkaran Maggot BSF. #nti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here