Oleh: M Fathurrachman Madani Noer (NPM: 2301110103).
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang.
MAHASISWA sering kali diagungkan sebagai aset paling berharga dalam dunia pendidikan. Sebagai generasi intelektual, mereka dinilai memiliki semangat, kreativitas, dan kapasitas besar untuk membawa perubahan. Tidak mengherankan jika institusi kampus terus mendorong mahasiswa untuk aktif dalam berbagai lini kegiatan, baik akademik maupun non-akademik, mulai dari organisasi, seminar, perlombaan, kepanitiaan, hingga program promosi kampus.
Semua aktivitas tersebut selalu dikemas dengan narasi motivasi yang memikat investasi pengalaman, perluasan relasi, pengembangan diri, dan jaminan masa depan yang lebih cerah. Namun, di balik jargon-jargon idealis itu, sebuah kegelisahan mulai menyeruak di kalangan akar rumput. Apakah mahasiswa benar-benar diberdayakan, atau justru sedang dimanfaatkan?
Dalam realitas kehidupan kampus saat ini, mahasiswa aktif kerap kali beralih fungsi menjadi “ujung tombak” bagi berbagai kepentingan pragmatis institusi. Ketika kampus membutuhkan peserta lomba untuk membawa nama baik universitas, mahasiswa dicari. Saat kampus mengadakan acara besar, mahasiswa dilibatkan sebagai panitia utama. Ketika proses akreditasi berlangsung, mahasiswa kembali diminta berpartisipasi demi memperkuat citra kampus di mata penilai.
Bahkan dalam berbagai kegiatan promosi, mahasiswa sering dijadikan wajah utama untuk menunjukkan bahwa kampus memiliki lingkungan akademik yang aktif dan berkualitas. Pada dasarnya, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kampus memang bukan sesuatu yang salah. Kampus dan mahasiswa seharusnya dapat saling bekerja sama demi menciptakan lingkungan pendidikan yang berkembang. Melalui organisasi dan kegiatan kampus, mahasiswa juga bisa memperoleh pengalaman yang tidak didapatkan di ruang kelas.
Namun persoalan muncul ketika keterlibatan tersebut tidak lagi didasari semangat pengembangan diri, melainkan karena tuntutan yang dibungkus dengan janji-janji manis yang sering kali tidak ditepati. Tidak sedikit mahasiswa yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya pribadi demi menyukseskan kegiatan kampus.
Mereka bekerja hingga larut malam, membagi waktu antara kuliah dan kepanitiaan, serta menghadapi tekanan akademik yang tetap berjalan seperti biasa. Semua itu dilakukan demi menjaga nama baik institusi dan memenuhi harapan pihak kampus.
Akan tetapi, setelah kegiatan selesai, apresiasi yang diterima sering kali terasa tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah diberikan. Janji mengenai sertifikat, bantuan dana, nilai tambahan, dispensasi akademik, fasilitas yang lebih baik (organisasi) hingga dukungan terhadap mahasiswa kerap menjadi alasan utama agar mahasiswa bersedia terlibat.
Sayangnya, tidak sedikit mahasiswa yang justru harus mengejar sendiri hak yang sebelumnya dijanjikan. Ada yang harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan sertifikat, ada yang tidak memperoleh kejelasan mengenai bantuan yang dijanjikan, bahkan ada pula yang akhirnya hanya menerima ucapan terima kasih tanpa bentuk apresiasi yang nyata.
Fenomena seperti ini perlahan menimbulkan rasa kecewa di kalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa mulai merasa bahwa semangat dan loyalitas mereka hanya dibutuhkan ketika kampus memiliki kepentingan tertentu. Ketika mahasiswa diminta membantu demi nama baik institusi, mereka dianggap penting. Namun setelah tugas selesai, keberadaan dan kebutuhan mereka sering kali tidak lagi menjadi prioritas.
Budaya akademik seperti ini juga dapat berdampak pada kesehatan mental mahasiswa. Tuntutan untuk selalu aktif sering membuat mahasiswa merasa bersalah jika menolak kegiatan kampus. Di sisi lain, mereka juga harus menghadapi tekanan tugas kuliah, tanggung jawab pribadi, dan ekspektasi sosial.
Akibatnya, banyak mahasiswa mengalami kelelahan fisik maupun mental karena merasa terus dituntut untuk memberi, tetapi jarang benar-benar dihargai.
Ironisnya, budaya ini terkadang dianggap sebagai hal yang normal dalam kehidupan kampus. Mahasiswa yang mengeluh sering dicap tidak loyal, kurang aktif, atau tidak memiliki semangat organisasi. Padahal, kritik terhadap sistem yang tidak adil seharusnya menjadi bagian penting dalam dunia akademik. Kampus sebagai tempat lahirnya pemikiran kritis seharusnya mampu menciptakan hubungan yang sehat antara institusi dan mahasiswanya, bukan justru membentuk budaya yang membuat mahasiswa merasa dimanfaatkan.
Kampus memang membutuhkan mahasiswa aktif untuk berkembang, tetapi mahasiswa juga membutuhkan lingkungan akademik yang menghargai kontribusi mereka secara nyata. Apresiasi tidak harus selalu berupa materi, tetapi setidaknya ada kejelasan, tanggung jawab, dan komitmen terhadap apa yang telah dijanjikan. Jangan sampai semangat mahasiswa terus dimanfaatkan demi pencitraan institusi tanpa memperhatikan kesejahteraan mereka sendiri.
Mahasiswa bukan hanya alat untuk memperindah nama kampus. Mereka adalah individu yang memiliki hak untuk dihargai, didengar, dan diperlakukan secara adil. Dunia akademik seharusnya menjadi tempat bertumbuh bersama, bukan tempat di mana loyalitas mahasiswa dibalas dengan janji yang perlahan dilupakan.
Menuntut keadilan dan transparansi dari institusi bukan berarti mahasiswa tidak loyal, melainkan bentuk kepedulian agar kampus tidak kehilangan moralitas akademiknya. Jika kampus ingin terus berkembang melalui kontribusi mahasiswa, maka penuhilah janji dan hak-hak mereka secara nyata. Jangan biarkan semangat dan idealisme generasi muda ini padam, hanya karena mereka lelah dijadikan komoditas pencitraan yang setelah selesai, langsung dikesampingkan.
Mahasiswa berhak atas apresiasi yang nyata, kejelasan komitmen, dan lingkungan akademik yang sehat. Sebab pada ujungnya, kualitas sebuah universitas tidak diukur dari seberapa megah acara yang berhasil digelar oleh mahasiswanya, melainkan dari seberapa adil kampus menghargai keringat mereka. *










