Pabrik TI-POM Olah Kelapa Sawit Hasil Kebun Plasma

170
PABRIK---Seorang pekerja di pabrik Terawas Indah Palm Oil Mill (TI-POM) di Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Selasa (2/10/2018). (FOTO: SS1/HENGKY C AGOES)

Muratara, SumselSatu.com

Kepala Humas PT PP Lonsum Palembang Sohirin, SE, menyampaikan, pabrik Terawas Indah Palm Oil Mill (TI-POM) di Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), mengelolah buah kelapa sawit plasma milik masyarakat.

Sohirin mengatakan, kebun inti kelapa sawit hanya lima persen milik PT PP Lonsum Indonesia Tbk. Sisanya, sebanyak 95 persen kebun buah kelapa sawit plasma milik masyarakat.

“Pabrik ini memang khusus untuk kebun kelapa sawit plasma masyarakat. Tenaga kerja juga 60 persen dari masyarakat lokal yang menggantungkan kehidupan dari aktivitas pabrik,” katanya, Selasa (2/10/2018).

Sebelumnya dia mengatakan, pihaknya telah menyampaikan data ketenagakerjaan di pabrik TI-POM ke Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Muratara.

“Data tenaga kerja yang dimiliki telah disampaikan ke Dinas Ketenagakerjaan dan pihak kecamatan setempat. Semua yang bekerja merupakan warga sekitar perusahaan,” ujar Sohirin,

Dia mengatakan, berdasarkan data yang dimiliki, 60 persen tenaga kerja berasal dari masyarakat local, seperti Dusun V, Desa Rantau Jaya Kecamatan Karang Jaya. Yakni, 80 orang.

Disampaikan Sohirin, pengolahan limbah, manajemen sangat memperhatikan aturan. Secara periodik melaporkan hasil pemantauan lingkungan ke Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan UPTD Laboratorium Hidup Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Bahkan, Dinas Lingkungan Hidup Muratara juga turun melakukan pengecekan di lapangan secara berkesinambungan. Dia mengatakan, pihaknya membuka diri kepada instansi terkait melakukan verifikasi, baik tenaga kerja dan pengolahan limbah.

Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) TI-POM Hanafi mengatakan, telah bekerja di pabrik sejak 2004. Putera daerah Karang Jaya itu menyatakan, mengetahui siapa saja tenaga kerja lokal yang bekerja di pabrik.

“SPSI TI-POM juga memberikan laporan kepada Disnaker untuk masalah tenaga kerja. Diharapkan para putra daerah bersama-sama membangun daerah ini. Berikan data yang akurat jangan sampai putra daerah di sekitar perusahaan yang mengantungkan hidup di pabrik plasma masyarakat ini menjadi korban atas kepentingan individu atau kelompok,” kata Hanafi.

Herman (40), operator pabrik TI-POM menuturkan, dirinya telah 13 tahun bekerja di pabrik tersebut. Bahkan, sejak awal berdirinya pabrik, masyarakat sekitar banyak yang tidak mau bekerja di pabrik.

“Dulu, tidak ada yang mau kerja di sini. Sekarang sudah banyak yang kerja. Mayoritas tenaga kerja lokal. Kami berharap jangan sampai masyarakat lokal yang menggantungkan hidup di pabrik ini menjadi korban pihak yang memiliki kepentingan sesaat. Karena, kami jadi garda depan mempertahankan kelangsungan hidup kami di pabrik ini,” katanya. #gky

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here