
Palembang, SumselSatu.com
Di saat sebagian pihak kerap abai dengan menutup atau menimbun aliran air, sebuah gebrakan nyata justru ditunjukkan oleh Komunitas Masyarakat Peduli Sungai Peduli Banjir dan Lingkungan Kota Palembang. Komunitas yang diisi oleh kolaborasi para Ketua RT, RW, dan tokoh masyarakat ini berhasil melakukan aksi anti-mainstream dengan membuka dan membuat anak sungai baru demi menyelamatkan wilayah mereka dari kepungan banjir.
Ketua Komunitas Syamsul mengungkapkan bahwa inisiatif ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi geografis Kelurahan 16 Ulu, khususnya di wilayah sekitar tempat tinggal mereka. Setiap kali pasca-terjadinya iklim dengan curah hujan tinggi, titik-titik genangan air selalu muncul dan bertahan lama.
”Masalah utama banjir di 16 Ulu ini dipicu oleh saluran air yang hampir tidak ada yang standar. Akibatnya, air tergenang lama dan merusak infrastruktur jalan di sekitarnya. Kalau orang lain di luar sana sibuk menutup sungai untuk bangunan, komunitas kami justru bergerak sebaliknya, kami membuat anak sungai baru agar aliran air memiliki jalan keluar,” tegas Syamsul dengan bangga.
Menurut Syamsul, aksi swadaya komunitas ini pun mendapat respons positif dari pemerintah. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) telah turun tangan membangun talud (dinding penahan tanah) di beberapa lokasi penampungan air baru tersebut agar aliran air dapat mengalir lancar menuju sungai utama.
Meski demikian, Syamsul mengakui bahwa pekerjaan rumah di lapangan masih menumpuk karena keterbatasan anggaran.
”Usulan kami ke Dinas PUPR memang sudah dimulai dan dibangun di beberapa tempat, namun masih ada beberapa titik krusial lainnya yang belum bisa tersentuh pembangunan. Oleh karena itu, kami sangat memohon bantuan kepada bapak dan ibu di DPRD Sumsel untuk mendorong percepatan pembangunan infrastruktur yang belum selesai ini,” lanjutnya.
Syamsul menyampaikan hal itu di hadapan Anggota DPRD Sumsel dari Daerah Pemilihan (Dapil) I yang melaksanakan Reses Masa Sidang VI/2026 di Masjid Besar KH Balkhi, Kelurahan 16 Ulu, Senin (6/7/2026).
Tak hanya sekadar memikirkan fungsi saluran air, komunitas yang visioner ini juga berharap kawasan anak sungai yang sudah dibangun talud oleh Dinas PUPR dapat dikembangkan menjadi ruang publik yang fungsional dan estetis bagi warga sekitar.
Dalam kesempatan tersebut, Syamsul menitipkan aspirasi kepada Anggota DPRD Provinsi Sumsel untuk membantu melengkapi fasilitas di area talud yang sudah ada agar tampak cantik dan indah. Kebutuhan fasilitas yang diusulkan antara lain pemasangan lampu penerangan jalan dan hias di sepanjang talud, penyediaan jaringan utilitas yang rapi dan koordinasi bersama pihak PLN untuk instalasi daya.
Selain penataan estetika anak sungai, Syamsul juga mendesak adanya perhatian serius dari legislatif terkait perbaikan jalan-jalan lingkungan yang telanjur rusak parah akibat terlalu lama terendam genangan banjir sebelum dibersihkan.
Sinergi kuat antara komunitas akar rumput yang beranggotakan para perangkat RT/RW ini diharapkan dapat menjadi pilot project (proyek percontohan) bagi kecamatan lain di Kota Palembang dalam hal mitigasi banjir berbasis kepedulian masyarakat.
Setelah mendengarkan penjelasan Syamsul, Koordinator Reses Dapil Sumsel I Masa Sidang VI/2026 Chairul S Matdiah, memberikan respon postif. Chairul bahkan meminta Syamsul menyerahkan proposal secara tertulis.
“Anggarannya jangan terlalu besar, nanti sulit direalisasikan. Yang wajar saja sesuai kebutuhan,” ujar Chairul.
Chairul juga mengaku sangat terkejut sekaligus kagum. Ia menegaskan akan mengawal penuh usulan komunitas ini pada penganggaran berikutnya.
”Jujur, kalau saya tahu dari awal kondisi dan pergerakan di lapangan seperti ini, mungkin anggaran jalan di RT 53 belum kita laksanakan dulu dan dialihkan ke sini. Komunitas ini benar-benar luar biasa dan harus menjadi contoh bagi wilayah lain. Selama kami melakukan kunjungan kerja (kunker), belum pernah kami menemukan kelompok masyarakat yang bergerak dengan rasa ikhlas dan sekonkret ini,” ujar Chairul.
Anggota DPRD Sumsel dua periode ini pun langsung memberikan garansi politik bagi keberlanjutan program komunitas tersebut.
“Insya Allah, pada tahun anggaran 2027 nanti, seluruh kekurangan fasilitas talud, lampu, hingga perbaikan jalan akibat banjir di wilayah ini akan kami jadikan prioritas utama,” tegasnya.
“Ini telat melaporkannya, tapi tidak apa-apa, tahun 2027 akan kita anggarkan,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Anggota DPRD Sumsel Aryuda Perdana Kesuma, SSos, menyatakan bahwa gerakan swadaya di Kelurahan 16 Ulu ini merupakan sebuah terobosan sosial yang sangat langka dan berharga. Ia berharap gerakan ini mewabah ke seluruh wilayah di Kota Palembang.
”Harapan kita, tiap kelurahan di Palembang memiliki komunitas seperti ini. Ini harus dicontoh oleh daerah lain. Apa yang kita lihat di sini adalah bentuk nyata dari sinergi dan kerja sama yang ideal antara pemerintah dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah perkotaan,” ujar Aryuda.
Aryuda juga mengapresiasi langkah taktis komunitas yang berkolaborasi dengan Dinas PUPR dalam pembuatan talud di sepanjang aliran baru tersebut.
“Dengan adanya talud di anak sungai yang baru dibuka ini, aliran air pasca-hujan deras akan langsung teralirkan dengan baik. Semoga dengan tuntasnya pembangunan infrastruktur ini kelak, tidak ada lagi banjir yang merendam pemukiman warga,” katanya. #fly









