
Palembang, SumselSatu.com
Sektor kuliner tetap menjadi primadona bisnis dengan peluang menjanjikan, namun hanya mereka yang memiliki daya tahan tinggi yang mampu melewati fluktuasi pasar. Salah satu potret keberhasilan usaha mikro yang patut disimak adalah Ayam Geprek Ale.
Berlokasi di Jalan Sukakarya, Kecamatan Sukarami, Palembang, usaha ini membuktikan bahwa konsistensi rasa dan adaptasi digital adalah kunci pertumbuhan jangka panjang.
Didirikan pada tahun 2020, Ayam Geprek Ale muncul tepat saat pandemi Covid-19 mulai melanda Indonesia. Pak Rizal, sang pemilik, mengawali langkahnya dengan modal awal sebesar Rp10 juta. Modal tersebut dialokasikan secara efisien untuk menyewa ruko sederhana serta memenuhi kebutuhan operasional awal.
”Waktu awal berjualan di masa Covid, saya mulai dengan modal seadanya. Dari keuntungan yang didapat, saya putar kembali untuk modal kerja dan pengembangan usaha,” ujar Pak Rizal saat dibincangi, Jumat (17/4/2026).
Dalam dunia bisnis kuliner, product quality atau kualitas produk adalah segalanya. Pak Rizal sangat menyadari bahwa perubahan rasa sedikit saja dapat memicu churn rate atau beralihnya pelanggan ke kompetitor.
”Kalau rasa berubah, biasanya pelanggan langsung sadar dan pergi. Jadi, saya memastikan standar rasanya tetap sama sejak hari pertama berdiri,” tegasnya.
Selain kualitas produk, strategi penetapan harga (pricing strategy) yang kompetitif menjadi daya tarik utama bagi pangsa pasar mereka, yakni pelajar dan mahasiswa. Dengan harga ayam geprek mulai dari Rp9000 dan minuman mulai dari Rp5000, Ayam Geprek Ale mampu menjangkau daya beli semua kalangan masyarakat.
“Pembeli kami kebanyakan anak sekolahan dan mahasiswa, jadi kami tidak memasang harga yang terlalu tinggi. Harga Ayam Geprek tanpa nasi hanya Rp9000 dan harga minuman mulai dari Rp5000 saja, sehingga bisa dinikmati oleh semua kalangan,” jelas Pak Rizal.

Adaptasi Digital dan Diversifikasi Produk
Untuk memperluas jangkauan pasar, Ayam Geprek Ale melakukan transformasi digital dengan bergabung ke platform delivery online seperti GrabFood. Langkah ini terbukti efektif meningkatkan volume pesanan, terutama dari segmen pembeli jarak jauh dan pesanan katering untuk berbagai acara.
Selain itu, inovasi menu dilakukan dengan menambahkan varian minuman populer seperti es green tea untuk melengkapi menu utama, yang terbukti mendapatkan respon positif dari pelanggan.
“Alhamdulillah setiap hari mulai ramai orderan, kadang saya juga menerima pesanan buat acara acara. Saya juga tidak menyangka kalau usaha kecil kecilan yang saya bangun di masa Covid-19 bisa berkembang sampai sekarang ini,” katanya.
Perjalanan selama empat tahun terakhir tentu tidak mulus. Kenaikan harga bahan baku dan pembatasan aktivitas sosial saat masa karantina sempat membuat omzet menurun drastis. Namun, Pak Rizal memilih untuk tetap bertahan dan menjaga jam operasional toko.
“Namanya usaha pasti ada tantangannya, terutama di masa Covid-19, harga kebutuhan bahan-bahan mulai naik, kadang sepi pembeli. Tapi saya tidak pernah berhenti dan lanjut jalan saja dan buktinya saya bisa sampai sekarang,” kenang pria paruh baya itu.
”Setelah keadaan membaik, kami langsung tancap gas kembali, walaupun hasil penjualannya tidak seperti biasa tapi kami tetap buka. Kuncinya adalah sabar dan menjaga konsistensi agar basis pelanggan setia tidak hilang,” tambahnya.
Setelah melewati masa masa pandemi, akhirnya usahanya sedikit demi sedikit membaik, warungnya ramai pembeli dan banyak yang menjadi langganan. Peningkatan jumlah pelanggan ini juga berdampak ke pendapatan yang semakin meningkat.
Kini, kerja keras tersebut membuahkan hasil. Penjualan harian stabil di angka puluhan porsi dan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan basis pelanggan online.
Ayam Geprek Ale menjadi bukti nyata bahwa kesuksesan bisnis tidak selalu dimulai dari skala besar. Ketekunan dalam mengelola usaha kecil dapat membawa hasil signifikan jika dikelola dengan serius.
”Kunci utamanya adalah konsisten dan tidak mudah menyerah. Jika berani memulai, kita harus siap menghadapi risiko. Kalau dijalankan dengan serius dan konsiten, usaha pasti akan berkembang,” tutup Pak Rizal.
Keberhasilan Ayam Geprek Ale membuktikan bahwa di tengah kompetisi industri kuliner yang ketat, loyalitas pelanggan hanya dapat dibangun melalui integritas rasa dan keberanian untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.
Pada akhirnya, Ayam Geprek Ale bukan sekadar tentang sepiring ayam pedas, melainkan tentang potret perjuangan sebuah keluarga yang menolak menyerah pada keadaan dan memilih untuk tumbuh bersama kesetiaan para pelanggannya. (Penulis: Nadia Liza Adelia, Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tridinanti).
Profil Usaha
Nama Usaha: Ayam Geprek Ale
Tahun Berdiri: 2020
Sektor: Kuliner
Lokasi: Jalan Sukakarya, Kecamatan Sukarami, Kota Palembang
Keunggulan: Harga Kompetitif, Kualitas Rasa Konsisten, Tersedia di Platform Online










