
Palembang, SumselSatu.com
Kesultanan Palembang Darussalam menggelar kegiatan budaya Tepung Tawar. Tradisi itu dilakukan sebagai tanda memaafkan komika asal Palembang Ali Alkaf terkait materi stand-up yang menuai sorotan setelah potongan videonya beredar di media sosial (Medsos).
Kegiatan dilakukan di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam di Jalan Sultan M Mansyur, Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat (IB) II, Kota Palembang, Jumat (25/9/2026) sore lalu. Acara dipimpin Sultan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja, SH, MKn.
Fauwaz Diradja mengatakan, kegiatan yang dilakukan merupakan Tepung Tawar perdamaian.
“Karena kami telah menyelesaikan masalah cempalo mulut yang dilakukan komika Ali Alkaf, atas ucapannya yang menyebabkan orang lain tidak nyaman, yang dapat diselesaikan dengan baik dan saling memaafkan,” ujarnya.
Fauwaz berharap komika lainnya tidak boleh menyinggung hal-hal sensitif yang berakibat cempalo mulut yang tidak diterima masyarakat Palembang.
“Alhamdulillah Beliau (Ali Alkaf-red) telah menyadari perbuatannya, masyarakat Palembang menerima atas permintaan maaf mereka,” kata Fauwaz.
Tepung Tawar merupakan salah satu bentuk contoh restorative justice (RJ) atau keadilan restoratif.
“Semua permasalahan yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan tidak perlu sampai ke meja persidangan yang memakan waktu hingga biaya, termasuk permusuhan. Dengan cara ini (Tepung Tawar-red), kita tidak akan mendapatkan musuh tapi keluarga baru dan silaturrahmi yang erat,” kata Fauwaz.
Ali Alkaf berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan maaf kepada dirinya secara kekeluargaan dengan menggunakan budaya Tepung Tawar.
“Saya juga sebelum ini belum tahu kalau selama ini kita ada tradisi Tepung Tawar, jadi di balik hikmah kejadian ini, saya lebih mengenal budaya Palembang, jadi saya pribadi mohon maaf sebesar-besarnya,” kata Ali.
Pangeran Suryo Febri Irwansyah mengatakan, Tepung Tawar merupakan warisan kebudayaan dalam adat Palembang dan budaya Melayu yang berfungsi sebagai simbol musyawarah mufakat, penyelesaian kesalahpahaman, serta pemulihan keadaan.
Tradisi Tepung Tawar menggunakan simbol seperti tepung beras yang ditumbuk untuk ‘membuat tawar’ atau menormalisasi keadaan yang sempat tegang. Tujuannya adalah agar pihak-pihak yang terlibat bisa saling memaafkan dan membersihkan nama baik.
Dalam Kitab Simboer Cahaya, jika terjadi suatu kekhilafan atau kejadian yang merugikan pihak lain, maka diadakan pertemuan adat yang disimbolkan dengan Tepung Tawar. Selain untuk menyelesaikan konflik Tepung Tawar juga bermakna menghalau mudarat, memohon keselamatan, serta ungkapan rasa syukur dalam fase hidup yang baru.
Makanan wajib dalam tradisi harus ada Ketan Kunyit (Pulut Kuning) yang memiliki tekstur lengket melambangkan keeratan hubungan silaturrahmi, persaudaraan, atau kerukunan yang tidak mudah terputus. Warna kuning dari kunyit melambangkan kemuliaan, keagungan, dan harapan akan kemurahan rezeki.
Kemudian ayam panggang utuh melambangkan kebulatan tekad, kesucian niat, serta pengorbanan untuk menetralisasi hal-hal buruk menjadi kebaikan demi mencapai perdamaian dan keselamatan bersama.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Desi Muharman, SPd, MSi menyambut baik kegiatan yang dilakukan Kesultanan Palembang Darussalam.
“Ini merupakan warisan leluhur kita dalam cara menyelesaikan masalah, dan kegiatan ini bisa disosialisasikan hingga dimasukan dalam bagian tata cara dan adat di kemudian hari,” ujarnya.
Tradisi Tepung Tawar telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.
Potongan video Ali Alkaf diunggah melalui akun TikTok Somasi Community (SC). Dalam materi yang dibawakan, Ali membahas secara satir Perang 5 Hari 5 Malam di Palembang yang berlangsung pada 1-5 Januari 1947. Materi tersebut antaralain mempertanyakan durasi perang yang disebut berlangsung selama lima hari lima malam. Ali kemudian menyampaikan sejumlah lelucon yang menggambarkan situasi peperangan, termasuk mengenai bekal makanan, pelayanan kesehatan, hingga interaksi antara tentara Palembang dan Belanda.
Pada bagian lainnya, materi tersebut menyinggung Sultan Palembang dalam penggambaran pertemuan dengan pihak Belanda setelah beberapa hari peperangan. Dalam candaan itu, kemenangan Palembang kemudian dikaitkan dengan penggunaan batu cincin. #doed









