Polisi Sebut Keterlibatan Jamaah Anshar Daulah

87
Ansyaad Mbai

Jakarta, Sumselsatu.com – Polisi menduga adanya keterlibatan Jaringan Jamaah Anshar Daulah (JAD) dalam aksi bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur Rabu (24/5/2017) lalu itu. Polisi menyebut jika pola serangan yang dilakukan mirip dengan JAD.

Hal tersebut dikatakan oleh mantan kepala Badan Nasional Penanggulangan Teorisme (BNPT) Ansyaad Mbai. Menurutnya, apabila bom bunuh diri di Kampung Melayu itu berkaitan dengan bom panci yang terjadi di Bandung maka bisa dipastikan jaringan itu adalah JAD.

“Iya kalau benar ada kaitan dengan bom panci di Bandung yang lalu, maka ini sudah pasti dari jaringannya ya itu JAD, ada lagi yang baru juga, itu variabel dari JAD, nama meraka bisa macam-macam tapi orangnya itu-itu saja,” ujar Ansyaad, Kamis (25/5/2017) kemarin.

Ansyaad menjelaskan, pasca terungkapnya jaringan teror seperti Jemaah Islamiyah (JI), Jemaah Ansharut Tauhid (JAT) dan Negara Islam Indonesia (NII), munculah jaringan teror pecahan dari kelompok-kelompok tersebut. Mereka diketahui menggunakan nama baru untuk melancarkan aksi terornya.

“Ya iya, jadi gini, dulu kan sebelum ISIS kan kita tahu induknya ada JI, kemudian JAT, ada juga NII kemudian mereka sudah terungkap, semua banyak yang tertangkap. Ya mereka banyak muncul sempalan-sempalan berbagai macam nama tetapi simpulnya tetap saja induknya ya JI, JAT NII,” jelasnya.

Saat mendengar adanya ISIS, kelompok-kelompok teror pecahan itu kemudian berbaiat kepada ISIS. Begitu pula JAD yang hari ini santer diberitakan terlibat dalam aksi bom di Kampung Melayu.

“Nah ini sempalan-sempalan ini dengan munculnya ISIS, itu mereka semua otomatis berbaiat ke ISIS,” tutur Ansyaad.

Pola perekrutan dalam gerakan teror ini pun semakin berkembang dengan menggunakan media sosial sebagai sarananya. Hal ini pula yang menjadikan polisi mudah dalam mengidentifikasi dan membongkar kelompok-kelompok tersebut.

“Pola perekerutan sederhana sekali, bisa lewat medsos itu, ya kalau dulu orang diajak berdasarkan jalur kekeluargaan atau pernah sama-sama dalam satu lembaga pendidikan, ya kalau sekarang tidak perlu. Itu mereka bisa dari lewat medsos, ada yang tertarik, ya otomatis dia ikut. Dia berbaiat ISIS, dia dilatih juga,” tutur Ansyaad.

Menurut Ansyaad, jaringan JAD di Indonesia ini bisa dikatakan sebagai kelompok kecil. Mereka berangkat dari pemahaman radikal dan penafsiran yang keliru terhadap doktrin-doktrin agama.

“Umumnya kelompok-kelompok kecil dan namanya itu tidak terlalu penting, yang penting mengusung pemahaman. Satu mindset yang bersumber dari paham-paham radikal. Sebetulnya sumbernya dari pemahaman yang dangkal, penafsiran keliru terhadap doktrin-doktrin agama,” tuturnya.

Jaringan teror ini pun, sambung Ansyaad, tak terlalu mempermasalahkan tempat dalam melancarkan aksinya. Mereka memilih secara acak, asalkan ada keramaian dan bisa menimbulkan kekhawatiran kepada banyak orang.

“Kalau tempat tidak terlalu masalah. Ya di mana saja mereka mendapatkan kesempatan di situ mereka melihat dan mempunyai target, yang penting ada banyak orang, ada pejabat, target yang paling strategis sekali tapi itu tidak terlalu penting, yang paling penting buat mereka bisa melakukan serangan itu,” tutupnya. (min/dtc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here